Lupa Sandi?

Larantuka, Satu-satunya Kerajaan Katolik di Nusantara

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Larantuka, Satu-satunya Kerajaan Katolik di Nusantara

Berbicara mengenai kerajaan di nusantara, benak kita secara otomatis langsung tertuju pada kerajaan di bawah pengaruh Hindu, Budha, ataupun Islam. Namun, tidak banyak yang tahu jika ternyata Indonesia juga memiliki kerajaan Katolik.

Larantuka, sebuah kerajaan yang berdiri pada abad ke 17 dengan latar belakang agama katolik, terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kerajaan ini muncul setelah Majapahit runtuh dan masuknya kolonialisasi dari bangsa Eropa.

Walalupun masih simpangsiur, tetapi menurut masyarakat setempat, kerajaan ini semula didirikan oleh seorang tokoh bernama Watowele, yang berasal dari Gunung Ile Mandiri, bersama dengan Pati Golo Arakian, keturunan dari kerajaan Wahale.

Tidak seperti kerajaan di Jawa dan Sumatera yang memiliki cakupan wilayah kekuasaan yang luas, Larantuka tergolong kerajaan yang kecil, baik secara luas wilayah maupun kebudayaan yang membentuknya. Wilayah dari Larantuka sendiri banyak diisi oleh berbagai pendatang seperti dari Jawa dan Ambon.

Baca Juga
bangunan kerajaan larantuka (foto: springocean83.wordpress.com)
bangunan kerajaan larantuka (foto: springocean83.wordpress.com)

Masuknya agama katolik pada kawasan ini tidak terlepas dari pengaruh Portugis. Pada awalnya, kawasan Larantuka dijadikan sebagai daerah transit dari Malaka menuju Maluku. Namun, karena komoditas yang dihasilkan oleh wilayah ini sangat laku di perdagangan internasional, Portugis pun tertarik membangun koloni. Semangat penyebaran agama pun tidak terlepas dari kondisi ini.

Kerajaan Larantuka mengalami lika-liku sejak berdiri dari tahun 1600. Setelah sebelumnya dikuasai oleh Portugis, kerajaan ini jatuh di tangan Belanda pada tahun 1859, setelah adanya konflik antara Portugis dengan Belanda. Meski begitu, semua kegiatan ritual tetap dilakukan seperti sebelumnya.

Setelah menguasai selama kurang dari 50 tahun, kerajaan ini pun akhirnya dibubarkan oleh Belanda. Namun pemilihan raja baru tetap dilakukan oleh masyarakat dari waktu ke waktu. Hinggga saat ini, hanya tersisa istana, raja, dan beberapa keturunan yang masih memegang teguh adat dari kerajaan katolik satu-satunya di Indonesia ini.

salah satu perayaan di kerajaan larantuka (foto: maryantosilvester.blogspot.com)
salah satu perayaan di kerajaan larantuka (foto: maryantosilvester.blogspot.com)

Ritual adat

Meskipun ajaran katolik masuk dalam kerajaan ini, namun ritual yang telah ada sejak zaman leluhur tetap dilakukan. Salah satunya yang tidak bisa ditinggalkan adalah ritual persembahan hewan ternak pada setiap upacara tradisional.

Pengorbanan hewan dilakukan untuk meminta berkah pada sang pencipta. Tak hanya itu, persembahan hewan ini juga dilakukan untuk meramalkan hal yang akan terjadi. Peramalan ini dilakukan oleh ketua suku dengan melihat urat hewan yang disembelih. Uniknya, jika hasil dari ramalan tersebut adalah kabar baik, maka semua orang akan bersukacita. Sebaliknya, jika hasilnya adalah kabar buruk, maka semua orang akan melakukan musyawarah untuk menemukan penyelesaiannya.

Raja Larantuka

Setelah masuknya agama katolik di bawah pengaruh Portugis, raja yang memerintah telah dibaptis menggunakan nama kristen, disamping gelar dan nama asli, menggunakan marga Diaz Viera de Godinho (DVG) dengan gelar Don.

Sebagai Kerajaan Katolik, raja memiliki kekuasaan dan peran dalam urusan agama. Misalnya, raja memiliki wewenang untuk mengatur kegiatan mengaji semana, doa selama masa prapaskah secara bergilir. Selain itu, raja juga dianggap sebagai sosok yang berhak membuka pintu Kapela Tuan Ma untuk memulai segala upacara yang akan diselenggarakan. Tidak hanya itu, raja juga memiliki posisi penting dalam Prosesi Jumad Agung.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga61%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau16%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata