Lupa Sandi?

Belajar Dari Teras Utara Negeri

Arvida Rizzqie Hanita
Arvida Rizzqie Hanita
0 Komentar
Belajar Dari Teras Utara Negeri

Tahukah kamu tentang pulau yang disebut dengan "Teras Utara Negeri", terletak dimanakah itu? Mungkin bagi sebagian orang pulau yang termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia ini masih terdengar asing di telinga. Pulau Sebatik namanya, pulau kecil yang berdiri di paling ujung utara Indonesia terletak di kabupaten Nunukan, provinsi Kalimantan Utara. Posisi dari pulau Sebatik berbatasan langsung dengan daratan Malaysia atau biasa dikenal dengan sebutan Sebatik Malaysia atau Tawau.

Peta pulau Sebatik

Peta pulau Sebatik (sumber: kaltaranews.wordpress.com)

Pulau Sebatik terbagi atas 5 wilayah kecamatan, yaitu kecamatan Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Utara, Sebatik Timur dan Sebatik (induk).  Luas wilayah pulau Sebatik adalah sekitar 433 meter persegi dengan populasi pendudukanya lebih dari satu juta jiwa yang terdiri atas suku Bugis, Timor, Jawa, dan beberapa masih ada suku Dayak Tidung. (Sumber: Wikipedia.com)

Membahas tentang pulau Sebatik ini, berarti sama saja kita berdiskusi tentang nasionalisme yang terbentuk di pulau Sebatik sendiri. Jangan salah, meskipun pulau ini berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia, namun rasa nasionalisme cukup diacungi jempol. Namun demikian, mereka memang masih saja memusatkan perbelanjaannya ke wilayah kota Tawau, Malaysia. Dimana produk mentah dibeli dari Indonesia, sedangkan warga kita langsung mengenyam produk olahan Malaysia.

Baca Juga
Bandar Tawau

Bandar Tawau (sumber: asriperkebas.blogspot.co.id)

Pendidikan di Pulau Sebatik

Terlepas dari produk-produk yang dihasilkan Malaysia dan dikonsumi oleh masyarakat di pulau Sebatik, rupanya disegi yang lain ada hal yang patut disorot, yaitu dari segi pendidikan di pulau Sebatik. Warga masyarakat Sebatik merupakan warga transmigran, rata-rata penduduknya berasal dari suku Bugis, Timor, dan sebagian Dayak Tidung. Salah satu kecamatan di pulau Sebatik, yaitu kecamatan Sebatik Tengah, adalah salah satu kecamatan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan daerah Malaysia.

Di kecamatan Sebatik Tengah terdapat 6 Sekolah Dasar Negeri, 1 Madrasah Ibtidaiyah, 2 Sekolah Menengah Pertama, dan 1 Sekolah Menengah Atas. Melihat kondisi di daerah perbatasan, mungkin akan banyak orang mempertanyakan bagaimana tingkat pendidikan di daerah ini? Rupanya meskipun tinggal di daerah terluar Indonesia, mereka juga masih mengenyam pendidikan seperti selayaknya di tempat lain. Mereka sadar akan pentingnya pendidikan dan mencari ilmu.

Sekolah di pulau Sebatik

Sekolah di pulau Sebatik (sumber: tribunnews.com)

Dari segi pembelajaran untuk orang tua sendiri, sekitar 3 tahun yang lalu banyak warga yang masih buta aksara terutama untuk tingkatan orang tua di atas umur 35 tahun. Lalu terbentuklah sebuah gerakan yang dihimpun oleh inisiasi warga yang mempunyai pendidikan tinggi dan didukung penuh oleh pihak kecamatan Sebatik Tengah.  Akhirnya dari pengajaran yang dilakukan setidaknya 3 kali dalam seminggu ini membuahkan hasil. 3 desa dari 4 desa di kecamatan ini pun dinyatakan lolos dari buta aksara.

Pengajaran untuk masyarakat buta aksara

Pengajaran untuk masyarakat buta aksara (sumber: generasibaktinegeri.wordpress.com)

Selain itu, dilihat dari remaja SMP maupun SMA juga turut antusias untuk menjenjang sekolah yang lebih tinggi. Mereka berlomba-lomba bertanya dengan beberapa orang yang dikenalnya untuk dapat melanjutkan kuliah atau sekolah menengah atasnya. Kebetulan, beberapa tahun terakhir ini relawan pengajar, kesehatan maupun tim KKN dari berbagai Universitas terkemuka di Indonesia selalu turut serta untuk pengembangan pendidikan dan pengembangan masyarakat, khususnya di wilayah Sebatik Tengah. Sehingga hal ini menjadi bahan inspirasi bagi remaja-remaja SMP dan SMA yang masih mempunyai jenjang pendidikan dan melanjutkan cita-cita mereka ke lebih tinggi.

Pun demikian dengan anak-anak sekolah dasarnya. Semangat belajarnya masih tinggi, meskipun beberapa anak terkadang juga malas namun orang tuanya selalu menekankan anak-anaknya tetap berangkat sekolah. Menurut orang tua mereka, pendidikan adalah salah satu cara untuk dapat membantu orang tua, karena dengan bersekolah mereka akan mendapatkan ilmu, lebih pintar dari ayah ibunya dan bahkan dapat menggapai cita-cita mereka.

Mendapat surat dari Sahabat Pena

Mendapat surat dari Sahabat Pena (sumber: dokumentasi pribadi)

Talkshow di Kampus Expo
Talkshow di SMA N 1 Sebatik Tengah  (sumber: dokumentasi pribadi)

Perjalanan Menuju Sekolah

Banyak pasti pertanyaan oleh beberap orang yang mungkin berbeda kehidupan dari warga di pulau Sebatik terutama dalam masalah transportasi. Transportasi untuk mencapai pulau Sebatik dilalu dengan menggunakan speed boot atau perahu, sekitar 15-20 menit dari kota kabupaten. Setelah itu, untuk mencapai kota atau kecamatan-kecamatan tertentu dapat dilalui dengan menggunakan taksi (sebutan untuk sejenis mobil Avansa) dan sepeda motor.

Nah, untuk murid-murid di daerah ini (khusus di kecamatan Sebatik Tengah) jarak rumah dan sekolah mereka cukup jauh. Beberapa ada yang dapat dilalui dengan sepeda motor dan taksi atau bahkan jalan kaki. Perjalanan mereka pun tidak tanggung-tanggung jika berjalan kaki, untuk mencapai sekolah mereka harus berjalan hampir 2 jam lamanya melewati perkebunan kelapa sawit, coklat dan pisang. Lebih menantang adalah siswa yang tinggal di daratan Malaysia, atau kecamatan yang lain. Mereka bangun pagi pukul 4 shubuh, mandi, sholat shubuh lalu pukul 5 pagi mereka harus sudah berjalan dari rumah menuju ke sekolah.

Kebun Coklat menuju daratan Sebatik Malaysia

Kebun Coklat menuju daratan Sebatik Malaysia (sumber: dokumen pribadi)

Setelah itu, beberapa anak SMP atau SMA harus segera bergegas melanjutkan perjalanannya kembali dengan menggunakan bus sekolah. Jarak dari tempat bus menuju ke sekolahnya sekitar 5 kilometer, dengan kisaran penumpang lebih dari 100 penumpang yang seharusnya bus hanya dapat diisi oleh kurang lebih 50 penumpang saja.  Bus sekolah ini pun hanya satu-satunya di wilayah kecamatan Sebatik Tengah dan mengantarkan siswa SMP-SMA menuju ke sekolahnya.

Paling mengagumkan adalah, perjuangan mereka untuk menuntut ilmu sangat tinggi. Meskipun perjalanan dari rumah menuju ke sekolahnya sangat jauh, anak-anak di ujung batas negeri ini tidak berfikir hidupnya terbatas. Mereka yakin dengan mimpi mereka yang nantinya akan tercapai. Perjalanan hanyalah sebuah proses yang harus dilalui untuk menuntut ilmu. Di satu sisi dari sebuah proses itulah harapan yang mereka impikan semoga kelak akan menjadi sebuah harapan sungguhan.

4 sekawan

4 sekawan (Bugis, Timor, Tator) (sumber: dokumentasi pribadi)

Di sisi lain, rasa toleransi umat beragama di wilayah ini juga menarik perhatian. Anak-anak di daerah perbatasan memang terdidik untuk dapat menerima perbedaan itu. Meskipun memang belum semua sekolah, namun beberapa sekolah sudah menerapkan rasa toleransi umat beragama bahkan suku.  Ada kehidupan keberagaman yang nyata di daerah ini, dari suku Bugis, Jawa, Timor, dan Dayak semuanya bercampur menjadi "Bhineka Tunggal Ika".

Sebagai bahan refleksi diri apapun wilayahnya, bagaimanapun wilayahnya itu tetap negeri Indonesia yang keberagamannya sudah mengakar.

 Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga71%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARVIDA RIZZQIE HANITA

Just ordinary me! :) ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas