Lupa Sandi?

Menilik Cara Orang Jawa Menghitung Nasib

Ahda Fariha
Ahda Fariha
0 Komentar
Menilik Cara Orang Jawa Menghitung Nasib

Kawan GNFI pernah mendengar istilah weton? Istilah yang terdengar akrab di masyarakat Jawa ini memang seringkali dianggap sebagai ramalannya orang Jawa. Lalu apa sebenarnya weton itu?

Weton yang sudah berkembang sejak ratusan tahun silam oleh masyarakat Jawa ini ternyata juga dikenal di Bali. Weton pada hakikatnya adalah nilai dari berbagai peristiwa berdasarkan perhitungan hari dalam kalender tradisional Jawa. Sebenarnya weton sendiri lebih dikenal dalam menjelaskan makna hari kelahiran seseorang.

Penanggalan Jawa sampai saat ini masih digunakan sebagai masyarakat Jawa sebagai patokan, bahkan penanggalan Jawa juga kerap digunakan dalam beberapa kegiatan nasional. Karena minimnya literasi untuk mencari asal-usulnya, namun dipastikan penanggalan Jawa ini memiliki sejarah yang sangat panjang.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©mobile.fourlock.com

Diduga pada awal Masehi ketika kalender Saka menyebar bersama agama Hindu di Pulau Jawa, saat itulah kalender dalam sejarah budaya Jawa dimulai. Kemudian terjadilah peleburan dalam penggunaan kalender Saka dengan budaya animisme dan dinamisme yang masih dianut kuat oleh masyarakat Jawa saat itu.

Baca Juga

Peleburan ini terjadi hingga masuknya agama Islam dan berdirinya Kerajaan Mataram di Jawa. Masuknya berbagai kebudayaan di Jawa ini menyebabkan adanya penggabungan dari kalender Saka, kalender Islam dan kalender Julian yang dibawa oleh penjajah yang kemudian terciptalah kalender Jawa yang kita kenal sampai sekarang.

Kalender Jawa memiliki sistem hitungan dimana satu pekan terdiri dari tujuh hari dalam kalender Islam, lima hari dalam pasaran Jawa dan memiliki rata-rata ada 30 hari dalam sebulan. Uniknya meskipun satu bulan rata-rata 30 hari, namun perayaan weton sendiri ada 35 hari sekali karena penggabungan dari tujuh hari biasa dan lima hari pasaran. Kelima hari pasaran tersebut oleh masyarakat Jawa dikenal dengan nama Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©kangsigit.com

Weton tidak hanya digunakan untuk menjelaskan makna hari lahir seseorang saja, namun sistem penanggalan Jawa ini juga digunakan untuk menentukan suatu keputusan, masa panen, bepergian, tanggal pernikahan, hingga menggambarkan karakter dan nasib seseorang.Penghitungan dan penafsiran makna weton telah mengakar kuat pada masyarakat Jawa. Dari generasi ke generasinya diduga weton memiliki makna untuk menjadi tuntunan atau peringatan.

Misalnya dalam menentukan karakter orang yang memiliki weton Jumat Kliwon. Diyakini oleh masyarakat Jawa orang yang lahir pada weton tersebut memiliki watak yang mudah disenangi orang, murah hati dan sabar. Pribadinya dianggap bisa menjadi pemimpin yang baik, meski terkadang malas namun tidak akan kekurangan teman. Lain halnya dengan orang yang memiliki weton Jumat Legi. Memiliki sifat jujur dan teguh dengan pendiriannya.

Seperti dua contoh tersebut, weton-weton lain juga memiliki penjelasannya tersendiri. Saat ini beragam perhitungan dengan weton banyak muncul, dan masih diyakini kuat oleh masyarakat Jawa terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Selain itu weton juga diterapkan pada tradisi-tradisi khusus mereka, seperti perayaan weton yang ada pada 35 hari sekali dengan bubur pancawarna yakni merah, kuning, hitam, putih dan hijau.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©ummi-online.com

Meramal kecocokan jodoh juga dapat dilakukan melalui weton yang biasanya dilakukan pada  masyarakat Jawa yang masih kental adat-istiadatnya. Sepasang muda-mudi yang akan menikah oleh orang tua atau sepuh yang masih mempercayai weton akan menghitung weton mereka untuk mencari tanggal baik dan aman untuk menikah.

Weton yang menjadi cara dalam menentukan nasib merupakan peninggalan leluhur dan menjadi salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa sampai saat ini. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda bangga, menjaga dan melestarikannya.

Sumber :  diolah dalam berbagai sember

Pilih BanggaBangga48%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang21%
Pilih Tak PeduliTak Peduli10%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau7%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AHDA FARIHA

art - poetry ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie