Perusahaan di bidang analitik dan big data asli Indonesia jumlahnya tidaklah banyak. Selain karena bidang ini terbilang baru, talenta atau sumber daya yang dibutuhkan masih sangat terbatas. Namun satu perusahaan digital rintisan atau startup binaan Telkom Indonesia lewat program inkubator Indigo Creative Nation yang bernama Sonar, tengah bersiap untuk melakukan ekspansi ke Luar negeri. 

Sonar Platform atau yang populer disebut dengan anam Sonar yang didirikan oleh Amien Krisna merupakan startup yang terbilang cukup sukses di Indonesia meski baru berumur dua tahun berdiri. Saat ini Sonar telah memiliki berbagai klien perusahaan ternama di Tanah Air yang membutuhkan pelayanan dibidang monitoring media digital. Berkat Sonar, perusahaan terkait akan dengan cepat mengetahui hasil riset pasar berdasarkan data yang dihimpun secara otonom. 

Krisna yang merupakan alumnus Universitas Gunadarma merupakan salah satu talenta dunia informatika Indonesia sejak era 200an. Dirinya mengungkapkan bahwa karir pertamanya adalah sebagai pekerja lepas developer situs jual beli dan games. 

“Saya memulai sebagai developer di tahun 2002, bekerja untuk situs e-commerce dan games yang mulai bermunculan saat itu. Saya belajar banyak hal dalam waktu yang singkat, bukan hanya hal teknis, namun juga bisnis ‘digital’ yang belum terkenal waktu itu,” ungkap Krisna seperti dikutip dari ANTARA.

Karirnya sebagai pekerja lepas rupanya membantunya membangun agensi perancangan dan pengembangan web. Hingga kemudian dirinya memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan periklanan digital pada tahun 2012.

“Saya mengumpulkan ilmu yang saya pelajari dari perusahaan-perusahaan tersebut, dan pada akhirnya mengembangkan versi awal platform Sonar pada tahun 2013," jelasnya.

Kemunculan Sonar berusaha menjawab permasalahan bagaimana mengelola dan mengetahui perilaku pasar berdasarkan data sosial yang berseliweran di jagat Internet. Jumlah datanya yang sangat besar menjadikannya mustahil untuk diolah secara manual, karena itu perlu pengolahan big data harus dilakukan secara otomasi.

"Jumlah data sosial lokal dan mancanegara yang besar sangat mustahil untuk digarap secara manual. Semakin banyak perusahaan yang aktif secara digital membuat indutrinya semakin ‘digital’. Hal ini meningkatkan kebutuhan untuk melakukan monitoring, analisis, dan mengumpulkan informasi penting,” jelas Krisna

Tampilan tata muka Sonar (Gambar: pikiran-rakyat.com)
Tampilan tata muka Sonar (Gambar: pikiran-rakyat.com)

Berkat Sonar, perusahaan-perusahaan akan mampu membaca persepsi internet terhadap perusahaan dan menemukan tren yang sedang hangat dalam masing-masing industri. Sebuah solusi yang sangat dibutuhkan para pemasar di era digital seperti saat ini. 

Sonar mengklaim algoritma yang mereka rancang adalah lebih modern dan canggih dibandingkan pesaing. Hal ini memungkinkan terjadinya proses pencuplikan, pengolahan, hingga pelaporan data akan lebih efisien dan akurat. Penyajian laporannya pun selalu dibuat agar mudah difahami. Sehingga siapapun akan mudah membaca hasil data olah dari Sonar meskipun bukan pakar big data.

Sampai saat ini setidaknya telah ada 29 perusahaan yang ditangani oleh Sonar termasuk instansi negara seperti Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan. Hal ini berkat jejaring yang didapatkan dari Indigo Creative Nation yang merupakan inkubator Sonar setelah harus melalui proses bootstrap (menggunakan modal sendiri) selama dua tahun sejak pendirian. 

Tidak hanya jejaring, Sonar pun mendapatkan suntikan modal yang cukup sehingga Krisna optimis akan mampu membawa Sonar untuk memperluas jangkauan pasar ke regional dengan menyasar negara-negara seperti Filipina, Singapura, Malaysia dan Australia. Krisna mengaku siap untuk bersaing dengan penyedia jasa serupa seperti Brandtology, Radian6 dan Sysomos. Bahkan pada tahun 2021 mendatang, Sonar diproyeksikan mampu menguasai pasar hingga ke Timur Tengah.

Sumber :  Pikiran Rakyat, Indotelko, ANTARA

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu