Lupa Sandi?

Harmonis dalam Toleransi

ni nyoman ayu suciartini
ni nyoman ayu suciartini
0 Komentar
Harmonis dalam Toleransi

Toleran, mungkin kata ini kalah familiar dengan suara telolet.

Penghujung tahun 2016 menjadi luka bagi Indonesia yang nyaris pecah hanya soal keyakinan. 71 tahun Indonesia merawat keyakinan dalam balutan perbedaan dengan baik. Namun, keyakinan itu terpaksa dinodai, dilecehkan, dan dipaksa untuk tunduk pada perpecahan. Bukankah kita berada pada lengkung langit yang sama bernama Indonesia? Mengapa yang berbeda justru jadi dilema, saudara?

Saya menjadi mayoritas ketika di Bali, juga saya pernah menjadi minoritas di luar Bali. Namun, saya tidak pernah merasakan sesesak ini. Melihat orang memaksakan keyakinan, mendengar suara sumbang tentang agama, melihat pembelaan yang katanya atas nama agama. Agama, Tuhan yang maha memiliki segalanya, tidak perlu dibela, tuan-tuan. Lantas, apa yang sebenarnya tengah anda perjuangkan dengan memenjarakan seseorang?

Toleran, Om. Yuk toleran! Sederhana sekali, hanya perlu menghormati keyakinan orang lain, tidak merasa bahwa keyakinan diri sendiri adalah yang terbaik, itu saja. Sebab, soal keyakinan adalah sesuatu yang tidak bisa anda nilai benar atau salah.

Baca Juga

Tentang agama, semuanya baik. Tidak ada agama yang tidak mengajarkan kebaikan. Semuanya berisikan jalan-jalan kedamaian untuk mencapai kebahagiaan hidup maupun akhirat. Jangan salahkan yang berbeda agama dengan anda atau jangan berusaha menentang hanya karena agama yang dipilih seseorang berbeda dengan pilihan anda.

Mengutip kalimat ajaib Gus Dur, “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”, Indonesia harus berbenah lebih baik, terutama soal merawat keyakinan, merawat kebhinnekaannya.

Narasi yang disampaikan Gus Dur sangat kental dengan toleransi. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan dirangkul guna menjadi indah. Keindahan toleransi di Indonesia sedang mengalami pasang surut. Benarkah Indonesia memang mewariskan sifat intoleran? Tentu saja tidak. Jauh sebelum suara telolet, jauh sebelum kasus penistaan agama, Indonesia punya bukti nyata dalam hal merawat toleransi, salah satunya ada di Bali.

Nafas toleransi akibat perbedaan itu masih terpampang nyata di sebuah desa bernama Pegayaman. Sebuah desa harmonis yang terletak di belahan Bali utara, Singaraja.

Harmonis dari Akar

Bagaimana jika umat muslim ikut mengarak ogoh-ogoh, merayakan hari suci Galungan? Bagaimana pula jika umat Hindu turut memeriahkan indahnya Idul Fitri? Membayangkan saja rasanya sungguh indah, apalagi ketika anda memutuskan untuk melihatnya secara langsung. Toleransi itu sesungguhnya telah mengakar kuat, begitu lekat. mari simak indahnya toleransi lewat narasi saya berikut ini. Ada sebuah perbedaan yang tumbuh atas dasar kedamaian yang harmonis. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat Hindu-Dharma yang sarat dengan ritual keagamaan dan adat istiadatnya yang kental, perkampungan muslim desa Pegayaman memberikan warna tersendiri bagi Bali.

Kehidupan di desa Pegayaman ini tak ubahnya seperti kehidupan di Bali pada umumnya. Karena letaknya di pegunungan dan tergolong masih agraris, semua simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, banjar, dipelihara dengan baik.

Sejarah mencatat bahwa kedatangan agama Islam ke Bali itu bermula dengan baik. Tetua desa Pegayaman menarasikan bahwa penduduk kampung ini konon berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam yang dibawa oleh para Raja Buleleng, Badung, dan Karangasem pada zaman kerajaan Bali.

Masuknya Islam kali pertama ke Pulau Dewata lewat pusat pemerintahan zaman kekuasaan Raja Dalem Waturenggong yang berpusat di Klungkung pada abad XIV M. Raja Dalem Waturenggong berkuasa selama kurun waktu 1480-1550. Ketika berkunjung ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, sekembalinya diantar oleh 40 orang pengawal yang beragama Islam. Ke-40 pengawal tersebut akhirnya diizinkan menetap di Bali. Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel menempati satu pemukiman dan membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadan umat Islam tertua di Pulau Dewata (wikipedia.com).

Pegayaman terbagi atas empat banjar atau dusun adat, yakni Banjar Dauh Rurung, Banjar Dangin Rurung, Banjar Kubu, dan Banjar Mertasari. Setiap banjar dipimpin seorang kelian sebagai kepala dusun adat di Bali. Umat Islam di Pegayaman asli penduduk Bali. Mereka bukan kaum urban yang hidup di perkotaan, seperti di Denpasar, Negara, dan Kuta. Kaum muslim di Pegayaman mayoritas kehidupannya dihabiskan dengan bertani dan berkebun, serta merawat toleransinya dengan penduduk Bali yang mayoritas beragama Hindu.

"Assalamu’alaikum, Pak Ketut Ahmad Ibrahim!"

"Wa’alaikum salam, Wayan Arafat!"

Dialog ini mungkin asing di telinga. Ya…hanya di Pegayaman anda bisa menemukan perpaduan nama marga Bali, seperti Ketut, Putu, Gede, Komang, yang bersanding harmonis dengan nama-nama yang identik dengan kaum muslim. Misalnya, Wayan Hasan dan Made Imam, nama untuk pria. Sementara untuk nama wanitanya, Ni Nyoman Siti atau Ni Made Fatima. Unik sekaligus harmonis.

Bagi wisatawan asing maupun domestik, tidak usah heran jika menemui perpaduan nama unik, nama Bali dan Muslim yang dipadupadankan dengan tujuan toleransi. Paduan nama antara Muslim-Hindu Bali tersebut sudah melekat, seolah sulit dipisahkan. Dalam pergaulan sehari-hari dengan warga Bali lain, mereka pun tak memperlihatkan adanya jarak. Bahkan penduduk Pegayaman justru sangat erat hubungan dengan puri Buleleng di Kota Singaraja Bali.

Desa Pegayaman juga merawat toleransi lewat kuliner. Pegayaman terkenal pula dengan variasi makanan yang dikenal dengan seni kuliner khususnya sebagai kajian atau sajian pada hari raya. Jenis makanan di Desa Pegayaman antara lain nasi gurih, rumbah jeruk atau trengtengan serta sate gempol (daging rusa yang dicampur dengan kelapa). Kuliner ini hanya tersedia di desa Pegayaman dan dalam penyuguhannya memakai talam yang ditutupi saab, sebuah tutup tempayan khas bali.

Lebih dari itu, tradis lain yang identik dengan orang Bali juga dilakukan di desa ini. Ngejot (memberi jajan atau makanan kepada kerabat dan tetangga) juga dilakukan karena telah menjadi tradisi masyarakat setempat. Menjelang hari suci umat Hindu, seperti Nyepi, Galunga, Kuningan, dan hari besar lainnya, umat Islam ramai-ramai membantu tetangganya yang beragama Hindu membuat dan mengarak "ogoh-ogoh". Ketika Nyepi berlangsung pun, umat muslim di Pegayaman menghentikan aktivitas sehari-hari dan berdiam diri di dalam rumah untuk menghormati umat Hindu yang melaksanakan ritual Tapa Berata Penyepian. Demikian halnya pada Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu turut mendukung hari besar keagaman dengan memberikan bantuan berupa makanan dan minuman kepada umat muslim. Sebaliknya, saat Lebaran dan Hari Raya Kurban, umat Islam yang melakukan tradisi "ngejot" atau memberikan makanan kepada tetangga sekitar rumah. Menjelang hari besar umat Islam, umat Hindu di Pegayaman turut membuat penjor. Mereka menggelar tari-tarian tradisional, memasak makanan lebih banyak, anak-anak turut bersuka cita, harmonisasi tercipta, dan damai adalah tujuan.

Satu hal lagi yang terkesan sangat unik. Perpaduan budaya Hindu-Muslim sangat kental, tercermin pada bentuk kesenian khas Pegayaman, yakni kesenian Bordah dan Hadrah (balebengongblogspot.com). Wayan Iman Muhajir, salah seorang seniman Bordah memaparkan, kesenian Bordah itu sesungguhnya kesenian Bali. Memang, pemain Bordah itu orang muslim. Namun, yang dimainkan itu sesungguhnya adalah bagian dari budaya Bali. Dalam memainkan kesenian itu, pemain-pemainnya juga berkain khas Bali seperti destar atau udeng dan lancingan. Jenis tariannya juga tak berbeda dengan tarian lain di Bali seperti joged dan sejenisnya. Teknik pukulan serta nada alat musiknya yang didominasi alat musik perkusi itu juga bernuansa Bali. Lagunya apalagi, cengkok serta nadanya tak bisa dibedakan dengan lagu-lagu orang Hindu seperti kekawin, kidung dan geguritan. Bordah dan Hardah ini merupakan kesenian langka yang patut dilestarikan keberadaannya dan diteruskan oleh anak cucu selanjutnya.

Indonesia memang kaya ragam budaya dan agama tetapi kita masih tetap bisa bersatu dalam perbedaan. Aneka ragam akulturasi budaya di desa Pegayaman ini membangkitkan rasa optimis bahwa Indonesia masih mencintai kedamaian, nilai toleransi di tengah perbedaan yang begitu besar. Suasana harmonis budaya Hindu-Islam ini sudah sepatutnya ditularkan pada generasi selanjutnya untuk tetep menjaga keindahan toleransi. Generasi muda harus mampu menjadi manusia yang selalu merawat dan melindungi perbedaan yang ada merupakan sebuah mata air bagi bangsa Indonesia yang tengah berada di padang pasir penuh konflik ini.

Oh Indonesiaku, Aku begitu mencintaimu. Agama mendamaikan, perbedaan menguatkan, bersatu membuat kita menjadi Indonesia yang tangguh. Mari menjadi kaki-kaki yang kuat mencegah menularnya virus kebencian untuk Indonesia yang merawat kebhinnekaan.

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"


Sumber :

www.wikipedia.com

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG NI NYOMAN AYU SUCIARTINI

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata