Lupa Sandi?

12 Hal yang Bisa Dilakukan di Nias Selatan

Fitria Dwi  Sulistyowati
Fitria Dwi Sulistyowati
0 Komentar
12 Hal yang Bisa Dilakukan di Nias Selatan

Saya baru pertama kali ke pulau Nias, yang kata orang merupakan pulau impian. Tanö Niha atau kepulauan Nias ini berada di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia dan berada dalam wilayah provinsi Sumatera Utara. Pulau Nias ini merupakan pulau yang paling maju diantara jejeran pulau di pantai barat Sumatera. Perjalanan kali ini terasa lebih istimewa, lebih tepatnya saya dan suami pulang kampung ke Kota Telukdalam, yang merupakan ibukota dari Kabupaten Nias Selatan. Selama 30 hari di Nias Selatan, saya telah mendapatkan banyak pengalaman dengan melakukan berbagai macam hal seru, yang kemudian membuktikan bahwa Telukdalam, Nias Selatan ternyata cukup istimewa untuk dijadikan sebagai destinasi liburan.

Apabila kamu berencana mengunjungi pulau Nias, --khususnya Nias Selatan, berikut saya berikan 12 hal yang dapat kamu lakukan di sana.

1. Berfoto di Depan Batu Atöla: Batu ini dapat kamu temukan di sebelah kiri jalan, kira-kira 100 km dari Bandara Binaka, Gunungsitoli menuju kota Telukdalam. Lokasi tepatnya di Pantai Sa’ua, Desa Bawaza’ua, Kabupaten Nias Selatan. Batu Atöla dalam Bahasa Nias artinya Batu Berlubang.

Batu Atöla, Batu berlubang yang pindah sendiri. © Fitria Dwi S
Batu Atöla, Batu berlubang yang pindah sendiri. © Fitria Dwi S

Tak banyak yang tahu tentang kisah unik Batu Atöla, dulu batu ini berada di tengah lautan, namun sejak terjadi gempa besar di tahun 2005 lalu batu ini bergeser. Mungkin karena gempa membuat cengkeraman batu karang di dasar laut itu tidak stabil dan lepas sehingga batu itu bergeser mengikuti gelombang ombak hingga bibir pantai. Saya sendiri takjub melihat batu karang setinggi 7 meter ini berada dekat sekali dengan jalan raya. 

Baca Juga

2. Keliling Kota Telukdalam Naik Bentor (Becak Motor): Sesampainya di kota Telukdalam, cobalah berkeliling kota menggunakan becak motor (Bentor). Tarif yang diberikan sopir bentor ini beragam, tergantung jarak tempuh/seberapa jauh tujuan kamu. Setelah melakukan tawar-menawar dengan salah satu sopir bentor, saya cukup merogoh kocek sebesar Rp 15.000,- saja untuk berkeliling kota sepuasnya. 

Bentor, alat transportasi favorit wisatawan di Telukdalam
Bentor, alat transportasi favorit wisatawan di Telukdalam © Fitria Dwi S

Tips: Pastikan kamu cukup pandai tawar-menawar tarif bentor ini ya. Abang sopir bentornya nggak galak kok.

3. Melihat Aktivitas di Pasar Jepang: Saat berkeliling menggunakan bentor, kamu akan diajak melewati sebuah pasar yang dinamai Pasar Jepang. Pasar ini tidak menjual barang-barang dari Jepang, apalagi menjual kostum Anime Jepang.

Ragam sayuran di Pasar Jepang, Telukdalam
Ragam sayuran di Pasar Jepang, Telukdalam © Fitria Dwi S

Pasar ini merupakan bantuan langsung dari pemerintah Jepang saat terjadi Tsunami Aceh, oleh karena itu pasar ini dinamai Pasar Jepang. Kalau kamu tertarik dengan human interest, maka Pasar Jepang adalah objek yang tidak boleh kamu lewatkan.

Aktivitas jual-beli di Pasar Jepang. © Fitria Dwi S
Aktivitas jual-beli di Pasar Jepang. © Fitria Dwi S

Tips: Para pedagang di pasar ini tidak akan keberatan untuk difoto, dan bahkan ada yang menawarkan menjadi model dengan sukarela, tanpa iming-iming voucher berhadiah.

4. Mengikuti Acara Komunitas Bale Ndraono: Komunitas Bale Ndraono adalah sebuah gerakan sosial yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan kepada anak-anak tentang pentingnya mencintai alam dan lingkungan serta wadah untuk anak-anak berkreatifitas.

Fajar, salah satu mentor di Komunitas Bale Ndrono © Fitria Dwi S
Fajar, salah satu mentor di Komunitas Bale Ndrono © Fitria Dwi S

Bentuknya adalah kegiatan-kegiatan sederhana yang diajarkan oleh para mentor di bidangnya masing-masing dengan lokasi kegiatan yang berpindah sesuai dengan ketersediaan lokasi yang disediakan oleh para mentor. Kebetulan, saat itu saya menemani dua keponakan tersayang untuk ikut dalam kegiatan komunitas Bale Ndraono ini, mulai dari bernyanyi bersama, keliling kebun untuk belajar mengenai tanaman hingga membuat kreasi dari kertas kue. Mark, seorang bule dari Australia menarik perhatian anak-anak ketika dia menjelaskan jenis-jenis tanaman di halaman rumahnya. Mark juga mengajari anak-anak cara bertanam dengan memanfaatkan botol bekas.

Mark, mengajak anak-anak mengenal tanaman dan cara menanamnya. © Fitria Dwi S
Mark, mengajak anak-anak mengenal tanaman dan cara menanamnya. © Fitria Dwi S
Kreasi dari Kertas Kue. © Fitria Dwi S
Kreasi dari Kertas Kue. © Fitria Dwi S

Info: Untuk informasi lengkap mengenai komunitas ini, silahkan kunjungi akun facebook kak Rebecca Laiya yang menjadi salah satu mentor komunitas ini.

5. Mengunjungi Desa Bukit Matahari: Pada suatu kesempatan, saya bersama keluarga besar mengunjungi sebuah desa yang sudah mendunia. Desa yang sempat diusulkan menjadi kawasan warisan budaya dalam situs warisan dunia UNESCO di tahun 2009 lalu, namun sayangnya sampai saat ini upaya tersebut belum menemukan titik terang. Desa yang dihuni 1.000 lebih kepala keluarga ini bernama Desa Bawomataluo.

Desa Bawomataluo, Desa Warisan Budaya. © Fitria Dwi S
Desa Bawomataluo, Desa Warisan Budaya. © Fitria Dwi S

Desa ini ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Buku Tamu di Rumah Adat Omo Sebua, Desa Bawomataluo. © Fitria Dwi S
Buku Tamu di Rumah Adat Omo Sebua, Desa Bawomataluo. © Fitria Dwi S

Bawomataluo adalah bahasa Nias yang memiliki arti bukit matahari. Di desa ini masih terdapat rumah tradisional Omo Sebua atau rumah raja. Arsitektur Omo Sebua ini memiliki filosofi hidup orang Nias yang luar biasa, mereka mengedepankan fabanuasa dan falulusa. Fabanuasa memiliki arti semangat bekerjasama dan Falulusa artinya bergotong royong.

Kiri-Kanan: 77 anak tangga menuju Desa Bawomataluo - Foto bersama didepan Omo Sebua. © Fitria Dwi S
Kiri-Kanan: 77 anak tangga menuju Desa Bawomataluo - Foto bersama didepan Omo Sebua. © Fitria Dwi S

Rumah klasik yang dibangun berderet itu memiliki lorong di bagian tengahnya yang menghubungkan antar rumah sehingga tidak ada sekat dan komunikasi antar keluarga dapat terjalin dengan lancar.

Kiri-kanan: Omo Sebua tampak dari depan - Lorong jalan masuk kedalam Omo Sebua. © Fitria Dwi S
Kiri-kanan: Omo Sebua tampak dari depan - Lorong jalan masuk kedalam Omo Sebua. © Fitria Dwi S

6. Bermain Bersama Anak-Anak Desa Bawomataluo: Ada banyak anak-anak di desa Bawomataluo ini yang sedang bermain apabila sedang tidak bersekolah. Mereka cukup ramah kepada turis dan tidak matre, bahkan senang sekali di potret seperti anak-anak yang saya jumpai saat mengunjungi desa Bawomataluo ini.

Anak-anak Desa Bawomataluo yang Bersiap Pergi ke Perayaan Natal Sekolah Minggu.
Anak-anak Desa Bawomataluo yang Bersiap Pergi ke Perayaan Natal Sekolah Minggu.

7. Melihat Pertunjukan Fahombo: Ingatkah kamu pada tanggal 21 September 2016 lalu Bank Indonesia melakukan penarikan mata uang Rp 1.000,- yang bergambar lompat batu? Nah, lompat batu ini merupakan tradisi suku Nias, lompat batu atau Fahombo ini dilakukan untuk mereka yang sudah dewasa. Menurut beberapa cerita, mereka yang sudah dewasa diharuskan untuk melompati batu setinggi 2 meter, ada pula yang mengatakan bahwa tradisi ini pada jaman dahulu kala merupakan ujian bagi para pria yang akan maju berperang. Mereka yang mampu lompat melewati batu setinggi 2 meter ini menggunakan roh kekuatan nenek moyang. Meskipun ada pula yang sudah berlatih sejak kecil. Tidak semua desa di pulau Nias melakukan tradisi unik ini, hanya desa Bawomataluo ini yang tetap menjaga tradisi lompat batu. Rasanya ingin sekali menyerukan Indonesiaku Keren! ketika melihat aksi pemuda Nias melakukan lompat batu.

Kiri - Kanan: Aksi pelompat batu - Foto bersama pelompat batu. © Fitria Dwi S
Kiri - Kanan: Aksi pelompat batu - Foto bersama pelompat batu. © Fitria Dwi S

Para pria yang bisa melompati batu ini dianggap sudah teruji kedewasaan serta keperkasaannya. Bagaimana kalian para pria tertarik untuk mencoba? #eh

Info: Kalian harus merogoh kocek sebesar Rp 150.000,- untuk melihat aksi dua pemuda Nias melakukan lompat batu. Jangan lupa ajak para pelompat batu foto bareng ya, kalau foto bareng sih, GRATIS!

8.  Merayakan Malam Tahun Baru di Kota Telukdalam: Jika kamu mencari nuansa beda untuk merayakan malam tahun baru, kamu bisa datang ke Kota Telukdalam, Nias Selatan karena ada banyak acara seru di kota ini. Mulai dari lomba vokal grup menyanyikan lagu daerah, lomba tari Maena hingga lomba karnaval keliling kota. Beruntungnya saya pada pergantian malam tahun baru 2017 kemarin diberi kesempatan untuk menjadi MC acara malam tahun baru. Ada peserta lomba karnaval yang cukup mencuri perhatian saya, yaitu peserta karnaval dengan busana yang mewakili berbagai macam agama, suku bangsa serta profesi di Indonesia. Peserta lomba karnaval ini sesuai dengan tema tahun baru yaitu "Nias Selatan Bersatu, Akan Lebih Baik". Indonesiaku keren! Meskipun berbeda-beda namun tetap satu jua. 

Peserta Karnaval Malam Tahun Baru di Telukdalam. © Fitria Dwi S
Peserta Karnaval Malam Tahun Baru di Telukdalam. © Fitria Dwi S

Tips: Kalau kamu mau ikut karnaval atau hunting foto human interest sebaiknya pakai sepatu yang nyaman karena karnaval ini dilakukan dengan berjalan keliling kota selama 15 menit. Jangan pakai high heels kalau nggak mau kaki kamu lecet atau pegal-pegal.

9. Bertemu Bapak Bupati Nias Selatan*)

Foto Bersama Bapak Bupati Setelah Acara Malam Tahun Baru. © Fitria Dwi S
Foto Bersama Bapak Bupati Setelah Acara Malam Tahun Baru. © Fitria Dwi S

Apabila kamu beruntung, kamu akan dapat bertemu dan berfoto bersama dengan bapak Bupati Nias Selatan Dr. Hilarius Duha, SH.,MH. 

*) Apabila beruntung dan apabila bapak Bupati berkenan diajak foto bareng.

10. Mencicipi Ragam Kuliner Khas Nias Selatan: Apabila kamu beruntung, kamu juga dapat mencicipi nikmat dan gurihnya nasi Nifolegu. Nasi ini hanya ada pada saat ada acara-acara adat seperti pernikahan atau kematian kerabat. Nasi Nifolegu ini terbuat dari beras yang dimasak dengan periuk tanah liat diatas kayu bakar.

Ini Nasi Nifolegu, Bukan Kue Bolu! © Fitria Dwi S
Ini Nasi Nifolegu, Bukan Kue Bolu! © Fitria Dwi S

Ada lagi kuliner yang wajib dan harus kamu coba, yaitu Durian dari Desa Hilifalagö dan Bawodobara. Yang membuat durian dari dua desa tersebut terkenal adalah daging buahnya yang tebal dan bertekstur lembut seperti mentega. Saya awalnya cuma makan satu biji, kemudian keterusan sampai habis satu buah durian.

Pesta Durian! © Fitria Dwi S
Pesta Durian! © Fitria Dwi S

Info: Kenikmatan durian ini membuat siapa saja tak mau berhenti memakannya, jadi jangan berlebihan ya. Ingat kolestrol! #eh

Kesegaran kelapa muda yang baru dipetik dari pohon kelapa juga wajib kamu coba, apalagi minumnya sambil duduk santai di pinggir pantai. Sebelum kembali ke Jakarta, saya menghabiskan waktu satu hari penuh bersantai di pantai Hilibatu sambil menikmati kelapa muda. Di pantai Hilibatu dapat kamu temukan banyak pohon kelapa, tinggal tunjuk saja pohon kelapa mana yang mau kamu ambil buahnya, para pemanjat pohon kelapa akan dengan tangkas memanjat dan memilihkan kelapa muda yang manis airnya dan lembut daging buahnya.

Nikmatnya Kelapa Muda di Hilibatu. © Fitria Dwi S
Nikmatnya Kelapa Muda di Hilibatu. © Fitria Dwi S

11. Menjadi Anak Pantai dan Pemburu Senja: Saya selalu bersemangat setiap kali suami mengajak pergi ke pantai. Bagaimana tidak, pantai-pantai di Nias Selatan ini sudah terkenal di perwisataan dunia, banyak para peselancar luar negeri yang senang menari diatas ombak pantai Sorake. Pantai Sorake ini berjarak 2 km dari kota Telukdalam, lomba surfing bertaraf internasional pun sering diadakan di pantai ini. Wow, Indonesiaku keren!

Siap Pergi Menari Diatas Ombak Pantai Sorake. © Fitria Dwi S
Siap Pergi Menari Diatas Ombak Pantai Sorake. © Fitria Dwi S

Menjadi anak pantai tak harus berbasah-basahan terkena air laut kok, anak pantai bisa juga hanya duduk santai dipinggir pantai berbincang dengan sahabat atau keluarga sambil menunggu matahari tenggelam.

Secangkir Kopi, Sepiring Pisang Goreng dan Obrolan Sore. © Fitria Dwi S
Secangkir Kopi, Sepiring Pisang Goreng dan Obrolan Sore. © Fitria Dwi S

Saya terkagum-kagum melihat matahari tenggelam di pantai ini. Rasanya matahari tenggelam di langit Indonesia semuanya indah ya!

Senja di Pantai Sorake. © Fitria Dwi S
Senja di Pantai Sorake. © Fitria Dwi S

Kabar baik bagi para pemburu senja, datanglah ke pantai Moale, Nias Selatan. Di pantai Moale ini kamu akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa. Pantai Moale ini lokasinya lumayan jauh dari kota Telukdalam, saya dan suami berangkat dari kota Telukdalam pukul 16.00 WIB dan tiba di pantai Moale pukul 17.00 WIB. Satu jam perjalanan yang luar biasa, jalannya berliku-liku, kanan dan kiri jalan banyak pemandangan sawah dan bukit, pemandangan yang sangat jarang ditemukan di kota besar.

Kalau di pulau Jawa, pukul 17.00 WIB matahari mulai perlahan tenggelam dan langit mulai berganti warna, kalau di Nias Selatan pukul 17.00 WIB matahari masih bersinar dengan terang dan langit masih berwarna biru cerah. Hal ini sudah biasa, karena matahari tenggelam di kota ini pukul 18.30 WIB, jika cuaca cerah dan tidak berawan maka kamu dapat menyaksikan matahari tenggelam paling indah di Indonesia.

Langit Biru di Pantai Moale. © Fitria Dwi S
Langit Biru di Pantai Moale. © Fitria Dwi S

Ombak di pantai Moale ini cukup besar, tidak disarankan untuk kamu berenang di pantai ini. Menjelang matahari terbenam, kamu akan banyak melihat banyak nelayan yang pergi berlayar ke tengah laut untuk menangkap ikan. Jangan lupa siapkan kamera dan siapkan pose foto terbaikmu dengan latar belakang langit senja yang indah.

Indonesiaku Keren! © Fitria Dwi S
Indonesiaku Keren! © Fitria Dwi S

Tips: Bawa bekal makanan dan minuman sendiri ya, karena belum ada warung penjual makanan atau minuman di pantai ini. Jangan buang sampah sembarangan, karena pasir pantai ini terlalu indah untuk dikotori dengan sampah.

12. Belajar Sejarah dan Budaya di Desa Hilisimaetanö: Saat dalam perjalanan menuju desa Hilisimaetanö saya melihat sebuah rumah sakit. Ternyata rumah sakit tersebut merupakan peninggalan misionaris Jerman, dulu Rumah Sakit Lukas ini merupakan rumah sakit terbesar dan terlengkap di pulau Nias, hingga kini rumah sakit Lukas tetap beroperasi.

Desa adat Hilisimaetanö sempat hancur dan rusak ketika terjadi gempa di tahun 2005, rumah adat besar di desa ini pun roboh dan sampai sekarang belum di restorasi. Sebelum terjadi gempa desa adat ini ramai dikunjungi wisatawan, namun saat ini jumlah wisatawan yang berkunjung sudah berkurang.

Anak Tangga Menuju Desa Adat Hilisimaetanö. © Fitria Dwi S
Anak Tangga Menuju Desa Adat Hilisimaetanö. © Fitria Dwi S

Di desa ini juga masih banyak peninggalan jaman Belanda, meriam ini contohnya:

Meriam di Depan Tangga Masuk Desa Adat. © Fitria Dwi S
Meriam di Depan Tangga Masuk Desa Adat. © Fitria Dwi S

Saya dan keluarga berkunjung ke rumah adat Omo Sebua, rumah tempat tinggal dari kakek moyang suami. Di depan rumah adat Omo Sebua ini terdapat banyak batu lebar yang dulu dipakai untuk duduk, Daro-daro namanya. Di bagian dalam rumah, saya melihat banyak sekali pakaian adat Nias Selatan beserta aksesorisnya, lengkap mulai dari pakaian adat untuk anak-anak hingga dewasa. 

Daro-daro, Tempat Duduk dari Batu Pada Jaman Dahulu. © Fitria Dwi S
Daro-daro, Tempat Duduk dari Batu Pada Jaman Dahulu. © Fitria Dwi S

Kunjungan saya dan keluarga ke desa ini adalah untuk berfoto di depan rumah adat Omo Sebua dengan memakai pakaian adat Nias Selatan koleksi pribadi.

Berfoto dengan Baju Adat disamping Daro-daro dan di depan Omo Sebua. © Fitria Dwi S
Berfoto dengan Baju Adat disamping Daro-daro dan di depan Omo Sebua. © Fitria Dwi S

Pakaian adat suku Nias untuk laki-laki namanya Baru Ohulu sedangkan untuk perempuan namanya Ōröba Si'öli. Pakaian ini biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna hitam, merah atau putih.

Ragam Pakaian Adat Nias. © Fitria Dwi S
Ragam Pakaian Adat Nias. © Fitria Dwi S

Menurut penjelasan yang saya dapat ketika berada di dalam Omo Sebua, warna dan corak pakaian adat ini memiliki artinya masing-masing.

  • Warna hitam sering dipakai oleh para petani untuk menggambarkan situasi kewaspadaan atau kesedihan.
  • Warna kuning dengan corak persegi empat dan pola bunga kapas menggambarkan kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Corak dan warna ini sering dipakai oleh para bangsawan.
  • Warna merah dengan corak segitiga sering dipakai oleh para prajurit untuk menggambarkan keberanian dan darah para prajurit.
  • Sedangkan warna putih sering dipakai para pemuka agama untuk menggambarkan kesucian.

Tips: Jika ingin berfoto di desa ini, datanglah pukul 16.00 WIB karena pada saat itu matahari tidak terlalu terik dan cahaya untuk berfoto pun bagus. 

Info: Rumah adat Omo Sebua Desa Hilisimetanö juga menyewakan pakaian adat Nias bagi kalian yang ingin berfoto menggunakan pakaian adat. Harga sewanya bisa langsung kalian tanyakan disana.

Sepanjang perjalanan kemarin, saya melihat bahwa Nias Selatan memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, kabar baik bagi dunia pariwisata Indonesia. Cerminan Indonesiaku keren yang sesungguhnya, pulau yang kaya budaya, adat dan kesenian yang unik, memiliki masyarakat yang ramah serta mewarisi kekayaan alam yang mempesona. Destinasi wisata impian bagi para wisatawan!

Jadi Kapan Main Ke Nias Selatan?. © Fitria Dwi S
Jadi Kapan Main Ke Nias Selatan?. © Fitria Dwi S

----

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FITRIA DWI SULISTYOWATI

Hey, I’m Fitria Dwi. I’m a blogger in Jakarta, Indonesia. I am a fan of photography, travel, and coffee. I’m also interested in culture, food and arts. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie