Lupa Sandi?

Cobek Batu, Kerajinan Tangan Anak Bangsa Turun-temurun

Gracella Sofia Mingkid
Gracella Sofia Mingkid
0 Komentar
Cobek Batu, Kerajinan Tangan Anak Bangsa Turun-temurun

Indonesia menyimpan beragam kerajinan hasil karya tangan-tangan anak bangsa sendiri. Salah satu yang tidak kalah menarik yaitu kerajinan cobek batu asli. Di tengah menjamurnya peralatan dapur modern, produksi cobek batu asli yang dibuat secara manual masih dipertahankan sebagai warisan turun-temurun, bahkan menjadi matapencaharian.

Terik matahari mengiringi perjalanan menuju Dusun Petung Wulung, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Memasuki kawasan tersebut, di kiri dan kanan jalan hampir selalu dijumpai tumpukan batu gunung, dengan ukuran yang bervariasi. Dari kejauhan, terdengar suara seperti batu yang sedang dipukul-pukul menggunakan alat berat. Benar saja, suara tersebut ternyata berasal dari aktivitas warga Dusun Petung Wulung yang sedang membuat cobek batu.

Bagi anda pencinta sambal, pasti sudah tidak asing lagi dengan alat dapur yang satu ini. Cobek atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan mortar, merupakan alat dapur yang sudah ada sejak zaman purbakala dan biasa digunakan untuk menghaluskan ataupun mencampurkan bumbu masakan. Namun, seiring perkembangan zaman, manusia telah banyak beralih menggunakan mesin penghalus bumbu seperti blender. Meski demikian rasa yang dihasilkan tentu berbeda. Apalagi untuk olahan makanan Indonesia yang banyak menggunakan bumbu halus.

Cobek sendiri pun kini di pasaran telah dijual dengan aneka ragam jenisnya, mulai dari cobek batu, cobek campuran semen pasir, hingga cobek beton. Namun demikian, di Dusun Petung Wulung, warga masih kokoh mempertahankan produksi cobek batu asli yang langsung dibuat dengan tangan manusia. Kerajinan membuat cobek batu tersebut menjadi ciri khas dari kawasan yang kemudian dikenal dengan desa cobek tersebut.

Baca Juga
Adi (40) sedang memahat batu gunung yang hendak dibentuk menjadi cobek dengan berbagai macam ukuran.
Adi (40) sedang memahat batu gunung yang hendak dibentuk menjadi cobek dengan berbagai macam ukuran.

Adi, salah satu pembuat cobek batu membenarkan bahwa mayoritas warga dusunnya memang membuat kerajinan cobek batu bahkan menjadikannya sebagai matapencaharian mereka. Adi sendiri telah bekerja membuat cobek sejak SMP. “Lupa tepatnya tahun berapa, pokoknya sudah dari kecil, dari SMP,” tutur pria kelahiran 40 tahun lalu ini. Usaha pembuatan cobek batu miliknya merupakan warisan turun temurun.

Produksi cobek di Dusun Petung Wulung asli berbahan batu jenis batu goa tanpa menggunakan campuran semen. Adi menjelaskan, batu goa dibeli dari para penambang pasir di dusun tersebut dengan harga 350.000,- per pick up. Berbeda dengan cobek semen pasir, cobek batu memiliki ketahanan yang lebih lama, sehingga permukaannya tidak cepat aus.

Proses pembutan cobek batu diawali dengan memecah batu goa sesuai dengan besaran yang diinginkan. Satu per satu batu yang telah dipecahkan tersebut kemudian dibentuk menjadi piringan bundar dengan bagian tengah yang lebih cekung. Batu-batu tersebut dibentuk menggunakan palu dan betel layaknya kegiatan mengukir. Setelah itu, proses pembuatan akan dilanjutkan pada penghalusan dengan menggunakan mesin penghalus. Selesai dihaluskan, cobek kemudian dicuci hingga bersih dan siap dipasarkan. Batu-batu kecil sisa yang masih bisa dibentuk akan dibuat menjadi ulekannya.

Dalam sehari, Adi bisa menghasilkan 10 cobek dengan kisaran waktu kerja 8,5 jam, dimulai pukul 6.30 – 15.00 WIB. “Tapi tergantung pesanannya, kalau banyak ya bisa buat lebih banyak dalam sehari,” imbuhnya. Untuk pemasaran, biasanya Adi langsung mengirimnya ke tengkulak. Lalu, dari sana cobek akan dipasarkan. Pemasaran tidak terbatas pada wilayah Jawa saja, tetapi juga sampai ke daerah luar Jawa seperti Kalimantan dan Bali bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan Australia.

Cobek batu siap dihaluskan
Cobek batu siap dihaluskan

Harga cobek buatan Adi ini bervariasi, tergantung diameternya. Ia menjelaskan, cobek berdiameter 15 cm dijual dengan harga Rp. 10.000. Sedangkan cobek dengan diameter 20 cm di dijual dengan harga Rp12.500. Lain lagi dengan cobek berdiameter 40 cm yang dipasang dengan harga Rp.80.000. Menurutnya, harga tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga cobek di pasaran.

Kerajinan cobek telah menghidupi Adi dan keluarga. Bahkan kerajinan turun-temurun ini juga telah menghidupi hampir 90% warga dusun Petung Wulung hingga sekarang. Memang tidak mudah untuk membuat cobek batu. Dibutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang ekstra. Namun, kualitas cobek batu asli Dusun Petung Wulung ini tidak perlu diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemesanan serta masih kokohnya produksi cobek turun-temurun disana.

Di tengah zaman yang serba canggih ini, cobek bisa saja dicetak dalam skala besar menggunakan mesin pencetak. Dengan begitu, manusia tidak perlu turun tangan secara langsung. Namun, cobek batu warisan zaman kerajaan Singosari ini akan kehilangan nilainya. Atau, bisa saja orang meninggalkan cobek dan beralih pada teknologi canggih seperti blender. Namun, cita rasa makanan yang dihasilkan akan berbeda. Oleh karena itu, cobek batu khas desa cobek ini patutlah dipertahankan sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.


Sumber :

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG GRACELLA SOFIA MINGKID

Hello there! I'm Ella, a journalistic student from Petra Christian University :) ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata