Lupa Sandi?

Dia yang Memilih Pulang

Vassilisa Agata
Vassilisa Agata
0 Komentar
Dia yang Memilih Pulang

Selalu, berbicara dengannya membuatku merasa bisa mengubah dunia. Ide-ide berloncatan tanpa henti. Pertanyaan reflektif yang kerap menghantui terlontar. Mimpi-mimpi lama tergali seiring dengan tegukan kopi hitam. Gambaran masa depan yang tercipta seiring mendekatnya pagi. Ia adalah pengingat bahwa mimpi mungkin tercapai…

…jika kita bergerak mencarinya sekarang.

Panggilan akrabnya Aday, Anak Dayak, panggilan kecil teman-temannya. Sejak kecil, tangannya senang menabuh barang. Bunyi-bunyian asal yang selalu terdengar merdu di telinganya. Membentuk cinta mula-mula terhadap nada, hingga kakeknya meramalkan, “Cucuku nanti ini jadi orang besar.”

Titik awal karirnya ia noktahkan sejak SMP. Bermain musik selepas sekolah, membentuk band, hingga nekat mengikuti festival di kabupaten seberang, Sintang. Tak ada dukungan dari sekolah, hanya membawa nama band yang ia bentuk bersama kawannya. Kemenangannya akhirnya membuatnya diakui. Festival demi festival di kabupaten lain, seperti Pontianak dan Sanggau, ia ikuti. Namun ia paham betul. Menjadi musisi ternama tidak sekadar terbentuk dari kemenangan.

Baca Juga

Saat SMA, Aday telah merasakan manisnya dikenal orang melalui Walet Band, band yang ia dirikan bersama kawannya, Bro dan Tcatca. Saat mempelajari dunia musik di Jakata dan Yogya, ia baru melihat sisi lain dari band. Kepiawaian memainkan instrumen dan suara bagus tak semerta melejitkan karir seseorang, diperlukan kemampuan mengelola band, memasarkan kreativitasnya, mengasah tekniknya secara terus-menerus. Ada sahabat yang dibentuk dalam perjalanan, ada keluarga baru yang terbentuk dari musik. Menabuh drum mudah, memetik gitar mudah, menyanyikan nada dengan sempurna, bisa jauh lebih mudah, daripada mempertahankan idealisme bermusik. Band bukan sekadar tentang mencipta lagu.

Merantaukan Mimpi

Setelah lulus SMA, Aday nekat menghabiskan satu tahun di Jakarta untuk mendalami dunia musik. Ia lalu berpindah ke Yogya, tempatnya bermusik dan kuliah. Awalnya menjadi kru bayaran Captain Jack hingga mendapat kesempatan menjadi gitaris selama satu tahun. Hingga akhirnya, ia resmi mendirikan band sendiri bersama keempat rekannya, Thirteen Fighting pada 2005. Thirteen Fighting diakui di tangga lagu Yogyakarta, meraih the best new comer pada 2006-2007. Merajai tangga lagu di Yogyakarta. Hingga kesibukan memisahkan band ini, ditutup dengan single terakhir, Rahasia.

Thirteen Fighting, band indie asal Yogyakarta yang merajai kota tersebut.

Thirteen Fighting, band indie asal Yogyakarta yang merajai kota tersebut 

© Agustinus Surya Indrawan

 Thirteen Fighting membawanya berlaga di IndieFest, tempat ia akhirnya bertemu dengan DJ Mbut, vokalis band indie Bagaikan, mentornya kelak dalam bermusik. Band senior yang telah mendapatkan nama dan menerbitkan album, bersaing dengan Thirteen Fighting, band baru yang mampu menduduki peringkat atas dalam weekly chart radio setempat.

Suatu pagi, DJ Mbut tiba-tiba datang membawa bubur ayam ke kos Aday. Dua piring makanan hangat yang berlanjut ke obrolan ringan hingga berbagi keahlian memainkan instrumen musik masing-masing—DJ Mbut memegang ritmik, Aday memainkan harmoni. DJ Mbut juga menulari Aday dengan aransemen electro music, sementara Aday mengajarkan tentang chord. Keduanya berbagi mimpi untuk sama-sama menjadi komposer terkenal, bahkan telah merumuskan sebuah nama: Dreamset. Langkah pertama mimpi mereka diambil oleh DJ Mbut.

Dreamset: partner mewujudkan karier bermusik, Aday dan DJ Mbut.

Dreamset: partner mewujudkan karier bermusik, Aday dan DJ Mbut.

© Agustinus Surya Indrawan

Membawa musik aransemen Ahmad Dhani, DJ Mbut berlari-lari di bandara, mengejar Ahmad Dhani yang nyaris take off, memaksakan beberapa menit untuk memasangkan headphone di telinga Ahmad Dhani. “Mas, coba dengerin aransemen ini!” Hanya dibutuhkan semenit bagi DJ Mbut, untuk mendapatkan undangan Ahmad Dhani ke Jakarta. Aday adalah orang yang meyakinkan mentor dan sahabatnya itu untuk memenuhi undangan Ahmad Dhani, mengatasi segala kekhawatiran, menjajal peruntungan ke ibukota. Pada 2010, DJ Mbut berangkat ke Jakarta dan bekerja di Republik Cinta Management.

Aday pun menjadi asisten tetap di DJ Mbut. Keduanya beralih dari pemain band menjadi partner komposer. Aday mengerjakan aransemen yang diminta DJ Mbut, lalu direvisi dan difinalisasi oleh DJ Mbut. Ia meyakinkan Aday untuk terus belajar membantunya membuat aransemen hingga nantinya mereka berdua bisa berkolaborasi, meleburkan identitas musik masing-masing. Sebuah mimpi mengunci kerja sama keduanya: tampil di Indonesian Idol.

Ada mantra yang selalu didengungkan DJ Mbut, yang hingga sekarang masih dibawa oleh Aday. Apapun mimpi itu, sugestikan diri sendiri berhasil meraihnya. “Satukan frekuensi, terus berdoa, dan sugestikan dirimu menjadi seperti apa yang kamu inginkan!” Sugesti itu terus dilakukan keduanya setiap saat. Entah saat mengobrol, bekerja, bahkan hanya sekadar bertukar sapa di telepon. Hingga sugesti itu akhirnya terwujud pada 2014.

Sepucuk e-mail sampai, dikirim langsung dari Daniel Mananta. Proyek remix musik “Sang Juara”, sebuah proyek Daniel Mananta untuk dua finalis Indonesian Idol, Nowela dan Usein. Proyek pertama yang sebagian besar dikerjakan Aday kerjakan sendiri. Dalam tiga hari, aransemen itu dikirim ke DJ Mbut, hanya melalui sedikit revisi dan finishing, karya tersebut diteruskan ke Daniel Mananta dan tim Indonesian Idol. Seminggu berikutnya, Aday dan DJ Mbut diminta datang ke Jakarta, tepat bertemu dengan Daniel dan tim kreatif.

Tujuan Aday hanya satu: bertemu dengan Daniel Mananta, si pemberi proyek. Konsep aransemennya telah lebih dulu diselesaikan melalui telepon. Ketika akhirnya ia bertemu dengan Daniel, bersalaman, dan mendapat apreasiasi, kelegaan dan antusiasme sudah menjawab penantiannya. Namun, kejutan berikutnya masih ada. Salah seorang staf tim kreatif menghampiri mereka berdua. “Gitarisnya mana?” DJ Mbut langsung menunjuk Aday. “Oke, sebentar lagi kamu GR ya!”

Bermain di atas panggung Indonesian Idol! Sugesti itu akhirnya terwujud! Cobalah tengok rekaman penampilan finalis Indonesian Idol di Youtube. Meski hanya sekelebat terlihat di televisi, antusiasme tercetak jelas di wajah Aday dan DJ Mbut. Tampil di stasiun televisi nasional, disaksikan jutaan penonton secara langsung, adalah pencapaian luar biasa baginya. Pemuda pertama yang membawa nama Kapuas Hulu ke panggung musik nasional. Tak ada yang mengalahkan gejolak kebahagiaan karena merasakan mimpi yang dipercayai sekian lama akhirnya terwujud.

Terlalu dini menyebutkan ramalan kakek Aday tercapai. Aday belum menjadi orang besar. Dunia masih luas untuk ia jelajahi dengan kreativitasnya. Ia kini masih menjadi asisten DJ Mbut, yang merupakan asisten langsung dari Ahmad Dhani, mengerjakan beragam proyek musik untuk artis ternama di program musik televisi nasional. Aday kini berani mengklaim dirinya sebagai komposer musik lepas. Menjustifikasi cintanya pada dunia nada. Menjalani mimpi panjangnya menjadi komposer terkenal di dunia, suatu hari nanti.

Sugesti Jadi Nyata! Berfoto seusai tampil di Indonesian Idol.

Sugesti Jadi Nyata! Berfoto seusai tampil di Indonesian Idol. 

© Agustinus Surya Indrawan

Kembali Pulang

 Agustinus Surya Indrawan, lahir dan besar di Kapuas Hulu. Ritme hidupnya sama seperti pemuda kebanyakan: berawal di desa, pindah ke ibukota kabupaten, menamatkan pendidikan dasar di sana, lalu pergi keluar daerah untuk kuliah dan bekerja. Sama seperti kebanyakan pemuda perantauan, mereka berani menginjakkan kaki keluar daerah sendiri, tetapi tidak semuanya berani memilih untuk kembali pulang. Aday adalah satu dari sedikit orang yang memilih untuk kembali pulang.

Menjadi musisi adalah pekerjaan populer, tetapi belum menjadi pilihan. Di Jakarta sekalipun, hanya segelintir musisi yang mampu bertahan di industri kreatif, apalagi di Kalimantan. Pekerjaan favorit masih pegawai negeri. Panggung hiburan pun hanya sebatas panggung rakyat, tidak ada tempat khusus untuk mengapreasiasi musik. Maka, peluang mewujudkan cintanya terhadap musik, hanya terbuka di Jawa. Pulang ke Putussibau, tempatnya menetap di Kapuas Hulu, hanya untuk berlibur.

Lebaran 2012, sama seperti liburan lainnya, Aday memutuskan terbang pulang. Namun kali itu, sembari menyaksikan pesawat menuruni langit cantik di garis khatulistiwa, Aday memutuskan membuat rencana berbeda. Liburannya ia habiskan nongkrong di kedai kopi sampai larut, mencari lawan berdiskusi untuk mewujudkan mimpinya. Berusaha mengubah kegiatan nongkrong santai menjadi nongkrong kreatif.

Aday melihat potensi dari kota Putussibau, tempat bertemunya perantauan dari desa dan bahkan luar Pulau Kalimantan. Tempat meleburnya berbagai komunitas, tetapi masih membawa ego masing-masing, enggan berkolaborasi, apalagi berbuat lebih untuk orang-orang di luar garis lingkar mereka. “Banyak yang peduli di Putussibau. Mungkin mereka tidak terlihat atau tidak mau bergerak,” tuturnya. Maka bergeraklah Aday, mencari kawan lama yang sudah selesai kuliah, lalu bergerak ke anak-anak SMA.

Musik, sekali lagi, menjadi cara Aday untuk mendekati remaja yang haus akan wadah ekspresi diri. Anak-anak SMA itu pun diajak bermain perkusi, menciptakan musik, dan merancang sebuah konser untuk panggung mereka: konser “Ketupat Merah Putih” pada 17 Agustus 2012. Bersamaan dengan itu, Putussibau Art Community, PAC, hadir di Putussibau. Setelah mendeklarasikan nama PAC, perjuangan Aday belumlah selesai. Ia harus menelan banyak sindiran, cibiran, dan pertanyaan curiga dari komunitas lain, dari sesama penduduk asli Kapuas Hulu.

“’Nuan dari Kapuas Hulu? Saya juga asli Kapuas Hulu.’ Inilah cara saya mengawali pembicaraan dengan orang-orang,” kisah Aday sambil tertawa. Ia tidak bisa membayangkan diskusi panjang yang menguras emosi yang menjadi masa lalunya. Lebih baik berlelah-lelah menjelaskan mimpinya daripada harus ikut-ikutan sinis dan marah dengan orang-orang yang tidak menerimanya. Itu juga yang ia kampanyekan kepada rekan-rekannya di PAC. Keramahtamahan khas Kapuas Hulu, mengundang yang berselisih untuk nongkrong bersama, ngopi, dan bertukar ide. Kini, nama Aday sudah dikenal di Putussibau, nama PAC pun melejit dengan semakin banyak program yang dijalankan. PAC Goes to School, Kapuas Membaca, Color Run Putussibau, bahkan sekadar manggung membawa label komunitas. Bukan banyaknya program yang dicari oleh PAC, melainkan perubahan sikap. Kesediaan mengendurkan ego dan berkolaborasi dengan banyak pihak.

Mendidik lewat musik: memenuhi tuntutan hati untuk berbagi, Aday memilih kembali pulang dari perantauan.

Mendidik lewat musik: memenuhi tuntutan hati untuk berbagi, Aday memilih kembali pulang dari perantauan. 

© Andri Wijaya

Menjadi kutu loncat di beragam bidang sudah menjadi kebiasaan Aday sejak masih SMA. Ia adalah kader konservasi Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), telah dilatih untuk melestarikan lingkungannya, aktif masuk ke hutan untuk melakukan penjajakan alam, dan kini bekerja sama dengan Forum Orang Hutan Indonesia (Forina), WWF, dan Kompakh. Pun ketika berkecimpung di PAC, budaya komunitas tersebut tak jauh dari musik, alam, dan pendidikan.

Kesibukannya di komunitas juga tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai komposer musik. Bukan sekali Aday berpikir untuk kembali lagi ke Jakarta. Peluang karier di sana masih terbuka luas, tetapi ada yang selalu membuatnya betah di sini. “Kalau di Jakarta, kita berharap sama orang lain. Kalau di sini, orang yang berharap sama kita.”

Tugasnya masih jauh dari selesai. Meski komunitasnya itu telah menggemuk, telah menjaring lebih banyak anak muda untuk bergerak bersama, ia terus mendorong mereka untuk mandiri berkreasi hingga suatu saat nanti bisa ada lebih banyak komunitas, lebih banyak mimpi yang diwujudkan secara mandiri oleh mereka. “Aku nggak pernah capek kok. Aku nggak akan berhenti,” Aday tersenyum, menutup percakapan dengan mata merah setelah begadang semalaman mempersiapkan acara PAC untuk esok harinya.

Bahkan di tengah lelahnya, Aday masih tetap mudah ditemui di keda-kedai kopi. Rela menghabiskan waktu untuk berdiskusi hingga tetes kopi hitam terakhir habis, untuk dilanjutkan dengan kopi berikutnya di kedai lainnya. Selalu, saat menghabiskan waktu mendengar ceritanya, siapa pun itu akan tergerak mewujudkan mimpinya masing-masing.


Sumber : wawancara personal dengan Agustinus Surya Indrawan.

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang1%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi18%
Pilih TerpukauTerpukau1%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG VASSILISA AGATA

Setiap orang bebas bernarasi. Setiap orang bebas berekspresi. Nafas ini yang saya bawa saat bekerja sebagai jurnalis, editor, dan akhirnya aktif di Gerakan Indonesia Mengajar. Setahun menjadi guru di ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

"Jika Perlu, Saya akan Bangkit dari Kubur"

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

"...Saya akan bangkit dari kubur"

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

Ini dia Wonder Woman ala Indonesia

Indah Gilang Pusparani2 bulan yang lalu

Hari itu, Seluruh Tepuk Tangan Tertuju Padanya

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie