Sebuah kebanggaan dari kesederhanaan yang jamak. Ya, tulisan ini ditulis atas rasa bangga saya yang berlebih sehingga ingin sekali menunjukkan betapa kerennya Nusantara, melalui kata dan foto.

          Siapa tidak mengenal apa yang dipunyai Indonesia? Semua orang yang kita jumpai selalu paham kalau negara ini unggul karena keberagamannya yang kaya, kalimat ajaib Bhinneka Tunggal Ika seakan menjadi mantra yang telah melekat di otak para manusia Indonesia. Jamaknya suku, budaya, bahasa, agama, serta kekayaan alam sudah bukan lagi menjadi perihal yang sukar diketahui. Lalu, bagaimana bila semua yang banyak tidak terhitung itu disebut sebagai sesuatu yang ‘berantakan’? Negara ini berantakan! Apakah murka dari para manusia Indonesia yang akan didapat? Bisa jadi demikian, dan bisa jadi pula beribu pujian akan mengalir di telinga. Ada banyak makna dalam setiap kata yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berpikir seni, seperti saya. Tajuk pada artikel ini menjadi fokus pertama pembaca, lalu bagaimana reaksi awalnya? Ingin tahu tapi lebih baik tidak, langsung saja pada tur mengenai makna dalam rentetan huruf tersebut.

                

Andong yang melintasi jalanan sekitar Kraton Yogyakarta.
Andong yang melintasi jalanan sekitar Kraton Yogyakarta. ©Petrus Yopa Adiel

          Apa yang sering muncul di benak saya ketika berjalan adalah tentang keadaan dan situasi wilayah yang dikunjungi. Di Kota Yogya dan sekitarnya, saya terkadang dengan sendirinya sumringah melihat ada begitu banyak masjid di setiap jalanan kota maupun desa, beserta dengan bapak-bapak bersarung yang dengan harmoni bersama-sama menuju masjid berlatarkan angkasa merah. Bergeser sedikit lagi menuju pusat kota, tidak sedikit ada gereja-gereja yang berdiri kokoh dihiasi ratusan burung gereja, baik itu Gereja Kristen maupun Gereja Katholik, mereka ada bersama umat yang setia. Bergeser lagi ke wilayah yang sedikit pelosok dan dekat perbatasan, pasang tajam-tajam mata maka tidak sedikit pula bisa ditemui pura yang adem, serta berbagai macam candi yang masih beratmosfer mistik. Apakah itu tidak berantakan? Tempat ibadah berceceran tanpa peduli apa yang menjadi mayoritas di dekatnya. Lalu, ada lagi realita yang bikin saya bungah, yaitu Kota Yogya yang semakin ke sini semakin menjadi Indonesia kecil. Kenapa? Tidak sulit sekarang ini kita jumpai manusia-manusia dari berbagai daerah yang tinggal di Yogya. Dari ujung barat hingga timur Indonesia mereka ada, terutama para kaum muda. Barusan adalah sekilas contoh kecil serta maksud dari ‘berantakan’ yang tertulis. Dan, bagaimana kalau contoh besarnya? Jawaban singkatnya adalah ‘Indonesia’, tapi mari kita coba jabarkan sehingga pertanyaan ‘mengapa?’ bisa terjawab.

Candi Setyaki di dataran tinggi Dieng.
Candi Setyaki di dataran tinggi Dieng. ©Petrus Yopa Adiel
Candi Plaosan di Klaten.
Candi Plaosan di Klaten. ©Petrus Yopa Adiel

         Indonesia sangatlah lekat dengan sejarah peradaban kuno. Satu yang paling sering terlintas ketika menyinggung ini adalah candi. Keberadaan candi bukan hal yang jarang, sejarah yang panjang telah menumbuhkan banyak candi di tanah Sumatera, Jawa hingga Bali. Masing-masing bangunan batu itu punya cerita dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Ah, candi saja beragam, bukan? Tidak ingin mendalami tentang candi tertentu, hanya sekedar informasi yang sedikit dan sekilas namun membuat kita berpikir. Di salah satu dataran tertinggi di Pulau Jawa, tepatnya adalah di Dieng, kita akan disuguhkan dengan megah nan mistiknya beberapa candi sisa mahakarya leluhur. Siapa tidak mengenal Candi Arjuna? Candi Gatotkaca? Candi Bima? Dan lainnya yang mendiami dataran tinggi Dieng? Kita pasti mengenal karena kepopuleran mereka yang mampu berdiri kokoh di tempat yang sangat tinggi dan sangat amat dingin. Oh, dan bagaimana bisa leluhur kita melakukan itu?

Anak-anak menyempatkan diri memasuki Pura Jagatnatha, Denpasar.
Anak-anak menyempatkan diri memasuki Pura Jagatnatha, Denpasar. ©Petrus Yopa Adiel

          Candi selalu identik dengan keyakinan Hindhu dan Buddha, penghuni sekitar candi pastilah manusia-manusia berkeyakinan itu karena pembangunan candi adalah suatu kebutuhan, entah untuk ibadah atau yang lain. Mungkin dulu memang begitu, tetapi lihatlah di sekitar kita bila sedang berada di wilayah Dieng, ada begitu banyak masjid yang cantik dan mencolok. Apakah suatu keganjilan? Bukan, ini satu bukti keberantakan yang ada di Indonesia. Sebuah keberantakan yang indah secara visual dan batin. Jadi teringat satu keunikan yang ada di Dieng, yaitu mengenai peradaban Jawa kuno, Hindu, dan Islam yang berpadu, akan sangat terlihat kebenarannya ketika kita mau menyelami berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat Dieng, terutama tarian dan upacara adatnya. Hm, keberantakan ternyata ada sedari masa lampau.

          Hidup berdampingan dangan keberagaman menjadi kewajiban dan kenyataan yang harus diterima bila tinggal di Indonesia. Namun perlu digarisbawahi bahwa keberagaman tidak selalu tentang keyakinan dan budaya, bagaimana kalau keberagaman dibicarakan dari sudut pandang kekayaan alamnya? Indonesia juga sangat berantakan perihal itu, alamnya selalu tidak terduga bila kita mau jelajah lebih jauh lagi. Dari Dieng yang merupakan wilayah pegunungan super dingin, ajaib dengan banyaknya telaga, rentetan candi, kawah-kawah yang tidak pernah tidur serta endemiknya pohon Carica yang enak. Tidak seluruhnya di Indonesia seperti Dieng, bergeser ke selatan maka dijumpailah dataran yang lebih rendah, menjorok ke laut dengan panasnya yang pas serta dinginnya yang pas. DIY tentunya, wilayah yang dibentengi oleh alam  Pegunungan Menoreh di barat, Gunung Merapi di utara, Perbukitan Seribu di timur dan Samudra Hindia di selatan. Di dalam kurungan itu ada lebih banyak lagi serpihan surga, kita bisa temukan dataran tinggi, sungai, berbagai situs sejarah, hutan, padang pasir, dataran kering, dataran subur, pantai pasir putih hingga pasir pantai hitam. Apa lagi yang dicari?

Pegunungan dan ladang di Dieng.
Pegunungan dan ladang di Dieng. ©Petrus Yopa Adiel

          Ada banyak keajaiban, seperti seakan Tuhan kala itu menciptakan tanah ini sambil tersenyum, mungkin juga terharu dengan karya sendiri. Lalu mari terbang ke Bali, pulau yang diciptakan sengaja mirip dengan surga, menjadi faktor kesulitan untuk menuliskan apa yang dimaksud hati… jangan banyak bertanya bagaimana cara melampiaskan itu, merasakan adalah cara paling dianjurkan bagi para pemburu kenikmatan surga! Omong-omong, apakah itu tidak berantakan? Itu sungguh amat sangat berantakan, Indonesia adalah keberantakan yang sengaja Tuhan cipta, serpihan-serpihan yang Tuhan taburkan secara ngawur karena terlalu girangnya mencipta.

Pemandangan Sungai Oya dari atas Jurang Tembelan, Bantul.
Pemandangan Sungai Oya dari atas Jurang Tembelan, Bantul.©Petrus Yopa Adiel
Panorama bebatuan karang Pantai Ngandong menjelang matahari terbenam, Gunungkidul, DIY.
Panorama bebatuan karang Pantai Ngandong menjelang matahari terbenam, Gunungkidul, DIY. ©Petrus Yopa Adiel
Situs Arca Gupolo yang tersembunyi di hutan perbukitan Prambanan.
Situs Arca Gupolo yang tersembunyi di hutan perbukitan Prambanan. ©Petrus Yopa Adiel
Sehabis hujan di Curug Lepo yang masih alami, Bantul, DIY.
Sehabis hujan di Curug Lepo yang masih alami, Bantul, DIY. ©Petrus Yopa Adiel
Kera ekor panjang di Mandala Suci Wenara Wana, Bali.
Kera ekor panjang di Mandala Suci Wenara Wana, Bali. ©Petrus Yopa Adiel
Kedung Kandang, air terjun bertingkat di perbukitan Gunungkidul, DIY.
Kedung Kandang, air terjun bertingkat di perbukitan Gunungkidul, DIY. ©Petrus Yopa Adiel

         Dalam perjalanan, apa yang kita lihat akan selalu lebih indah. Mungkin saya belumlah sempat menjelajahi Nusantara secara utuh dan menyeluruh, ada pembaca yang pasti lebih kaya pengalaman akan itu, mungkin juga ada yang tidak sekaya pengalaman saya. Tapi percayalah, itu semua berantakan, bukan? Di manapun kita tinggal, kita adalah penghuni satu serpihan surgawi yang menunggu untuk dinikmati lebih intim lagi. Contoh kecil dari Dieng, DIY, dan Bali tidaklah cukup untuk mendeskripsikan keberantakan negeri ini. Buka mata, dan damaikan hati untuk Indonesia. Menyelamlah dalam berantakannya negeri ini, dan temui kebanggan dari kesederhanaan yang jamak. Lagi saya sampaikan, bahwa melalui tulisan ini saya berbangga karena berkesempatan menikmati beberapa keberantakan, foto dan tulisan bukanlah apa-apa, sangat jauh dari apa yang batin saya ukir ketika menikmatinya secara langsung. Maka dari itu, segeralah keluar dari rumah dan cari kebanggaan di negeri ini lalu bersama berapi-api berseru "Indonesia keren!".

Matahari terbit dari dataran tinggi Dieng.
Matahari terbit dari dataran tinggi Dieng. ©Petus Yopa Adiel

Biarkan Indonesia tetap berantakan.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI#2

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu