Lupa Sandi?

Semangat Positif dan "Surat dari 2045"

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
0 Komentar
Semangat Positif dan

Ada yang bilang:

"Satu hal yang membahayakan dari menurunnya minat membaca adalah: meningkatnya minat berkomentar."

Tak jelas siapa pencetus quote ini pertama kali, akan tetapi setidaknya aku sering melihatnya di jajaran timeline media sosial sebagai pengingat akan pentingnya budaya membaca sebelum berbicara dan juga berkomentar. Budaya membaca sangatlah penting, karena dengan membaca otak kita memiliki cukup banyak nutrisi dan amunisi untuk berkembang menjadi lebih baik, demi menebar kebaikan, juga menelurkan pemikiran-pemikiran positif nan bermanfaat, seperti apa yang coba disuguhkan dalam tulisan-tulisan terbaik yang ada di dalam web yang kalian baca saat ini, Good News From Indonesia.

Sedikit bergeser dari masalah membaca, meski masih terletak dalam bingkai yang sama, literasi. Komponen yang tak kalah penting dari membaca adalah menulis. Menulis menjadi ujung tombak dari peradaban, bahkan ada yang bilang "Jika kau ingin menorehkan sejarah, maka menulislah! Dan kau akan abadi". Sungguh kata-kata yang indah bukan? Tapi kuharap kata-kata indah itu tak hanya berakhir menjadi caption 'ala-ala' atau hanya kalimat retorika tanpa makna.

Baca Juga

Menulis, adalah bagian paling melelahkan dari menceritakan lagi sebuah kisah, menyalin sejarah, juga mengurai simpul-simpul pemikiran dari sudut pandang tiap orang. Dalam tulisan kali ini aku akan sedikit membahas tentang mengapa menuliskan semangat positif itu perlu, dan bahkan harus dilakukan. Bukan untuk menggurui atau memberi tahu apa yang sebenarnya telah kalian ketahui sejak sebelum singgah di sekolah dasar, hanya saja mungkin apa yang kutuliskan kali ini sedikitnya bisa menjadi pengingat bagi diriku sendiri, dan mungkin juga bagi seluruh pembaca setia GNFI.

"Pengingat untuk apa? Toh, aku bukan pelupa."

Sebagai pengingat untuk selalu berpikir sebelum menulis, serta pengingat untuk memprediksi konsekuensi sebelum menuangkan pemikiran lewat kata-kata.

Sebelum kubahas tentang alasan utama mengapa kita harus menuliskan hal-hal positif dan konstruktif, akan sedikit kuulas tentang gambaran prediksi kondisi negeri ini, berdasarkan cuplikan kisah pilu dari Eka. Eka adalah seorang tokoh fiksi ciptaan, yang melakukan perjalanan panjang melewati masa dengan mesin ciptaannya. Berikut cuplikan isi suratnya:

Betapa mirisnya jika benar-benar terjadi, dan tentunya kita tak pernah ingin hal itu terjadi di masa depan
Betapa mirisnya jika benar-benar terjadi, dan tentunya kita tak pernah ingin hal itu terjadi di masa depan (baca selengkapnya via link yang tertulis di sumber)

Miris, mengerikan, dan sangat memprihatinkan, kondisi sebuah negeri yang semrawut akibat ketidakmampuan generasi sebelumnya untuk menularkan semangat positif dan optimisme mereka kepada generasi selanjutnya. Dalam kisah pilu itu diceritakan jelas, bahwa Eka hidup sekitar dua dekade setelah kita. Kupikir banyak yang bisa berubah setelah dua dekade, bahkan mungkin nantinya dunia ini akan jauh berbeda dibandingkan saat ini. Prediksi tentang perubahan ini bukan tak berdasar, karena siapa sangka sebuah dunia virtual yang sekarang kita singgahi ini (baca: internet) embrionya dikembangkan sejak tahun 1950. Dan apa yang terjadi di dua dekade setelahnya? Surat elektronik tercipta, yang menjadi cikal bakal dari basis alat komunikasi tercepat kita abad ini. Dan ini baru secuil contoh tentang penemuan di bidang teknologi. Lalu apa kabar tentang penemuan-penemuan lainnya? Sudah pasti tak dapat dibendung lagi perkembangannya, meski hanya dalam dua dekade.

Oke, mari kita kembalikan pada jalur topik yang akan kita bahas kali ini. Mengapa harus menulis sesuatu yang positif?

  1. Menjadi sumber inspirasi, tentunya setiap orang ingin agar namanya dikenal baik oleh khalayak sebagai pribadi yang baik, dan juga bermanfaat. Apalagi jika nama kita sampai dikenal sebagai sumber inspirasi dari sebuah karya luar biasa yang nantinya akan berguna bagi umat manusia. Begitu pula dalam hal menulis, menelurkan pemikiran "semangat positif" dalam wujud kombinasi kata-kata adalah hal utama yang mendasari baik/tidaknya generasi setelah kita. Siapa sangka penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada tahun 1453 M terinspirasi "semangat positif" dari sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan pada kisaran tahun 627 M. Dan semuanya tertuang dalam tulisan (untuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan dalam Hadits oleh Imam Muslim), dan dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya konsekuensi dan efek dari sebuah tulisan bagi generasi selanjutnya.
  2. Sebagai salah satu media citra positif, kita menulis tentang keragaman budaya, suku, bahasa, agama, dan segala harmonisasi yang ada di Indonesia, siapa yang membaca? Yakin, bukan hanya orang Indonesia saja, mengingat layanan aplikasi penerjemah sudah menjamur di seantero jagat maya. Lalu adakah alasan untuk tidak menuliskan Good News From Indonesia? Sedangkan yang menjadi konsumen dari hasil tulisan kita adalah khalayak dari seluruh dunia.
  3. Menambah wawasan, tak bisa dipungkiri segala hal yang berbau "semangat positif", mayoritas akan menjadi landasan ilmu pengetahuan. Analoginya begini, jika dulu Albert Einstein tidak menuliskan teori-teorinya dalam sebuah referensi ilmiah, mungkinkah para engineer masa kini mampu menelurkan penemuan-penemuan berbasis landasan teori relativitas? Jawabannya "mungkin saja sih", tapi perjuangan peneliti generasi setelahnya tak akan semulus dan semudah ketika Einstein telah rampung dalam menyusun manuskrip-manuskrip temuannya ke dalam sebuah tulisan sistematis (teori relativitas dikembangkan oleh Einstein pada kisaran tahun 1905-1915 berupa teori relativitas khusus dan teori relativitas umum).

Aku pikir tiga alasan pokok itu sudah cukup untuk menjadikan "semangat positif" sebagai landasan dalam setiap karya tulisan yang kita hasilkan. Memang, mencari popularitas singkat itu mudah hanya dengan memasang publikasi (baik berupa tulisan, gambar, video, dll) yang kontroversial dan berpotensi menggemparkan, tapi apakah akan bertahan lama? Wong, ilmu pengetahuan saja sifatnya nisbi lho, apalagi tulisan hoax dan kontroversi. Mungkin sejalan dengan fenomena 'om telolet om', yang cepat tersebar tapi booming-nya cuma sebentar, kurasa akan berakhir demikian pula dengan tulisan-tulisan destruktif dan "bernada negatif".

#KotakAjaib


Sumber:

  1. Cuplikan surat "Salam dari 2045": https://tanpa-inspirasi.blogspot.com/2017/02/salam-dari-2045-eka-lewat-mesin-waktunya.html
  2. Suntingan quote di awal: jajaran tweet di linimasa twitter, juga sosial media lainnya
  3. Tahun pengembangan internet: Ryan, Johnny. 2013. A History of the Internet and the Digital Future. Britania Raya: Reaktion Book Ltd. (ISBN 978 1 78023 112 9)
  4. Penemuan di 1970an: https://www.timetoast.com/timelines/inventions-of-the-1970s
  5. Olahan tentang sejarah Muhammad Al Fatih: Al Salaabi, Ali Muhammad. 2008. Sultan Muhammad al Fatih: The Conqueror of Constantinople. Al Firdous Ltd. (ISBN 1874263043)
  6. Tentang teori relativitas: Einstein, Albert. 1916. Relativity: A Special and General Theory. Methuen & Co. Ltd.

Pilih BanggaBangga59%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi36%
Pilih TerpukauTerpukau5%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RAHMANDHIKA FIRDAUZHA HARY HERNANDHA

Mahasiswa di National Central University, Taiwan. Mengambil bidang study Material (ilmu bahan) dan fokus pada Magnesium sebagai obyek riset sejak S1. Selain kuliah, hobi sampingan saya adalah membaca ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas