Lupa Sandi?

Tak Asyik Makan Kalau Tanpa Kerupuk

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Tak Asyik Makan Kalau Tanpa Kerupuk

Dalam hal makanan, orang Indonesia memang lihai soal memadumadankan berbagai makanan. Makanan dari mulai yang berat hingga ringan, bisa diketemukan ke satu porsi kuliner khas. Didukung dengan melimpahnya rempah-rempah, orang Indonesia senang bereksperimen dengan bahan-bahan tersebut. Dan hal ini yang menjadi alasan mengapa satu porsi makanan orang Indonesia itu bisa heterogen, dari mulai nasi, sagu, mie, sayur-sayuran, hasil olahan hewani, sampai gorengan. Soal rasa juga tidak perlu diragukan lagi, bumbu-bumbu dengan rasa yang kuat menjadi ciri khas orang Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Satu porsi rujak misalnya, sudah membuktikan kalau makanan orang Indonesia itu heterogen (© As'ad As'ari dari Flickr.com)

Bicara soal makanan di Indonesia, pasti akrab dengan kerupuk. Jika kita melihat berita yang menayangkan keberangkatan jemaah haji Indonesia, maupun membaca kisah orang-orang yang pernah tinggal di luar negeri, pasti beberapa diantaranya merindukan pelengkap makanan seperti kerupuk atau sengaja membawa kerupuk. Ya meskipun yang pertama dirindukan adalah sambal Indonesia, tapi kenyataannya orang Indonesia memang sulit jika tak mengonsumsi kerupuk saat makan. Rasanya seperti kurang pas. Oleh sebab itu, banyak warteg dan resto yang menyediakan kerupuk sebagai teman makan.

Meski hanya kerupuk, kerenyahan kerupuk khas Indonesia begitu digemari beberapa negara di Asia seperti Tiongkok dan Korea. Dilansir dari Beritagar.id, kedua negara tersebut pernah mengeluarkan budget sebesar USD950.000 atau setara Rp 12,9 miliar untuk membeli kerupuk dari Indonesia.

Dikutip dari CNN, yang mengulas tentang alasan ilmiah untuk mencari tahu penyebab makanan renyah begitu digandrungi oleh banyak orang. Dalam laporan tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Flavour, yang diteliti oleh Charles Spence, profesor psikologi eksperimental di Oxford University, yang mengulas berbagai penelitian yang berkaitan dengan suara dan persepsi rasa mengungkapkan bahwa suara makanan ternyata sangat berpengaruh pada pengalaman bersantap.

“Otak kita sepanjang waktu berusaha mencoba untuk mengambil korelasi dari lingkungan sekitar.” Kata Spence. Menurut penelitian ini, orang-orang menggunakan suara makanan tersebut untuk menilai bagaimana kelezatan rasa masakannya, bahkan ketika mereka tidak menyadarinya.

Nah, kerupuk sendiri di Indonesia banyak macamnya. Berikut adalah ragam kerupuk yang akrab di tengah masyarakat Indonesia.

Kerupuk Uyel

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Krupuk Uyel (© budaya-indonesia.org)

Nama lain kerupuk jenis ini adalah kerupuk kampung, karena banyak dijumpai di banyak warung kelontong di perkampungan. Nama lainnya, biasa disebut dengan kerupuk blek, lantaran kerupuk ini biasa dijual di dalam kaleng-kaleng kerupuk yang bentuknya kotak berukuran besar dan benda ini juga menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia.

Kerupuk Udang dan Ikan

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kerupuk Udang (© Sigit Djatmiko dari Flickr.com)

Kerupuk jenis ini terbuat dari tepung pati, rebon, atau remah ikan asin kemudian dicampur dengan rempah-rempah. Biasanya, kerupuk udang sering dijumpai di acara hajatan yang menjadi teman saat melahap Soto, Lontong Sayur, atau Rawon.

Kerupuk Kulit

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kerupuk Kulit (© asliindonesia.net)

Bahan dasar kerupuk ini sesuai dengan namanya yaitu terbuat dari kulit sapi yang awalnya dijemur terlebih dahulu. Makanan yang punya nama akrab rambak bagi orang Jawa dan Jengek untuk orang Padang ini, punya rasa gurih yang cukup menggoda. Rasa gurih ini muncul karena kandungan lemak yang ada pada kulit sapi. Biasanya kerupuk jenis ini menjadi teman makan saat menyantap bakso.

Kerupuk Wedi

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kerupuk Wedi (© Widianto Mukhodim dari Flickr.com)

Kerupuk wedi terbuat dari tepung tapioka, bawang putih, garam, dan air. Beberapa sumber menyebutkan kerupuk ini khas dari Cirebon. Tetapi, beberapa daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto juga memproduksi kerupuk jenis ini. Uniknya, kerupuk ini digoreng menggunakan pasir, nah oleh karena digoreng dengan pasir inilah, oleh orang Cirebon diberi nama Wedi yang artinya pasir. Kerupuk ini juga punya beberapa nama yang unik seperti kerupuk upil atau kerupuk melarat. Biasanya kerupuk yang satu ini menjadi camilan yang kemudian dicocol ke petis.

Kemplang

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kemplang (© Devi Indriyani dari Flickr.com)

Kerupuk kemplang merupakan kerupuk khas Palembang dan Lampung. Terbuat dari tepung sagu dan gilingan daging ikan tengiri atau ikan patin, kemudian ditambahkan bawang putih dan garam, dimasak dengan cara di panggang. Tekstur kemplang sedikit keras jika dibandingkan dengan kerupuk biasa atau kerupuk kampung. Kerupuk jenis ini biasa dijadikan oleh-oleh khas Palembang. Selain sebagai teman makan, juga biasa disantap bersama sambal yang terbuat dari gula merah, garam, cabe, asam, dan terasi.

Rempeyek

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Rempeyek (© resepmasakankuliners.blogspot.co.id)
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Peyek menjadi pelengkap setia nasi pecel (© As'ad As'ari dari Flickr.com)

Rempeyek atau biasa disebut peyek, kerupuk yang satu ini juga tak kalah akrab bagi masyarakat Indonesia, biasanya di pulau Jawa. Kerupuk berbahan dasar utama tepung beras, tepung tapioka, kunyit, ketumbar, bawang putih, dan daun jeruk ini umumnya menjadi pelengkap makan nasi pecel. Dalam pembuatannya, dibutuhkan ketelatenan untuk membuat adoanan yang baik, sehingga menghasilkan renyah dan gurih yang pas. Pada saat penggorengan, rempeyek biasa dibubuhkan kacang tanah kupas atau agar lebih istimewa, biasanya ditambahkan rebon.


Sumber : Dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga76%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara