Lupa Sandi?

Menjadikan 'Warkop' sebagai Etalase Kopi Nusantara

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Menjadikan 'Warkop' sebagai Etalase Kopi Nusantara

Kabar soal kopi Indonesia mendunia itu sudah biasa di telinga kita, tapi apa kabar kita sendiri terhadap komoditas unggulan negeri satu ini? Khususnya para pecinta kopi, apakah selalu minum kopi-kopi nusantara? Di mana biasanya jajan kopi untuk menemani menikmati hujan dan sore?

Suatu ketika saya jalan-jalan di daerah Dipati Ukur, Bandung. Waktu itu di daerah sana baru saja dibuka sebuah warung kopi asal Amerika dan menawarkan diskon yang menggiurkan demi menarik pembeli. Saya sendiri sempat dapat notifikasi promosi diskon melalui SMS dari gerai kopi tersebut ketika sedang lewat daerah sana. Tempatnya strategis sekali karena berdekatan dengan kampus sehingga bisa dipastikan warung kopi ini ke depannya akan laris manis dan ramai. Benar saja, sekitar satu bulan setelah resmi dibuka, gerai kopi itu selalu ramai dari pagi sampai malam.

Memang, di gerai kopi tersebut kopi Sumatera dan Toraja digadang-gadang menjadi jenis kopi unggulan yang ditawarkan. Namun, terkadang yang membuat miris adalah ketika kita melihat ke warkop-warkop lokal. Di sana justru tidak menawarkan kopi nusantara yang original melainkan kopi kemasan. Padahal, jumlah pengunjung warkop lokal tersebut sebenarnya juga ramai. Sama seperti pengunjung di warkop asing. Maka, sebenarnya warkop lokal tersebut bisa menjadi etalase kopi nusantara.

Setidaknya hal ini yang sekarang sedang diupayakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Menurut Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik, sekarang pihaknya sedang menggalakkan peningkatan potensi sumber daya alam di sub sektor kuliner, yaitu kopi. Caranya adalah dengan mengubah paradigma masyarakat terhadap kopi dari komoditas menjadi gaya hidup dan menjadikan warkop sebagai etalase kopi nusantara.

Baca Juga
Paling tidak, gerai kopi lokal modern sudah memulai untuk menjadi etalase kopi nusantara (foto: minumkopi.com)
Paling tidak, gerai kopi lokal modern sudah memulai untuk menjadi etalase kopi nusantara (foto: minumkopi.com)

Sederhananya, dari penggalakan ini Bekraf ingin masyarakat kita lebih mencintai kopi dalam negeri di gerai dalam negeri pula. Kita tidak lagi membicarakan soal menduniakan kopi tapi agar masyarakat Indonesia lebih kreatif dalam memanfaatkan biji kopi sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif.

"Mindset -nya diubah. Bukan menduniakan kopi, tapi membuat masyarakat mencintai kopi kita, bukan kopi outlet asing. Buat kopi Indonesia sebagai gaya hidup masyarakatnya sediri," kata Ricky seperti ditulis CNN Indonesia.

Ricky menyebutkan, perubahan paradigma itu bisa diawali dengan membangun warung-warung kopi seduh non-sachet dengan konsep yang lebih Indonesia.

Sebenarnya memang budaya ngopi di warung ini sudah ada di mana-mana, banyak daerah-daerah di Indonesia yang warung kopi alias 'warkop'-nya bukan lagi sekadar tempat istirahat melainkan juga tempat menikmati kopi. Bulan Desember lalu saya pergi ke Jember dan sempat berkunjung ke warkop salah seorang kawan di sana. Yang saya amati, nyatanya masyarakat kita masih sangat suka ngopi di warung kopi nan sederhana karena harganya yang tidak sampai bikin kantong bolong. Banyak sekali anak-anak muda Jember yang rehat di sana malam-malam, melepas penat setelah kuliah seharian.

Gerai kopi lokal yang sederhana pun bisa menjadi etalase kopi nusantara (foto: zarkasyi.id)
Gerai kopi lokal yang sederhana pun bisa menjadi etalase kopi nusantara (foto: zarkasyi.id)

Kita juga bisa mencontohkan Gresik sebagai salah satu daerah yang punya banyak warkop. Tak ayal daerah ini punya sebutan "Kota 1001 warung kopi". Di Gresik ngopi sudah menjadi budaya turun-temurun hingga berimbas pada banyaknya warkop yang bisa kita jumpai di tiap sudut kota. Konon, pada zaman dulu ngopi  menjadi waktu berkumpulnya para nelayan untuk bertukar aspirasi di tengah waktu istirahat melaut.

Kalau menurut seniman Gresik Nizam Zuhri Khafid, warkop menjadi sarana bertukar informasi dan berdiskusi. Dulu warkop juga dimanfaatkan oleh kiai kampung dan penceramah agama untuk berinteraksi.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang rasa-rasanya minum kopi di outlet asing lebih bergengsi dan tentunya varian minuman olahan kopinya lebih banyak. Tak lupa juga tempatnya sangat nyaman untuk berlama-lama nongkrong. Tentunya kita tidak ingin masyarakat jadi terbuai ngopi di warkop asing sehingga agaknya langkah Bekraf untuk lebih mengeksiskan warkop-warkop ala Indonesia ini amat tepat.

"Memang selama ini sudah banyak, tapi ini bisa diubah dengan cara pendekatan yang lebih nusantara, classy dan murah. Selama ini kenapa masyarakat lebih tetarik minum kopi merk asing daripada minum di warung kopi, karena harga dan gengsi saja. Ini yang perlu diubah," kata Ricky.

Para sesepuh kita dulu membuahkan pemikiran besar untuk bangsa dalam rangka mencintai Indonesia juga lewat warung kopi lokal. Maka, untuk mencintai Indonesia, tak perlu usaha yang terlalu besar. Mulai ngopi  di warkop-warkop lokal, kita bisa melanjutkan mencintai Indonesia.


Sumber : CNN Indonesia

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli11%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi56%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie