Lupa Sandi?

Regenerasi PPI Taiwan: Dari Persaudaraan Menuju Kemanfaatan

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
0 Komentar
Regenerasi PPI Taiwan: Dari Persaudaraan Menuju Kemanfaatan

Sabtu, 18 Maret 2017, menjadi tanggal bersejarah bagi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (PPI Taiwan). Pasalnya, pada tanggal tersebut organisasi yang dideklarasikan pada tanggal 2 Mei 2010 ini, kembali melakukan regenerasi kepemimpinannya melalui agenda tahunan Sidang Istimewa. Kali ini Sidang Istimewa diselenggarakan di kampus National Central University, Taoyuan. Lebih dari 50 orang peserta Sidang Istimewa saat itu tak hanya berasal dari wilayah utara ataupun tengah, bahkan delegasi dari selatan seperti Tainan dan Kaohsiung pun turut berpartisipasi.

Pelaksanaan Sidang Istimewa kali ini dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat, dengan penampilan tim Choir dan regu tari Saman dari National Central University sebagai pembuka. Lalu acara berlanjut dengan sambutan-sambutan, yang salah satunya disampaikan oleh perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei sebagai induk koordinasi dari segala organisasi Indonesia yang ada di Taiwan. Setelah jeda makan siang dan sholat Dhuhur, agenda berlanjut dengan pemaparan Laporan Pertanggung Jawaban Ketua Umum PPI Taiwan 2015/2017, Pitut Pramuji (mahasiswa PhD di National Chengchi University). Banyak masukan dan tanya-jawab yang berlangsung dalam pemaparan LPJ tersebut, baik dari Badan Musyawarah (Bamus) maupun dari peserta Sidang Istimewa lainnya. Hingga akhirnya LPJ ditutup dengan pernyataan diterimanya laporan tersebut oleh Bamus.

Pukul 15.45 peserta sidang yang telah menyelesaikan sesi jeda sholat Ashar kembali ke dalam ruang Sidang untuk melaksanakan agenda selanjutnya, yaitu penetapan anggota Badan Musyawarah yang baru. Sebagai wujud regenerasi yang positif, terjadi peningkatan jumlah delegasi untuk periode setahun ke depan. Ada 40 orang anggota Badan Musyawarah yang terpilih sebagai delegasi dari berbagai kampus di Taiwan untuk masa bakti 2017/2018. Setelah itu, acara berlanjut dengan pemaparan program kerja dari calon Ketua Umum PPI Taiwan untuk masa bakti 2017/2018. Tak berlangsung lama, agenda dilanjutkan dengan tanya jawab guna menggali lebih dalam tentang program-program yang akan dibawa oleh calon Ketua Umum.

Pemilihan Ketua Umum PPI Taiwan kali ini relatif singkat, karena memang hanya ada satu calon saja, yaitu L. Tri Wijaya N. Kusuma (mahasiswa PhD di National Central University). Visi yang dibawa untuk kepengurusan ke depan sengaja ia pilih sebagai semangat baru untuk nafas pergerakan PPI Taiwan. Jika di kepengurusan Pitut mengusung Persaudaraan dan Tanggung Jawab, kali ini Tri membawa dua nilai utama: Profesionalisme dan Kekeluargaan yang bermuara pada nilai Bermanfaat. 

"Jelas, untuk mencapai tujuan secara optimal kita perlu profesional, tapi untuk bergerak bersama-sama tak bisa dipungkiri kita memerlukan nilai kekeluargaan. Dan muara dari tujuan  kita ada di sini, tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia, adalah satu: untuk bermanfaat!" papar Tri.

Selesai memaparkan Visi dan program unggulan yang akan dijalankan untuk PPI Taiwan 2017/2018, calon Ketua Umum harus keluar dari ruang sidang, karena agenda harus dilanjutkan dengan sesi musyawarah oleh seluruh anggota Bamus dengan peserta Sidang Istimewa lainnya. Di sesi ini semua peserta sidang berhak berbicara, sebelum pada akhirnya Pimpinan Sidang yang akan menyimpulkan hasilnya. Tak kurang dari 30 menit musyawarah berlangsung. Akhirnya dengan mempertimbangkan berbagai masukan, secara sepakat forum mengerucutkan pendapat pada penetapan L. Tri Wijaya N. Kusuma sebagai Ketua Umum PPI Taiwan masa bakti 2017/2018.

Serah terima jabatan Ketua Umum PPI Taiwan (dari kiri: Pitut Pramuji dan L. Tri Wijaya N. Kusuma)
Serah terima jabatan Ketua Umum PPI Taiwan (dari kiri: Pitut Pramuji dan L. Tri Wijaya N. Kusuma) © @cuwiifebriana

Moment regenerasi semacam ini menjadi sangat penting bagi kami, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di luar negeri. Karena moment-moment seperti inilah yang bisa memberikan kesan bahwa keberadaan kami di sini bukan tanpa alasan. Takdir yang melemparkan kami jauh dari tanah air, harus bisa disikapi dengan positif, dengan sebuah penyatuan gagasan, pemikiran, dan juga pergerakan demi sebuah kemanfaatan atas nama bangsa Indonesia.

Salam Perhimpunan!

#KotakAjaib

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang67%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RAHMANDHIKA FIRDAUZHA HARY HERNANDHA

Mahasiswa di National Central University, Taiwan. Mengambil bidang study Material (ilmu bahan) dan fokus pada Magnesium sebagai obyek riset sejak S1. Selain kuliah, hobi sampingan saya adalah membaca ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Paduan Suara Voca Erudita Raih Piala di Spanyol

yoan syafia harnum2 bulan yang lalu

"Indonesia is the future lho, Mas!"

Akhyari Hananto4 bulan yang lalu

Tingkatkan Literasi Baca ala Pusing Deprok

Adriani Zulivan7 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie