“Tuhan itu luar biasa adil dan akbar. Ikan di laut tidak usah kita kasih makan. Kita jaga serta ambil dengan cara tidak semena-mena.” Begitulah tepatnya quote yang diucapkan oleh Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia di depan para pengusaha ikan di tahun 2014 silam. Terkait gebrakannya yang selalu menjadi topik pembicaraan dan disoroti karena keberaniannya dalam bertindak, sebetulnya bagaimana kondisi nelayan-nelayan kita di perairan Indonesia?

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Melalui televisi, tentu kita sudah banyak mendengar kabar-kabar tentang nelayan-nelayan kita di negeri ini, entah itu berita baik terkait perkembangan mereka pun tentang hal-hal yang masih perlu dibenahi hingga detik ini. Salah satu yang masih dalam pembenahan dan penginovasian dari waktu ke waktu ialah hubungan yang selaras antara nelayan dan juga teknologi. Farid Naufal bersama kedua rekannya Indraka Fadhlillah dan Utari Octavianty hadir bersama Aruna Indonesia.

Farid dan kedua rekannya mendirikan Aruna Indonesia bagi nelayan-nelayan di negeri ini lantaran prihatin dengan kondisi perikanan di Indonesia. “Seharusnya dengan segala potensi yang ada, bidang kelautan dan perikanan Indonesia bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Nelayan-nelayan hidup sejahtera dan daerah pesisir-pesisir kita maju. Namun yang terjadi adalah sebaliknya,” tutur Farid.

Ia juga menambahkan bahwa penghasilan rata-rata nelayan menurut BPS, hanya sebesar Rp1,1 juta per bulan dan dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah nelayan menurun sebesar lima puluh persen. Tak hanya itu, tingkat konsumsi ikan nasional pun masih rendah dibandingkan negara lain, yakni sekitar 40 kilogram per kapita setiap tahunnya.

Melihat fenomena tersebut, mereka melakukan riset selama 2 tahun. “Indraka sampai ikut nelayan melaut, tidur di masjid, mengunjungi kampung nelayan di pelosok Jawa Barat, supaya tahu apa saja permasalahan nelayan dan apa saja yang bisa kita bantu nantinya,” kenang Farid.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Dari sana, informasi semua terkumpul dan lantas mereka menciptakan sebuah sistem yang solutif bagi permasalahan di industri perikanan dari hulu ke hilir. Diantaranya, memperbaiki sistem pengawasan komoditas, membantu nelayan memasarkan hasil laut tanpa harus melalui tengkulak, serta memudahkan konsumen untuk mendapatkan komoditas yang diperlukan dengan harga yang masuk akal.

Menyejahterakan nelayan dan perikanan lewat teknologi

Aruna Indonesia kemudian menciptakan teknologi untuk mengumpulkan data-data real time dengan mitra-mitra mereka pun Aruna memiliki aplikasi Enterprise Resource Planning (ERP) bagi nelayan untuk mengelola bisnis perikanan mereka setiap harinya. Aplikasi ini dilengkapi fitur-fitur seperti Point of Sales, pengaturan inventoris, pelaporan, dan masih banyak lagi.

Fitur fitur di Aruna Indonesia
Fitur fitur di Aruna Indonesia

Seperti yang tertera di atas, Aruna saat ini memiliki tiga layanan utama. Pertama Integrated Fishery Management, sistem aplikasi terintegrasi untuk pengelolaan bisnis perikanan. Kedua Fishery Data Intelligent, fitur yang menyediakan data dari sektor perikanan, termasuk persediaan ikan dan jumlah penjualan secara real time. Ketiga Online Fishery Trading, sistem perdagangan ikan dan hasil laut secara online.

Informasi harga, lokasi persediaan, biaya logistik, biaya penyimpanan dan informasi produk lainnya akan dibuka untuk publik demi menciptakan transparansi dalam industri perdagangan ikan di Indonesia. Sedangkan insight yang sifatnya lebih khusus untuk industry hanya akan diberikan ke kalangan terbatas seperti instansi pemerintahan melalui platform big data Aruna.

Saat ini, Aruna Indonesia bermitra dengan 57 koperasi nelayan dan sudah menjangkau sekitar seribu nelayan di Indonesia. Mereka juga menambahkan bahwa harapannya tahun ini bisa berekspansi dan menambah mitra-mitra terkait lainnya.

Indraka Fadhlillah bersama salah seorang nelayan mitra Aruna
Indraka Fadhlillah bersama salah seorang nelayan mitra Aruna

“Di kuartal keempat tahun 2016, kami mendapatkan total pemesanan lebih dari 3500 ton, namun kapasitas koperasi kami hanya mampu menyuplai 100 ton setiap bulannya. Diharapkan dengan adanya tambahan mitra, terjadi peningkatan jumlah transaksi melalui platform kami,” pungkas Farid.

Sumber: id.techinasia.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu