Dunia komedi Indonesia kembali berduka. Sebulan yang lalu, 27 April salah satu pelawak legendaris kita Eko DJ menghembuskan nafas terakhir dalam usia 65 tahun. Kemudian hari ini kabar duka tersiar lagi dengan meninggalnya rekan satu grup lawak Eko, Bambang Gentolet. Ya, keduanya adalah pelawak-pelawak besutan grup lawak tradisional Srimulat.

Banyak media yang menyebutkan bahwa Srimulat adalah grup lawak yang amat melegenda di Indonesia. Sayang sekali kini grup lawak ini sudah tak aktif lagi dan beberapa anggotanya sudah pergi mendahului kita. Namun, pementasan lawak yang ringan dan renyah ala Srimulat tidak akan mudah dilupakan.

Kelompok Srimulat didirikan oleh Raden Ayu Srimulat bersama suaminya Teguh Slamet Rahardjo (Ko Tjien Tiong) sekitar tahun 1950-an. Keduanya adalah orang asli Solo. Pada awalnya, Srimulat adalah kelompok seni suara dan tari bernama Sandiwara Gema Malam Srimulat yang sering tampil di Taman Sri Wedari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kelompok ini mementaskan gending Jawa dan musik keroncong yang dipadu dengan lawakan.

Setahun berdiri, Srimulat pun mendapatkan anggota baru, yakni para pelawak dari Dagelan Mataram seperti Joni Gudel, Bandhempo, dan Atmonadi. Bergabungnya Dagelan Mataram akhirnya mengubah karakter pementasan Srimulat menjadi pertunjukan lawakan.

Srimulat di balik panggung Ria Senayan, Jakarta (foto: twitter/srimulatism)
Srimulat di balik panggung Ria Senayan, Jakarta (foto: twitter/srimulatism)

Tetap istiqomah, Srimulat melebarkan sayap dengan pentas ke berbagai daerah dan kota di seluruh Pulau Jawa sampai ke Medan, Banjarmasin, Balikpapan, dan Palangkaraya. Kemudian pada akhir tahun 1960-an, Gema Malam Srimulat suatu ketika pentas di Pekan Raya Surabaya yang kini dikenal dengan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Lantas Srimulat pun jadi pengisi tetap di sana dan mengganti namanya menjadi Srimulat Review. 

Dengan konsep pementasannya yang menonjolkan lawakan, akhirnya Srimulat Review semakin dikenal sebagai grup lawak. Pada tahun 1963 namanya berubah menjadi Aneka Ria Srimulat dan terus mengembangkan diri dengan mendirikan panggung tetap di Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta. Srimulat pun menduduki masa jayanya pada tahun 1970-1980-an sebagai grup lawak paling populer di Indonesia.

Srimulat menjadi salah satu pentas yang paling ditunggu oleh masyarakat Indonesia pada masa-masa itu. Banyolan, lawakan, dan kisah-kisah yang dibawakan setiap pentas Srimulat amat dicintai oleh masyarakat Indonesia karena kesederhanaannya dan kesahajaannya. Marketeers menulis, Srimulat adalah merek yang kuat dan legendaris.

Para pelawak perintis Indonesia
Para pelawak perintis Indonesia

Masyarakat semakin mengenal grup lawak ini sejak muncul di TVRI pada tahun 1981. Dari sini Srimulat mendapatkan semakin banyak penggemar. Semakin banyaknya penonton, Srimulat pun menjadi anak kesayangan TVRI. Seperti ditulis Marketeers, pada tahun 1985, kru Srimulat berjumlah 77 orang. Bila ditambah dengan artis dari Solo, Surabaya, dan kru panggung jumlahnya mencapai 300 orang.

Srimulat nyatanya tidak cuma menggaet hati masyarakat melainkan juga pemerintah pada masa itu. Srimulat dikisahkan sering dipinang untuk memeriahkan kampanye Soeharto. Bahkan Srimulat mampu mempengaruhi pengeluaran grasi dari presiden.

Jadi ceritanya begini.

Cerita ini berangkat dari kasus Gepeng yang pernah ditangkap polisi karena kepemilikan senjata api ilegal. Kasus ini ramai dibahas oleh media dan sampai mengancam kepopuleran Srimulat. Namun, anehnya ketika akan divonis, Gepeng justru mendapatkan surat grasi. Selidik demi selidik, hal ini dikarenakan oleh permintaan Arseto, cucu Soeharto dari Sigit yang menginginkan Gepeng agar hadir di pesta ulang tahunnya.

Meredup tapi tetap dinanti

Para anggota Srimulat berkumpul dalam sebuah acara yang ditayangkan televisi swasta (foto: detikhot)
Para anggota Srimulat berkumpul dalam sebuah acara yang ditayangkan televisi swasta (foto: detikhot)

Sejak Srimulat semakin tenar, bukan berarti kelompok lawak ini jadi tidak punya pesaing. Justru sejak populer lewat TVRI, semakin banyak grup lawak bermunculan dan pentas di layar televisi. Pamor Srimulat pun meredup, penontonnya beralih ke acara lawak di stasiun televisi lain yang dirasa lebih menarik. Kemudian, dengan berat hati pada tahun 1989 Teguh membubarkan Srimulat. Dua tahun sebelumnya pun tayangan Srimulat di TVRI sempat dihentikan.

Meski begitu, nyatanya Srimulat tidak begitu saja dilupakan oleh masyarakat. Lawakan khas Srimulat yang begitu sederhana nan menggelitik masih melekat dalam benak para penonton. Hingga akhirnya tahun 1995 Gigin mengusulkan agar dilakukan reuni Srimulat. Tak disangka, ternyata acara reuni ini menyedot banyak penonton hingga menarik minat Indosiar untuk meminangnya dan Srimulat kembali hadir di hadapan para pemirsa Indonesia pada tahun 1995-2003.

Hingga kini, Srimulat dikenang masyarakat Indonesia sebagai grup lawak dengan anggota terbanyak. Komedian-komedian senior yang kita kenal seperti Eko DJ, Timbul, Gogon, Mamiek, Tessy, Asmuni, Tarzan, Basuki, Gepeng, Polo, Kadir, Nunung, Tukul, Topan, dan Bambang Gentolet merupakan komedian alumni Srimulat. Setiap pemain memiliki ciri khas tersendiri dan ini menjadi syarat mutlak yang ditekankan oleh Teguh saat merekrut para anggota.

Kita ingat-ingat sedikit ciri khas itu. Misalnya, Timbul yang punya ciri khas ketika ia akan membuat penonton tertawa ia akan mengatakan "Akan tetapi" dan "justru". Atau Mamiek Prakoso yang terkenal dengan kalimat "Mak bedunduk" dan "Mak njegagik" yang sampai diikuti oleh orang-orang. Dan gaya khas ini tidak pernah pudar meski Srimulat sudah bubar.

Eko DJ terkenal dengan lawakan khasnya yang natural. Ia sempat bermain sinetron 'Jinny Oh Jinny' sebagai Pak Baroto (foto: istimewa
Eko DJ terkenal dengan lawakan khasnya yang natural. Ia sempat bermain sinetron 'Jinny Oh Jinny' sebagai Pak Baroto (foto: istimewa

Apa yang membuat Srimulat begitu dikenang oleh masyarakat Indonesia? Bagi saya, kisah-kisah sederhana yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari yang dipentaskan oleh Srimulat menjadi kekuatan grup lawak ini. Srimulat sering mengangkat kisah-kisah bertema keluarga dan percintaan. Ciri khas ceritanya terletak pada pemutarbalikan logika yang disisipi dengan lelucon-lelucon renyah. Para pementasnya adalah orang-orang kreatif terpilih yang melawak dengan mengalir dan tidak terpatok pada naskah

Srimulat hadir di tengah kondisi kehidupan masyarakat yang amat sulit waktu itu, terlebih di tahun-tahun 1960-an. Srimulat sempat dibujuk oleh Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) untuk bergabung, namun mereka dilindungi oleh pemerintah melalui Kodam sampai dievakuasi ke Surabaya. Sony Set dalam bukunya berjudul Aneh yang Lucu menuliskan: "Bisa dibayangkan sendiri betapa sulitnya bagi Srimulat saat itu ketika disuruh melucu di tengah situasi yang memanas demi kesetiaan menghibur penontonnya."

Ya, bagi generasi 60, 70, 80, dan 90-an Srimulat menjadi tontonan hiburan yang begitu asyik. Berkat Srimulat, kita tidak jadi lupa caranya berbahagia dan tertawa. Berkat Srimulat pula kita jadi belajar banyak mengenai kesahajaan dalam hidup dan bagaimana berlaku bijaksana.

Satu per satu pelawak Srimulat telah pergi mendahului kita. Meski sempat meredup dan kini semakin redup, namun Srimulat akan selalu menyala di hati siapapun yang mencintai Srimulat.

Terima kasih Srimulat telah membuat kami selalu ingat untuk berbahagia (foto: 1001indonesia)
Terima kasih Srimulat telah membuat kami selalu ingat untuk berbahagia (foto: 1001indonesia)


*

GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu