Lupa Sandi?

Kota Terindah di Jawa Tengah adalah Salatiga

coolish noer
coolish noer
0 Komentar
Kota Terindah di Jawa Tengah adalah Salatiga

Sebuah kota adalah tempat bagi masyarakat tinggal, bekerja, memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan serta tempat bagi terjalinnya interaksi sosial. Untuk mendukung fungsi-fungsi kota di atas, maka diperlukan berbagai faktor penunjang seperti keamanan, kestabilan politik dan satu faktor yang paling mendukung fungsi kota sebagai tempat hunian yaitu faktor lingkungan. Lingkungn yang tertata, udara yang sejuk dan pemandangan alam yang asri adalah beberapa hal yang membuat masyarakat betah untuk tinggal dan menetap di sebuah kota.

Di Jawa Tengah, ada satu kota yang dahulu menjadi tempat idaman bagi orang-orang kulit putih untuk tinggal dan menetap. Dari segi lingkungan, kota ini memiliki semua unsur yang membuat hampir siapa saja betah untuk tinggal. Kota tersebut adalah Kota Salatiga. Sebuah kota kecil yang terletak di jalur lintas Kota Semarang-Solo ini dahulunya merupakan tempat favorit bangsa kulit putih Hindia Belanda untuk tinggal dan menetap.

Kauman Salatiga antara 1920-1940
Kauman Salatiga antara 1920-1940

Kota Salatiga adalah sebuah kota pensiunan yang terletak di kaki gunung merbabu sebelah utara, berjarak 49 kilometer sebelah selatan Kota Semarang dan 52 kilometer sebelah utara Kota Solo. Sebagai sebuah kota yang berada di lereng pegunungan, Kota Salatiga memiliki hawa udara yang sejuk. Selain itu, kondisi geografisnya yang dikelilingi oleh gunung-gunung yaitu Gunung Merbabu, Gunung Gajah dan Gunung Telomoyo di sebelah selatan dan barat daya serta keberadaan danau alam berupa Danau Rawa Pening di sisi barat menjadikan bentang alam di Kota Salatiga lengkap antara pegunungan, dataran rendah dan wilayah perairan. Hal inilah yang semakin membuat bangsa kulit putih Eropa betah dan tertarik untuk tinggal dan menetap di Kota Salatiga sembari mengurusi perkebunan yang membujur dari Bawen, Tuntang, Salatiga hingga Beringin.

Dahulu Kota Salatiga adalah wilayah yang ditetapkaan sebagai sebuah Kotapraja melalui keputusan pemerintah Hindia Belanda dalam staadsblad atau lembaran negara bernomor 266 tahun 1917 yang menyatakan bahwa wilayah Salatiga ditetapkan sebagai wilayah otonom bernama de gementee Salatiga atau Kotapraja Salatiga. Penetapan status Kotapraja ini salah satunya didasari oleh faktor penduduk yang tak lain karena di Kota Salatiga dahulunya diminati oleh penduduk kulit putih untuk menetap. Sehingga karena banyaknya penduduk kulit putih yang menetap, peningkatan status wilayah menjadi kotapraja semakin mudah selain tentunya faktor lain seperti luas wilayah dan keuangan daerah yang pada waktu itu juga dipenuhi oleh wilayah Salatiga untuk menjadi sebuah kotapraja.

Foto Udara Daerah Gereja Katolik Roma antara 1920-1940 (Saat ini Gereja St. Paulus Miki)
Foto Udara Daerah Gereja Katolik Roma antara 1920-1940 (Saat ini menjadi Gereja St. Paulus Miki di Jl. Diponegoro)

Oleh pemerintah Hindia Belanda, Kotapraja Salatiga dikembangkan menjadi sebuah daerah yang terkelola dan terencana. Pengelolaan wilayah di lingkungan Kotapraja Salatiga tergolong maju pada masanya sebagai sebuah kota yang layak huni dengan memperhatikan keadaan geografis dan kearifan masyarakat sekitar dalam hal peletakan rumah. Konsep penataan Kotapraja Salatiga diketahui saat ini sebagai sebuah penataan lingkungan yang mengikuti konsep garden city dan tropischee staad. Konsep garden city dilihat dari penataan Kotapraja Salatiga yang dikonsep berdasarkan perdusunan untuk memperoleh interaksi sosial yang  erat dengan peletakan rumah yang dikelilngi oleh perkebunan dan wilayah pertanian serta penataan lingkungan buatan berupa taman, jalur hijau, rumah berhalaman, dan sistem sirkulasi kota berupa jalan (Ardianto, 1996). Serta konsep tropischee staad dilihat dari penataan wilayah Kotapraja Salatiga yang disesuaikan dengan keadaan Hindia Belanda berupa arsitektur kolonial di wilayah penataan ruang tropis dan dilengkapinya penataan wilayah dengan taman, fasilitas umum, fasilitas pendidikan, tempat peribadatan dan sarana penunjang umum. Pengelolaan tersebut menunjukkan konsep penataan ruang wilayah Kotapraja Salatiga dikelola secara terencana.

Dengan terencananya wilayah serta didukung oleh keberadaan Kotapraja Salatiga yang memiliki kondisi geografis di dataran tinggi, bentang alam yang indah serta suhu udara yang menyerupai iklim di eropa, De Gementee Salatiga/Kotapraja Salatiga oleh pemerintah Hindia Belanda disebut sebagai “Salatiga Dea Schoonnste Staad Van Midden Java" atau Salatiga kota paling indah di Jawa Tengah.

Ruas Jalan Utama Kota Salatiga Saat Ini
Ruas Jalan Utama Kota Salatiga Saat Ini

Kini Kota Salatiga semakin berkembang dan tetap menjadi kota hunian idaman bagi warganya. Tak hanya itu, saat ini banyak masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia berbondong-bondong datang setiap tahunnya ke Kota Salatiga untuk belajar seiring berdirinya universtas-universitas terkemuka seperti UKSW dan IAIN Salatiga. Dengan beragamnya masyarakat yang menetap di Kota Salatiga saat ini, Kota Salatiga mendapat julukan baru sebagai "Indonesia Mini".


Sumber: Berbagai Sumber

Pilih BanggaBangga85%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi1%
Pilih TerpukauTerpukau6%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG COOLISH NOER

Merupakan seorang hobi menulis yang baru saja menyelesaikan Pendidikan Bahasa Inggris pada program study s1 nya. Hobinya menulis telah muncul sejak dahulu hingga pernah sewaktu masih berstatus mahasis ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas