Lupa Sandi?

Dari Sinilah Cita-cita Anak-anak Kampung Rinca Bermula

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Dari Sinilah Cita-cita Anak-anak Kampung Rinca Bermula

Anak-anak Indonesia sebenarnya adalah anak-anak berlian yang berani bermimpi besar. Ini tak cuma berlaku di sebagian wilayah Indonesia, tapi seluruhnya - dari ujung barat sampai timur, hingga yang pelosok-pelosok. Semua ini berkat anak-anak muda Indonesia yang bergerak mendirikan taman-taman bacaan di berbagai daerah di Indonesia demi menyelamatkan anak bangsa dari kebuntuan.

Salah satu taman bacaan yang berhasil menggugah anak-anak untuk bermimpi adalah Taman Bacaan Pelangi yang didirikan oleh Nila Tanzil di berbagai kampung di Flores, Nusa Tenggara Timur. Berkat taman bacaan yang didirikannya ini, banyak anak-anak di Indonesia Timur jadi punya mimpi besar dan tekad belajar yang kuat.

Semuanya berawal pada tahun 2009 ketika Nila bekerja di sebuah perusahaan di Flores. Satu hal yang membuat Nila prihatin adalah kondisi sekolah di desa-desa kecil di Labuan Bajo yang bangunannya kumuh. Satu ruangan dibagi menjadi dua, pun tidak semua sekolah yang punya perpustakaan ternyata tidak memanfaatkannya dengan baik. Isi perpustakaan hanyalah buku-buku pelajaran dan jarang dibuka sehingga para siswa lebih sering bermain ketimbang membaca. Dari sinilah hati Nila tergerak untuk berbuat sesuatu.

"Mereka berhak mendapat bacaan bermutu supaya wawasannya luas," kisahnya dikutip dari koran-sindo.com. Menurutnya, membaca adalah bekal bagi generasi masa depan bangsa. Ia ingin anak-anak Indonesia kelak menjadi generasi yang berani bermimpi dan bercita-cita sehingga dengan membaca buku mereka akan termotivasi untuk meraihnya.

Baca Juga
Anak-anak di Pulau Rinca sesungguhnya punya minat baca yang tinggi (foto: taman bacaan pelangi)
Anak-anak di Pulau Rinca sesungguhnya punya minat baca yang tinggi (foto: taman bacaan pelangi)

Hal yang hendak dilakukannya untuk mewujudkan niat mulianya itu adalah dengan membuka taman bacaan di rumah penduduk. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Menurut Nila, tempat membaca buku haruslah tempat yang nyaman. "Kalau didirikan di kantor pemerintahan atau lokasi khusus, khawatir mereka keder duluan buat masuk," jelas Nila. Ia pun mencari-cari kira-kira di mana tempat yang pas untuk mendirikan taman bacaan dan pilihannya jatuh ke Kampung Roe di Pulau Rinca, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Akhirnya, demi mendapatkan buku bacaan yang bermutu Nila kembali ke Jakarta dan membeli 2000 buku bacaan. Kemudian ia kembali ke Pulau Rinca untuk membuka taman bacaan di Kampung Roe. Dalam kurun waktu satu tahun, Nila sudah membuka empat taman baca di kampung yang berbeda di Flores, yakni Kampung Roe, Melo, Nampar Macing, dan Komodo.

Tahun 2010 Nila dibantu dengan rekan-rekannya kembali membuka taman bacaan di Flores, kali ini di Kampung Rinca, Pulau Rinca. Dalam blog Taman Bacaan Pelangi, Nila berkisah. Taman bacaan di Kampung Rinca didirikan di rumah Bapak Mohamad. Tulisnya, lokasi rumah ini sangat strategis karena berada di tengah kampung dan jauh dari lokasi yang sering dilewati oleh komodo dragon (Ya, Kampung Rinca ini memang lebih terkenal sebagai destinasi wisata para turis untuk bisa melihat komodo dragons lebih dekat daripada di Pulau Komodo).

Rak buku berwarna biru yang sudah disediakan Pak Baco (foto: Nila Tanzil)
Rak buku berwarna biru yang sudah disediakan Pak Baco (foto: Nila Tanzil)

Sesampainya di lokasi, ternyata Pak Baco selaku Ketua Kelompok Pecinta Lingkungan Hidup (KPLH) sudah menyiapkan rak buku untuk perpustakaan ini. Lebih menyenangkannya lagi, ternyata anak-anak yang menyambut Nila dan kawan-kawan di sana sudah tak sabar untuk membaca buku ketika kotak-kotak berisi buku tersebut mendarat di rumah bacaan baru itu.

"Anak-anak yang sudah tidak sabar lagi bertambah semangat ketika buku-buku diletakkan di dalam rak. Mereka mencoba untuk mengambil buku, tapi sudah diingatkan sebelumnya untuk sabar dan mendengar penjelasan dulu. Saya tersenyum melihat semangat mereka." Demikian tulis Nila dalam blognya.

Tempat yang kemudian menjadi rujukan sepulang sekolah

Alexia dari Yunani juga ikut berbagi cerita di Taman Bacaan Pelangi Kampung Rinca (foto: twitter/pelangibook)
Alexia dari Yunani juga ikut berbagi cerita di Taman Bacaan Pelangi Kampung Rinca (foto: twitter/pelangibook)

 

Baco adalah seorang nelayan dari Kampung Rinca, Pulau Rinca. Pekerjaannya sehari-hari adalah menangkap ikan dan kegiatan ini sudah ia senangi sejak tamat dari SD. Sejak kecil orang tuanya memang selalu mengajarkannya untuk mencari ikan sehingga inilah yang menjadi pekerjaannya sehari-hari.

Namun, meski hanya tamatan SD, Baco menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Berkisah kepada Our Better World, menurutnya anak-anak sekarang harus lebih giat belajar. "Anak-anak sekarang harus lebih giat belajar karena tuntutan zaman," katanya.

Ketika Nila menawarkan padanya untuk membuka Taman Bacaan Pelangi di rumahnya, dengan antusias Baco menerimanya. Berkat dibukanya taman bacaan ini, anak-anak di Kampung Rinca sepulang sekolah selalu berkunjung kesini untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku.

"Sebelum ada taman bacaan, tidur siang itu agak tenang. Tapi setelah ada taman bacaan, tidur siang hampir tidak pernah," kata Baco.

Di taman bacaan ini Baco menyempatkan untuk membimbing anak-anak yang berkunjung. Membacakan dongeng, bercerita, serta menggambar. Anak-anak pun sangat antusias ketika Baco membacakan cerita kepada mereka.

Ada satu anak yang setiap hari datang ke taman bacaan, namanya Alfarouq. Kata Baco, Alfarouq selalu datang kesana, tenggelam dalam buku-buku hingga lupa waktu. Sampai-sampai ketika sudah waktunya taman bacaan tutup pukul 6 sore, Baco harus memintanya pulang.

"Dia itu senang sekali baca buku sampai saya perintahkan dia untuk pulang karena sampai jam 6 sore masih baca buku," kisahnya.

Meski hanya tamatan SD, namun Baco amat bersemangat menanamkan hobi membaca buku kepada anak-anak khususnya di Kampung Rinca. 

"Pendidikan saya sebatas SD, tapi harapan saya untuk anak-anak saya, mudah-mudahan mereka bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan bisa bermanfaat untuk orang banyak dan negara. Peran buku untuk anak-anak, mereka bisa mengenal dunia ini bukan hanya satu negara, bukan hanya satu desa atau bukan hanya satu daerah. Dunia ini bukan sebesar kampung Rinca,” kata Baco dengan binaran mata yang penuh optimisme.

Sumber: nilatanzil | Our Better World

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas