Sebagai makanan nomer satu terlezat di dunia, rendang bukanlah suatu hal yang baru di khalayak umum, terutama bagi orang-orang Indonesia didalamnya. Saking luar biasanya makanan asal daerah Sumatera barat, khususnya Minangkabau ini, rendang telah diulas oleh berbagai media-media internasional terkait kelezatanya yang sudah tidak diragukan lagi. Londonist, thestar, boston.eater, dan todayonline adalah salah empat dari sekian banyak media asing yang memaparkan kenikmatan rendang dalam artikelnya.

Bukan membicarakan tentang kelezatan rendangnya saja, faktanya kali ini rendang telah masuk dalam perbincangan di Forum Pariwisata PBB dunia. Adalah United Nation World Tourism Organization (UNWTO) yakni Organisasi Pariwisata Dunia yang merupakan badan khusus PBB dan organisasi internasional terkemuka di bidang pariwisata.

United Nation World Tourism Organization (UNWTO) (travelandtourworld.com)
United Nation World Tourism Organization (UNWTO) (travelandtourworld.com)

UNWTO memainkan peran penting dalam pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan yang inklusif, dan menawarkan dukungan untuk sektor memajukan pengetahuan dan kebijakan pariwisata di seluruh dunia. Pun UNWTO berkomitmen penuh dalam Millenium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium) yang biasa akrab dengan istilah MDGs.

Rendang dalam Pandangan Gastronomi

Dalam forum ini, rendang diulas dari perspektif gastronominya. Gastronomi berasal dari bahasa Yunani, gastér yang berarti perut dan nómos yang berarti hukum yang menentukan, maka secara utuh gastronomi diartikan sebagai seni atau hukum yang memuat regulasi dalam perut manusia.

Terdengar asing, faktanya gastronomi sangatlah scientific (ilmiah), yakni sangat mungkin dijabarkan secara ilmiah. Tak hanya berhubungan dengan pencernaan manusia, gastronomi bahkan mengaitkan hubungan antara manusia, makanan, dan juga peradaban dimana manusia kala itu hidup atau berpijak. Seorang Ahli Fisika Hungaria pada 1969, Nicholas Kurti misalnya bahkan menemukan istilah Gastronomi Molekuler.

Nah, bagaimana rendang dalam aspek gastronomi? Vita Datau selaku ketua Indonesian Gastronomy Academy (AGI) menyatakan bahwa ada tiga elemen penting yang menjadi konsep kali ini; makanan, budaya, dan juga sejarah didalamnya.

Vita Datau selaku Ketua Indonesian Gastronomy Academy (AGI) (picdino.com)
Vita Datau selaku Ketua Indonesian Gastronomy Academy (AGI) (picdino.com)

Rendang Indonesia, yaitu daging sapi yang direbus dalam kelapa serta rempah-rempahnya, merupakan highlight (sorotan) yang diperbincangkan dalam Forum Internasional, di San Sebastian, Spanyol tersebut.

Ahli-ahli kuliner yang turut ambil bagian dalam UNWTO ini yang dimulai kemarin 13 Mei 2017, menyimpulkan sebagai “Konsep Segitiga” dalam tiga elemen penting tersebut pada gastronomi Indonesia.

“Sebuah makanan dan sejarah dihubungkan melalui rempah-rempah. Sejarah dan budaya dihubungkan melalui storytelling (mulut ke mulut). Dan ikatan budaya dengan makanan dihubungkan melalui ritual atau upacara-upacara tertentu,” pungkas Vita.

Tak hanya itu, Vita turut memaparkan bahwa rendang memenuhi aspek semua elemen-elemen gastronomi sebagai hidangan yang luar biasa lezat. Mulai dari proses memasak dan membuatnya yang disebut marandang, hingga filosofi dibalik masing-masing ingredient (bahan) dari pembuatan rendang.

"Daging merefleksikan kemakmuran, rempah-rempah mencerminkan peningkatan atau perbaikan, santan berfungsi sebagai integrator sertaa cabai merah yang merefleksikan sebagai pelajaran yang baik."

Atas hal ini, Kementerian Pariwisata Indonesia telah menunjuk lima daerah di Indonesia sebagai destinasi pariwisata gastronomi yaitu Bali, Bandung, Semarang, Solo dan Yogyakarta.

Bagaimana, apa kawan tertarik makan rendang?
Bagaimana, apa kawan tertarik mencicipi rendang?

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu