Hari ini ada yang tak biasa di Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat. Sekelompok orang berkumpul di sebuah bangunan kolonial bernomor 26. Mereka nyanyikan "Indonesia Raya", menghormat pada sang merah-putih. Bangunan itu adalah Museum Kebangkitan Nasional, yang di tiap 20 Mei sebagaimana hari ini, lakukan upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

Harkitnas

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) bermula dari pendirian partai politik pertama di Hindia Belanda, cikal-bakal Indonesia, yang bernama Indische Partij. Di tahun yang sama, yaitu 1912, sejumlah pemuda dirikan berbagai perkumpulan, yaitu Haji Samanhudi dengan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah di Yogyakarta, serta Dwijo Sewoyo dengan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Salah sabuah lorong di Museum Kebangkitan Nasional, pamerkan informasi tentang para tokoh kebangkitan nasional. © Adriani Zulivan/GNFI

Pendirian organisasi tersebut, menjadi tonggak awal kebangkitan pergerakan nasional di nusantara. Selain tiga nama di atas, adalah Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara yang belajar di Sekolah Kedokteran Bumiputra School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), serta Douwes Dekker yang berprofesi sebagai jurnalis. Nama-nama ini bersama Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji, pada 20 Mei 1908 membentuk Boedi Oetomo yang menjadi gerakan untuk mencapai kemerdekaan.

Bangunan tempat berdirinya Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) ini, dulunya merupakan tempat belajar STOVIA yang dibangun pada 1902, yaitu 51 tahun setelah STOVIA berdiri. STOVIA merupakan bagian dari Rumah Sakit Militer Weltevreeden (sekarang merupakan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto) yang terletak persis di sebelah museum.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Diorama dalam ukuran besar, gambarkan suasana belajar di STOVIA. © Adriani Zulivan/GNFI

Muskitnas

Dengan lokasi agak nyempil di antara kepadatan kawasan Senen, Jakarta Pusat, di hari biasa Muskitnas tidak menjadi tujuan utama pelancong. Museum ini cenderung sepi peminat. Namun di hari ini, selain peserta upacara yang terdiri atas jajaran museum, pecinta sejarah dan sejumlah pejabat negara, hadir pula rombongan murid sekolah yang mendapat tugas mengunjungi Muskitnas. Khusus hari ini, museum yang biasanya tutup hingga pukul 15.00, dibuka lebih lama dan tidak diberlakukan tiket masuk.

Gedung megah yang sangat terawat, luas lahan yang menakjubkan di tengah kawasan padat sekitar, hadirkan decak kagum pada keseriusan pengelolaan museum ini. Koleksi museum dikelola dengan sangat apik, seperti adanya alur pengkisahan sejarah yang jelas, pembuatan koleksi repro, hingga instalasi berupa patung dan diorama.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Sejumlah peralatan kedokteran dari masa ke masa, di ruang pamer Museum Kebangkitan Nasional. © Adriani Zulivan/GNFI

Jelasnya alur tampak dari pembagian ruangan sebagai zona waktu perjalanan ilmu kedokteran di Indonesia. Koleksi repro yang ditampilkan merupakan hasil karya dari seniman terpilih, atas studinya mengenai benda-benda yang digunakan di masa STOVIA. "Diusahakan dibuat sesuai aslinya," jelas Triono, Staf Bagian Penyajian dan Pelayanan Informasi.

Lampu-lampu cantik yang tergantung di nyaris seluruh ruangan, tempat tidur beserta lemari dan koper, serta berbagai benda pajangan lainnya. Semua benar-benar membantu pengunjung untuk merasakan suasana di masa itu. Keberadaan patung dan diorama pun mampu memberi gambaran akan situasi pada masa itu.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Diorama dan poster di Museum Kebangkitan Nasional, gambarkan suasana pendidikan di STOVIA. © Adriani Zulivan/GNFI

Sebab mahasiswa STOVIA menjadi penggagas Boedi Oetomo, koleksi museum ini juga banyak menceritakan tentang sejarah organisasi tersebut. Cerita para tokoh lain non STOVIA yang menggagas kebangkitan nasional pun turut ditampilkan, seperti Kartini, Tjokroaminoto dan Soekarno.

Menjelajahi tiap sudut Muskitnas, membawa kita seakan menjelajah lorong waktu pergerakan. Lalu bangkitkan kebangaan di dada, akan perjuangan para anak bangsa untuk merdekakan tanah airnya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu