Lupa Sandi?

Sepak Terjang Indonesia Menembus Cannes Film Festival

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Sepak Terjang Indonesia Menembus Cannes Film Festival

Siapa tak kenal Festival Film Cannes? Perhelatan festival film paling agung se-jagad raya ini selalu dinantikan kehadirannya. Apalagi menunggu pengumuman siapa dan film apa saja yang mendapatkan penghargaan dari festival ini, jelas jadi momen paling mendebarkan bagi setiap insan pegiat film di seluruh dunia. Ya, penghargaan dari Cannes Film Festival ini menjadi salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia perfilman.

Tahun 2016 lalu menjadi tahun yang membahagiakan buat Indonesia pasalnya film karya sutradara muda asal Kota Yogyakarta, Wregas Bhanutedja berhasil meraih La Semaine de la Critique untuk kategori film pendek. Singkatnya, film pendek karya Wregas yang berjudul 'Prenjak' mendapatkan penghargaan di Cannes.

Kalau kita seringkali merutuk bahwa film-film Indonesia jarang sekali yang kualitasnya bagus, rasanya kita harus buang pemikiran itu jauh-jauh mulai dari sekarang. Nyatanya, banyak sekali film Indonesia yang mampu menembus ajang penghargaan film internasional seperti Cannes. Pun, film 'Prenjak' karya Wregas itu bukan menjadi film Indonesia yang pertama kali mampu menembus Cannes. Menarik waktu ke belakang, sesungguhnya Indonesia sudah pernah menampilkan film-film original karya anak negeri di sana.

Tjoet Nja' Dhien (1988)

Baca Juga

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

 

Film yang dibintangi oleh Christine Hakim ini menjadi penanda kiprah Indonesia pertama di Cannes. Pada tahun 1989 Tjoet Nja' Dhien karya Eros Djarot diputar dalam program La Semaine de la Critique untuk kategori film panjang dan meraih penghargaan sebagai Best International Film. 

Tjoet Nja' Dhien mengisahkan perjuangan Cut Nyak Dhien dalam kurun waktu enam tahun hidupnya bersama suaminya, Teuku Umar melawan para penjajah. Selain memenangi Cannes, film ini juga berjaya di Piala Citra dan wakil Indonesia di Academy Awards ke-62 untuk kategori Best Foreign Language Film namun tidak lolos menjadi nominee.

 

Daun di Atas Bantal (1998)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

 

Film karya Garin Nugroho ini diputar di Cannes dalam program Un Certain Regard tahun 1998. Menceritakan tentang kehidupan tiga anak jalanan di Yogyakarta: Kancil, Heru, dan Sugeng (diperankan oleh mereka sendiri) yang menjalani hidup dalam kemiskinan bersama Asih yang diperankan oleh Christine Hakim, film ini juga pernah dikirim ke ajang Academy Awards mewakili Indonesia.

 

Serambi (2005)

 

Film ini merupakan film dokumenter karya Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, Lianto Suseno, dan Viva Westi pada tahun 2005. Berdurasi 80 enit, film ini pun lolos seleksi Festival Film Cannes 2006 dalam kategori Un Certain Regard. Film Serambi berkisah tentang tiga orang Aceh: pemuda bernama Reza Idria, anak kecil bernama Maisarah Untari, dan seorang pengemudi becak motor bernama Usman yang berjuang melanjutkan hidup pasca peristiwa tsunami tahun 2004.

 

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Kara yang hidup di tempat terpencil. Ayahnya menghilang setelah seseorang bernama Ronald membunuh ibunya. Kemudian datang seorang wartawan ke dalam hidup Kara dan ia memutuskan untuk mencari Ronald serta menanyakan satu pertanyaan. Film karya Edwin ini lolos seleksi dan penayangan dalam program Quinzaine des Realisateurs Cannes tahun 2005 dan menjadi film ke-4 dari Indonesia yang berhasil ditayangkan dalam Cannes.

 

The Fox Exploits The Tiger's Might (2015)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Film pendek karya sutradara muda Lucky Kuswandi ini juga diputar dalam La Semaine de la Critique untuk kategori film pendek. Sepanjang Cannes International Film Festival 2015 film ini dipertontonkan sebanyak tiga kali. Film ini bercerita tentang relasi kekuasaan dan seksualitas dari kacamata etnis minoritas pada masa Orde Baru. Dua anak laki-laki bernama David dan Aseng diceritakan dari latar belakang keluarga yang berbeda, bergulat dengan perkembangan seksualitas mereka.

 

Prenjak/ In the Year of Monkey (2016)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Dan inilah film mutakhir karya anak Indonesia yang berhasil menembus Cannes Film Festival tahun 2016 sekaligus mendapatkan penghargaan sebagai film pendek terbaik. Film berdurasi 12 menit ini mengangkat kisah yang sangat sederhana, yakni tentang seorang perempuan yang sedang membutuhkan uang. Ia lantas mengajak rekan kerjanya untuk berbicara secara intim. Menurut Wregas, cerita ini diangkat berdasarkan kultur lama di Yogyakarta yang populer pada tahun 1980-an.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Kabar terbaru menyiarkan bahwa film karya sutradara muda Mouly Surya berjudul Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini juga akan mewakili Indonesia di Festival Film Cannes tahun ini. Film ini nanti akan diputar di program Quinzaine des realisateurs (Directors Fortnight). Film ini mengisahkan tentang seorang janda Sumba ang tinggal seorang diri di atas bukit di Sumba. Suatu hari sekawanan perampok datang ke bukit tersebut dan menyerang janda tersebut. Ia pun melindungi diri dengan memenggal kepala ketua perampok itu.

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi film panjang keempat karya Indonesia yang diputar di Cannes. Pun tahun ini film Marlina juga mewakili Asia Tenggara di ajang festival film paling bergengsi itu.

Tahun ini Cannes Film Festival akan diselenggarakan pada 17-28 Mei 2017. Di sini pula Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Pavilion  Indonesia dalam International Village Pantiero akan mempromosikan 10 film Indonesia.


Sumber:

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara