Lupa Sandi?

Ya, Kami (Masih) Tidak Takut!

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Ya, Kami (Masih) Tidak Takut!

Masih lekat di ingatan kita, ketika tanda pagar (tagar) #KamiTidakTakut seliweran di linimasa media sosial (medsos) pada 14 Januari 2016 lalu. Tagar ini menjadi "penyejuk" diantara begitu banyak kesedihan, doa menyayat hati, hingga sumpah serapah yang diutarakan netizen pasca ledakan bom di Sarinah, Jakarta Pusat.

Bom Sarinah bukan momen pertama kemunculan seruan #KamiTidakTakut. Sebelumnya seruan ini telah muncul di negara lain, ketika menghadapi insiden sama: teror bom. Warga sejumlah negara gunakan kata #WeAreNotAfraid yang kemudian sampai ke linimasa Indonesia dengan #KamiTidakTakut. Tagar ini menggantikan #StaySafe dan #PrayFor, yang pada insiden bom Sarinah juga sempat populer.

Sejumlah orang menyebar himbauan di media sosial, agar kita tidak menyebarkan dampak buruk bom. Menurut mereka, salah satu tujuan teroris adalah menyebarkan rasa takut, maka kita diharap tidak tunjukkan takut. Jika ini benar, maka canda tawa dalam #KamiTidakTakut memang berhasil meredam ketakutan. Setidaknya di dunia maya.

Insiden sama, pesan sama, tanggapan medsos yang juga sama. Serta berulang, pada insiden bom selanjutnya di tempat atau negara berikutnya. Bom, doa, tagar, lupa. Bom, doa, tagar, lupa. Begitu polanya. Memang tak dapat dipungkiri, bahwa tagar #KamiTidakTakut berhasil mengubah suasana linimasa yang sebelumnya muram penuh rasa was-was, hingga menjadi lebih berwarna. Alih-alih menyebar suasana mencekam, medsos menjadi penuh canda tawa.

Tawa akan keberanian masyarakat sekitar tempat kejadian perkara (TKP), yang tidak menghindar namun malah menonton aksi baku tembak antara petugas dan pelaku teror. Tawa akan tak adanya dampak buruk suasana mencekam, terhadap angka penjualan sate yang mangkal di sekitar TKP. Tawa akan kebodohan para pelaku pemboman, yang ternyata tak berhasil jatuhkan banyak korban.

Kita menertawai peristiwa pahit.

Jangan-jangan, kita sebenarnya sedang menertawakan diri sendiri yang tak paham benar situasi. Bahwa kita tak sadar betul siapa yang kita hadapi, meski seluruh dunia sudah mengingatkan. Para pelaku teror bisa jadi adalah orang biasa saja, namun mereka digerakkan oleh sebuah kekuatan besar yang miliki jaringan kuat mematikan di berbagai sudut bumi. Mereka berbahaya, dan mereka ada di muka kita.

Benarkah kita tidak takut?

Memang tak dapat dipungkiri, bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya para pemberani. Lihatlah keseharian warga yang berani habiskan setengah waktunya nyaris di tiap hari, untuk berjuang dalam kemacetan. Lihat keberanian ribuan hingga jutaan umat yang berkumpul di silang Monas, demi suarakan keyakinannya. Lihat pula keberanian pejabat yang memilih duduk bertahan di kursi pesakitan, demi tidak menimbulkan perpecahan bangsa. 

Keberanian yang ditunjukkan para penghuni Jakarta ini, sekali lagi, sedikit banyak menempah pribadi warganya menjadi orang-orang yang tidak takut. Namun ancaman besar di depan mata, tak semestinya membuat kita terlena akibat keberanian yang kita tampilkan di dunia maya. Teror adalah kejahatan, maka pantas jika kita sedikit rasakan takut agar mampu bertindak preventif.

Kegagalan menimbulkan rasa takut, membuat kita lupa bentengi diri dan lingkungan. Akibatnya kejadian sama berulang terjadi, lagi dan lagi. Terhitung sejak tahun 2000, Indonesia alami insiden bom hampir tanpa absen di tiap tahun berikutnya. Sesungguhnya memunculnya rasa takut jika kita atau orang tercinta menjadi korban, akan membantu kita bersiap.

Bersiap mungkin dapat dilakukan dengan memberi pemahaman di sekolah-sekolah tentang bahaya laten gerakan terorisme, membentengi agar tak ada tetangga kita yang mendapat pendidikan keliru, hingga memastikan seluruh anak bangsa memiliki pekerjaan agar mereka tak miliki waktu untuk mengikuti ajakan jahat.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Twitter TMC Polda Metro Jaya menjadi akun pertama yang menggunakan tagar #KamiTidakTakut dalam insiden bom Kampung Melayu. © Twitter

Seruan #KamiTidakTakut di media sosial memang mampu bangkitkan semangat juang, optimisme dan bangkit dari kesedihan. Dalam pekan ini saja, ada tiga negara lain serukan hal sama. Ada #PrayForManchester di Inggris pada Senin lalu, #PrayForMarawi pada Selasa kemarin di Filipina, dan #PrayForJakarta pada Kamis. Twitter Traffic Management Center Polda Metro Jaya @TMCPoldaMetro, adalah akun pertama yang gunakan tagar #KamiTidakTakut dalam insiden bom Kampung Melayu, Jakarta Timur semalam.

Di balik kenyataan miris menyaksikan tiga insiden bom berturut-turut di berbagai belahan dunia, saat ini tagar #WeAreNotAfraid masih mampu menjadi simbol bergandengan tangan melawan teroris, sekaligus harapan bersama agar penyintas dan keluarga baik-baik saja, hingga perasaan kolektif untuk bangkit dari keterpurukan. Ya, kami (masih) tidak takut!

Pilih BanggaBangga38%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi38%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Selebriti Internasional Keturunan Indonesia

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

Inilah 7 Cara ASEAN Tahan Hadapi Bencana

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

7 Film Indonesia di Ajang Oscar

Good News From Indonesia3 minggu yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas