Di pedalaman Toraja, daerah pegunungan Sulawesi Selatan, Indonesia, penenun asli Toraja membuat karya-karya Indah dari kain tenun tradisional.

Ragam dan motifnya rumit, hampir seperti formula matematika, untuk membuat desain yang sistematis, akurat, dan indah. Beberapa motif tenun hanya bisa dibuat oleh beberapa perajin maestro.

Pembuatan kain tenun tidak terlepas dari adat istiadat Toraja. Para maestro tenun membagi ilmu menenunnya ke kalangan muda, perajin paruh baya menenun untuk menambah pemasukan keluarga, dan anak-anak mulai belajar menenun dengan motif-motif sederhana sampai yang rumit, seperti tedong (kerbau) dan tonkonan (rumah adat Toraja). Kain tenun juga selalu ada dalam upacara adat.

“Menenun itu penting bagi keluarga kami, itu peninggalan dari nenek moyang kami. Jadi harus ditingkatkan dan ditinggikan kualitasnya,” kata Yuliana Padallingan salah satu penenun di Toraja, pada Our Better World, program cerita inspiratif dari Singapore International Foundation. 

Ini menjadi inspirasi Dinny Jusuf, untuk menginisiasi Torajamelo, usaha sosial untuk mengubah kehidupan para penenun dengan memberikan mereka sumber pendapatan yang stabil dan kemandirian ekonomi, sehingga mereka tidak perlu meninggalkan keluarga menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri.

Ragam dan motifnya rumit, hampir seperti formula matematika, untuk membuat desain yang sistematis, akurat, dan indah. Beberapa motif tenun hanya bisa dibuat oleh beberapa perajin maestro. Foto: Our Better World
Ragam dan motifnya rumit, hampir seperti formula matematika, untuk membuat desain yang sistematis, akurat, dan indah. Beberapa motif tenun hanya bisa dibuat oleh beberapa perajin maestro. Foto: Our Better World

“Programnya kami namakan ‘menemani penenun-penenun Indonesia ke pasar dunia’. Kita perlu memberikan akses ke pasar, ke modal,” ujar Dinny.

Torajamelo juga tergerak untuk melestarikan dan memajukan kerajinan menenun yang sedikit demi sedikit mulai punah di Toraja, di tengah derasnya arus globalisasi.

Dinny mengatakan pada Our Better World, “Banyak maestro semakin tua dan meninggal. Di situ ketetapan hati saya untuk balik lagi ke komunitas untuk melakukan regenerasi segera.”

Penenun maestro di Toraja, Indonesia. Foto: Our Better World
Penenun maestro di Toraja, Indonesia. Foto: Our Better World

Untuk memajukan komunitas penenun secara komprehensif, Torajamelo juga memberikan dukungan beasiswa pendidikan untuk para anak dan cucu penenun, serta bantuan biaya kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi.

“Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga bahwa penenun itu sama profesinya seperti dokter atau insinyur. Cita-cita kami untuk meningkatkan kesejahtaraan para penenun ini adalah cita-cita yang panjang,” ungkap Dinny.

Semakin banyak masyarakat yang mencintai dan membeli kain tenun mereka, semakin sejahtera pula para penenun Toraja. Hasil karya para penenun Toraja, berupa tas, sepatu, dan pakaian dapat dibeli di http://torajamelo.com/

A story by Our Better World – telling stories of good to inspire action. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu