The future is in the space.

Kalimat ini berulangkali disebutkan para astronom bila membicarakan soal masa depan kehidupan manusia di Bumi. Planet yang sudah cukup tua yang menjadi tempat hunian kita saat ini diperhitungkan tidak mampu menunjang seluruh kebutuhan kehidupan manusia selamanya. Maka, apa yang tidak ada di Bumi harus dicari di luar Bumi. Oleh karenanya pula, para astronom dan peneliti lainnya berlomba-lomba membuat eksperimen ilmiah untuk dipraktikkan di ruang angkasa.

Bahkan tak hanya para ahli, ide eksperimen ilmiah siswa SMA pun dipercobakan di sana. Di antaranya adalah penelitian sepuluh pelajar dari SMA Unggul dan DEL Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa eksperimen mereka yang berjudul "The Fermentation of Soybeans in Microgravity Experiment" (Fermentasi Kedelai dalam Kondisi Mikrogravitasi) telah dibawa oleh roket misi NASA pada 3 Juni 2017 pukul 17.07 waktu Florida, Amerika Serikat.

Hasil penelitian kesepuluh siswa Indonesia ini dibawa roket booster Falcon-9 dari landas luncur nomor 39-A di Pusat Antariksa Kennedy, Amerika Serikat. Peluncuran misi ini merupakan kontrak ke-11 misi Commercial Resuply (CRS) dari NASA yang dilaksanakan oleh kontraktor perusahaan swasta SpaceX. Mini ini membawa hampir 3 ton muatan untuk dibawa ke International Space Station (ISS).

"Di antara payload ini ada satu perangkat eksperimen ilmiah yang dirancang dan disiapkan oleh sepuluh siswa SMA Unggul Del. Eksperimen ini merupakan kelanjutan dari eksperimen sebelumnya yang diluncurkan ke ISS tahun lalu," ujar Kepala SMA Unggul Del Laguboti Arini Desianti Parawi dilansir Kompas.

Eksperimen siswa-siswi SMA Unggul Del ini dibawa oleh roket booster Falcon 9 milik SpaceX
Eksperimen siswa-siswi SMA Unggul Del ini dibawa oleh roket booster Falcon 9 milik SpaceX

Ya, ini adalah keduakalinya SMA Unggul Del Laguboti mengirimkan eksperimennya ke ruang angkasa bersama NASA. Sebelumnya, pada 2016 lalu siswa SMA Unggul Del Laguboti mengirimkan eksperimen yang diangkut oleh NASA, yakni eksperimen fermentasi tempe.

“Peluncuran eksperiman ilmiah ke ISS ini adalah yang kedua dilakukan oleh SMA Unggul Del. Diharapkan langkah ini bisa memberikan inspirasi bagi para siswa dan generasi muda Indonesia untuk lebih giat aktif berpartisipasi dalam bidang sains,” kata Arini.

Eksperimen ini disusun oleh sepuluh siswa SMA Unggul Del: Theodora Mega Putri Lumban Gaol, Putry Yosefa Siboro, Afner Sirait, Arico Liberty Setiawan Sembiring, Oliver Danofan Nainggolan, Rejoel Mangasa Siagian, Matthew Addrian Silalahi, Ronaldo Simatupang, Ruth Johana Hutagalung, dan Stanley Martin Siagian, di bawah bimbingan dua guru yaitu Eka Trisno Samosir dan Ari Raharja.

Inilah para siswa SMA Unggul Del yang berhasil menerbangkan eksperimen mereka ke ruang angkasa (foto: kompas.com)
Inilah para siswa SMA Unggul Del yang berhasil menerbangkan eksperimen mereka ke ruang angkasa (foto: kompas.com)

Menurut Eka, eksperimen ini bertujuan untuk meneliti pengaruh mikrogravitasi terhadap proses fermentasi kedelai dengan bantuan ragi.

"Proses fermentasi kedelai akan menghasilkan makanan tradisional yang dikenal sebagai tempe di Indonesia. Berdasarkan hipotesis penelitian ini, mikrogravitas akan mengakibatkan proses fermentasi kedelai akan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan proses di bumi," jelas Eka.

Kepala Sekolah Arini mengungkapkan bahwa paket penelitian ini sudah sampai di ruang angkasa yang beritanya disampaikan oleh Astronot Peggy Whitson. Hasil penelitian ini rencananya akan diketahui selama 30 hari ke depan setelah roket kembali ke Bumi.

"Hasilnya akan kami ketahui 30 hari ke depan setelah paket penelitian itu sudah tiba di luar angkasa. Kita juga bisa memantau perkembangan penelitian itu dari server di NASA Amerika Serikat yang terkoneksi ke Laguboti," ujar Arini.

Partisipasi SMA Unggul Del ini menjadi eksperimen ilmiah pertama di Asia yang dilakukan oleh siswa SMA di ISS. Kabar gembira lainnya, pada bulan Oktober lalu eksperimen siswa Indonesia ke ISS meraih penghargaan juada kedua dari American Society for Space and Gravitational Research (ASGSR) dalam pertemuan tahunan mereka di Ohio.


Sumber: kompas.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu