Menyebarkan Kembali Demam Batik di Afrika

Menyebarkan Kembali Demam Batik di Afrika

Dua penanda kota di Windhoek, ibukota Namibia yang menjadi tempat penyelenggaraan Namibia Tourism Expo. © mediaafrik.com

Namibia Tourism Expo (NTE) merupakan pameran pariwisata terbesar di Namibia, sebuah negara di selatan Benua Afrika. Sebagaimana dikutip dari Indonesia Expat, dalam penyelenggaraan tahun ini Indonesia tampil memukau dengan menyebarkan kembali demam batik ke seantero Afrika.

Agenda tahunan yang terlaksana sejak 1999 itu, tahun ini berlangsung di ibukota Namibia, Windhoek dan berlangsung pada 31 Mei hingga 3 Juni 2017. Dalam pameran yang didukung Kementerian Pariwisata Namibia tersebut, Indonesia pamerkan ragam kerajinan tangan khas yang menarik minat banyak pengunjung.

Dalam acara "Indonesia: Tujuan Utama Belanja Kesenian dan Kerajinan", anjungan Indonesia fokus pada pengenalan batik. "Dengan menampilkan dan menjual produk Indonesia, diharap bisa ciptakan peluang bisnis sekaligus meningkatkan pengetahuan akan budaya Indonesia, jelas Penasihat Eksekutif Urusan Ekonomi, Informasi, Masyarakat dan Budaya KBRI Windhoek, Hadi Sufri Yunus.

Menurut Hadi, banyak orang Namibia menyukai batik. Hal ini tidak mengherankan, sebab batik sangat populer di Afrika setelah menjadi pakaian favorit Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Besarnya kecintaan masyarakat Afrika pada batik, membuat Indonesia berharap ada pebisnis Nambia yang tertarik untuk menggarap pasar Afrika bagi produk batik Indonesia.

Selain membuka peluang pemasaran produk Indonesia, KBRI juga promosikan visa gratis 30 hari bagi warga Namibia yang berkunjung ke Indonesia. "Promosi ini menjadi bagian dari misi Pemerintah Indonesia untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia, termasuk turis Namibia yang dianggap sebagai pasar potensial," terang Duta Besar RI untuk Namibia Eddy Basuki.

NTE miliki reputasi besar sebagai satu-satunya ajang pemasaran komprehensif bagi industri pariwisata di Nambia dan Afrika secara umum. Agenda ini diikuti oleh negara-negara tetangga Namibia termasuk Afrika Selatan, Angola, Botswana, Zimbabwe dan Zambia.

Pameran ini diperuntukkan bagi pelaku industri dan organisasi pariwisata, seperti biro perjalanan, maskapai penerbangan, hotel, dinas pariwisata, industri makanan dan minuman, serta berbagai pihak terkait lainnya.

Pilih BanggaBangga56%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang22%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Yogyakarta dan Masa Kecil Barack Obama Sebelummnya

Yogyakarta dan Masa Kecil Barack Obama

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Adriani Zulivan
@adrianizulivan

Adriani Zulivan

http://heritageinventory.web.id/

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster management, maternal and neonatal health and animal welfare issue. In the learning process to reduce plastic waste, and using Indonesian cosmetic products.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.