Lupa Sandi?

Kembali Merajut Impian, Inilah Kendaraan Listrik Buatan Anak Bangsa

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Kembali Merajut Impian, Inilah Kendaraan Listrik Buatan Anak Bangsa
Bukan, foto di atas bukanlah mobil listrik buatan Indonesia. Foto itu adalah foto mobil Tesla Model S, yang merupakan salah satu kendaraan listrik terbaru yang ada di Amerika Serikat. Lalu mungkinkah Indonesia mampu memproduksi kendaraan serupa? Jawabannya, tentu, mungkin saja mampu. Sebab nyata-nyata di Indonesia berbagai jenis kendaraan listrik telah dibuat. 

Kendaraan berbasis listrik saat ini memang tengah menjadi tren dunia otomotif. Dianggap sebagai kendaraan ramah lingkungan, kendaraan listrik kerap diklaim mampu menjaga kelestarian bumi karena tidak menimbulkan gas buang. Namun teknologi kendaraan listrik saat ini masih dalam tahap pengembangan. Berbagai raksasa produsen kendaraan konvensional di dunia masih terus menerus melakukan penelitian.

Di Indonesia sendiri, tahap pengembangan kendaraan listrik belumlah sampai pada tingkatan pabrikan. Beberapa kali karya mobil listrik di Indonesia telah dipamerkan namun masih sebatas kendaraan hasil eksperimen, penelitian ataupun untuk kebutuhan kompetisi. Meski begitu, tren kendaraan listrik di Tanah Air sepertinya terus meningkat berkat komitmen pemerintah untuk melakukan ratifikasi Paris Climate Agreement yang salah satunya berisi tentang pembatasan jumlah kendaraan bergas buang. 

Tren tersebut juga terjadi karena adanya inisiatif berbagai anak bangsa yang mau untuk mewujudkan karya kendaraan listriknya dalam tataran praktis. Apa saja kendaraan-kendaraan yang pernah dibuat itu? Berikut adalah daftarnya. 

1. Gesits
Gesits saat uji kendara sejauh ribuan kilometer (Foto: merdeka.com)
Gesits saat uji kendara sejauh ribuan kilometer (Foto: merdeka.com)
 
Bila pada umumnya kendaraan listrik yang berusaha di produksi masal dan menjadi kebanggaan adalah mobil listrik, tampaknya pendekatan berbeda dilakukan oleh kawan-kawan dari Garasindo dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Keduanya lebih memilih untuk mengembangkan kendaraan listrik berupa motor yang saat ini di Indonesia menjadi moda transportasi terbanyak digunakan. 
 
Motor listrik yang diberi nama Gesits (Garasindo ITS) tersebut telah dikembangkan dan bahkan telah melalui uji kendara sejauh 1.200 kilometer melintasi pesisir utara pulau Jawa hingga pulau Bali akhir tahun 2016 yang lalu. Hasil tersebut jelas menunjukkan ketangguhan kendaraan listrik buatan anak bangsa ini. 
 
Berkat reputasi itu, motor Gesits tidak perlu waktu lama untuk menarik perhatian pemesan. Beberapa perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) telah menyatakan memesan ribuan unit Gesits untuk pegawai-pegawainya. BUMN tersebut antara lain adalah Pertamina dan Telkom Indonesia. 
 
2. Mobil Ravi, Hevi dan Hivi 
Mobil APV Ravi buatan Gresik
Mobil APV Ravi buatan Gresik
 
Ravi merupakan kendaraan All Purpose Vehicle (APV), Hevi merupakan kendaraan jenis pick up, dan Hivi adalah kendaraan berjenis Multi Purpose Vehicle (MVP) city car. Ketiga kendaraan listrik merupakan hasil pengembangan PT. Great Asia Link (Grain) di kota Gresik, Jawa Timur. Menariknya meski kendaraan listrik di Indonesia belum jamak ditemukan dan belum banyak diproduksi, kendaraan ini menjadi kendaraan listrik di Indonesia yang telah memiliki surat tanda kepemilikan atau STNK sejak tahun 2015. 
 
3. Makara Electric Vehicle (MEV)
Bus Makara EV karya FTUI (Foto: instagram.com/delimajaya)
Bus Makara EV karya FTUI (Foto: instagram.com/delimajaya)
 
MEV adalah kendaraan listrik yang dikembangkan oleh fakultas teknik Universitas Indonesia di bawah tim Molina UI. Kendaraan ini berupa empat jenis yakni bus elektrik, MEV Urban 01, Urban 02, dan Urban 03. Keempatnya telah diluncurkan pada bulan Juli 2016. 
 
MEV Urban sendiri merupakan kendaraan city car yang ditenagai oleh mesin elektrik. Sedangkan bus elektrik merupakan bus penumpang yang diproyeksikan mampu untuk menggantikan bus kuning berbasis energi fosil yang selama ini telah beroperasi di lingkungan UI.  
 
4. Selo
Mobil Selo karya Ricky Elson (Foto: twitter.com/easaditya)
Mobil Selo karya Ricky Elson (Foto: twitter.com/easaditya)
 
Mobil kuning ini merupakan hasil pengembangan tim Putra Petir yang dibina oleh Ricky Elson, seorang ilmuwan listrik yang sempat berkarir cemerlang di Jepang. Kendaraan yang dikembangkan pada tahun 2013 ini cenderung tampil berani beda dengan gaya mobil sport mahal keluaran Ferrari atau Lamborghini. 
 
Mobil listrik ini juga proses pembuatannya dilakukan di Indonesia dan sebagian besar komponennya datang dari dalam negeri. Hanya motor listrik yang diimpor karena pada saat itu memang belum tersedia di Indonesia. Mobil listrik ini dibekali motor 135 kw dan mampu menyemburkan 180 tenaga kuda. Dengan kemampuan itu, Selo dapat melaju hingga 220 km per jam.
 
5. E&C 
Mobil E&C
Mobil E&C
 
Kampus ITS sebelum mengembangkan Gesits rupanya juga sempat mengembangkan mobil elektrik yang bernama Electronic City Car atau E&C. Mobil ini diluncurkan pada tahun 2013 dan membutuhkan biaya mencapai 400 juta rupiah. Sama seperti Selo, seluruh komponen dari E&C didatangkan dari dalam negeri kecuali mesin penggerak listrik. 
 
6. Tucuxi
Mobil Tucuxi (Foto: youtube.com/danet suryatama)
Mobil Tucuxi (Foto: youtube.com/danet suryatama)
 
Kendaraan berwarna merah ini merupakan kendaraan hasil pengembangan Dr. Danet Suryatama, alumnus ITS. Prototipenya sempat dipesan oleh Menteri BUMN tahun 2011 hingga 2014, Dahlan Iskan untuk dilakukan uji kendara. 
 
Secara desain, kendaraan ini terinspirasi dari bentuk tubuh lumba-lumba sungai yang berada di Amazon. Nama Tucuxi sendiri bermakna lumba-lumba. Sama seperti Selo, kendaraan ini dibangun di bengkel Kupu-Kupu Malam yang berada di Sleman, DI Yogyakarta. 
 
7. Kendaraan-kendaraan listrik yang dibangun mahasiswa-mahasiswi Indonesia untuk perlombaan dan penelitian
 
Kaliurang UNISI
Kaliurang UNISI
 
Turangga Cheta Evolution 4 saat di sirkuit Ferarri
Turangga Cheta Evolution 4 saat di sirkuit Ferarri
 
Mungkin sudah ada puluhan kendaraan eksperimental yang dibangun oleh anak bangsa di kampusnya masing-masing saat mengikut ikompetisi kendaraan listrik di berbagai ajang. Kendaraan-kendaraan yang dikembangkan dengan dana seadanya, dan proses riset yang sangat singkat itu memang tidak banyak yang bertahan menjadi kendaraan prototipe. 
 
Meski begitu, kendaraan-kendaraan listrik seperti Widya Wahana karya ITS, Arjuna karya UGM, Turangga Cheta Evolution karya Universitas Pendidikan Indonesia atau Kaliurang UNISI karya Universitas Islam Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja dalam sejarah pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Kendaraan-kendaraan listrik tersebut adalah sedikit dari berbagai kendaraan listrik lain yang mendapatkan penghargaan di berbagai perlombaan baik lokal maupun internasional. Tanpa kendaraan-kendaraan tersebut, proses wacana riset dan penelitian kendaraan listrik di Indonesia tentu tidak akan pernah bisa berjalan hingga titik saat ini. 

Sejatinya masih ada banyak kendaraan-kendaraan listrik lainnya yang pernah dibuat di Indonesia. Hanya saja, dari hasil pencarian, kendaraan-kendaraan diataslah 

Teknologi kendaraan listrik memang bukanlah hal yang baru. Teknologi ini telah lama ditemukan tidak lama sejak lahirnya listrik itu sendiri di abad 19. Namun wacana implementasi kendaraan listrik baru mengudara ketika para ilmuwan lingkungan menemukan fakta bahwa kendaraan berbahan bakar fosil berkontribusi besar dalam polusi dan terjadinya pemanasan global. Meski begitu, penerapan kendaraan elektrik tidak serta merta mudah, sebab industri otomotif berbasis bahan bakar minyak telah begitu besar dan perlu cara-cara spektakuler untuk menggesernya dari pasar. 

Tesla Motor di Amerika merupakan salah satu produsen kendaraan listrik yang dipandang sangat berpengaruh dalam meningkatnya sentimen go-electric car di negeri paman sam. Meskipun Tesla sendiri muncul bersamaan dengan  wacana mobil listrik nasional bergulir di awal tahun 2005an (Tesla tercatat berdiri sejak 2003). Sayangnya, pengembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia serasa berjalan di tempat. Sedangkan di Amerika, akibat Tesla industri kendaraan konvensional mengalami guncangan hebat. 

Membandingkan Indonesia dengan Amerika Serikat memang tidak fair. Namun rasanya ada rasa penyesalan ketika tokoh visioner seperti Dahlan Iskan, Danet Suryatama, ataupun Ricky Elson telah melihat peluang untuk mensejajarkan Indonesia di industri otomotif dunia lewat kendaraan listrik, namun akhirnya kandas di tengah jalan. Walau begitu, wacana-wacana tentang karya-karya anak bangsa harus terus digulirkan. Karya Indonesia tidak bisa berhenti hanya karena tantangan politik dan persaingan dagang. Jika tidak, maka kita telah menyia-nyiakan pengorbanan para pelopor kendaraan listrik di negeri ini. Suatu saat, bukan tidak mungkin mobil listrik buatan Indonesia akan mampu bersanding dengan Tesla Model S di atas. Bagaimana menurutmu?

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang38%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara