Lupa Sandi?

Gelaran 10.001 Tari Saman: Menarik Wisatawan, Melestarikan Lingkungan

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Gelaran 10.001 Tari Saman: Menarik Wisatawan, Melestarikan Lingkungan

12.262 pria berkumpul di Stadion Seribu Bukit, Gayo Lues, Aceh pada Minggu (13/08). Bersama-sama mereka tarikan Saman. Rekor nasional pun diraih.

Warna hitam, merah dan kuning mendominasi kostum tradisional yang mereka kenakan. Semua duduk rapi dalam barisan, menepuk pundak dan memutar kepala, dalam ritme musik yang makin lama semakin cepat. Inilah gerakan Tari Saman.

Tari Saman berasal dari kebudayaan Gayo, salah satu suku di Aceh. Tarian ini kerap ditampilkan dalam perayaan peristiwa penting adat, dan dilakukan oleh penari pria. Badan PBB Urusan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan (UNESCO) pada 2011 mengakui Tari Saman sebagai warisan budaya dunia tak benda.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Jika umumnya Tari Saman dimainkan oleh sekitar sepuluh orang dengan jumlah yang ganjil, kali ini tarian tersebut ditarikan oleh belasan ribu penari. Demi menyaksikan aksi para penari, ribuan penonton datang berduyun-duyun. Pertunjukan ini pun berhasil pecahkan rekor nasional.

Selain untuk menarik wisatawan, pertunjukan kali ini membawa misi melestarikan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL). Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh Syafruddin kepada AFP. TNGL merupakan habitat harimau dan gajah Sumatra yang telah langka, yang kini terancam akibat perburuan dan perusakan hutan.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie