Indonesia memiliki kurang lebih 60 Festival Jazz yang telah dihelat & masing-masing memiliki jadwal khusus tiap tahunnya, bahkan Amerika Serikat tidak memiliki jumlah festival sebanyak itu. Salah satu musisi Jazz dunia - Herbert Jeffrey Hancock (atau biasa dipanggil Herbie Hancock) - yang juga seorang pianis jazz paling terkemuka dan pencipta lagu jazz dari Amerika mengatakan, 82% pendengar jazz di Indonesia itu para remaja, bisa dikatakan perkembangan Jazz di Indonesia lebih “bahaya” daripada di Amerika. Salah satu festival jazz yang baru saja selesai adalah Jazz Gunung Bromo 2017. Pagelaran musik yang diselenggarakan di ketinggian 2000 mdpl pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2017 lalu sudah menginjak usia ke-9. Dan kali ini mengambil tema ‘Merdekanya Jazz Meneguhkan Indonesia’ ada sejumlah musisi yang tampil pada perhelatan jazz di Amfiteater Terbuka Jiwa Jawa Resort Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Musisi internasional yang hadir di festival tahunan ini, di antaranya yakni pemain alat tiup kawakan dari Amerika Serikat, Paul McCandless.
Sementara musisi lokal yang tampil yakni Indra Lesmana Keytar Trio, Sri Hanuraga Trio feat. Dira Sugandi, Dewa Budjana, Surabaya All Stars, Sono Seni Ensemble, Ring of Fire Project feat. Idang Rasjidi & Soimah, Maliq & D’Essentials, Monita Tahalea, dan Glenn Fredly.

Sono Seni Ensemble menjadi pembuka di hari kedua acara Jazz Gunung Bromo 2017, sebuah kelompok musik kontemporer dari kota Solo yang beranggotakan Gondrong Gunarto, Joko S. Gombloh, Zoel Mistortoyfi, Adham Lanu Guana, Yenny Arama, Dwi Harjanto, John Jacobs (penggagas), dan Ginevra House. Grup asal Solo itu, langsung membuka acara hari ke-2 dengan aransemen musik keroncong yang dikolaborasikan dengan bosanova. Meski baru pertama tampil di Jazz Gunung Bromo, mereka memukau para Jamaah Al-Jazziyah (sebutan penonton Jazz Gunung) yang menyaksikan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Satu hal yang istimewa dan mungkin menjadikan masyarakat Indonesia, khususnya pecinta musik jazz menjadi bangga. Dua anggota kelompok musik ini yaitu ; John Jacobs dan Ginevra House berasal dari Inggris, mereka berdua adalah akademisi di bidang musik etnologi di Universitas London. Keduanya berangkat dari kota mereka di Inggris, York, ke Kota Solo, Indonesia hanya dengan bersepeda. Perjalanan mereka memakan waktu yang cukup lama, sekitar 22 bulan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Hal yang menggerakan keduanya untuk hijrah dari negara tercintanya menuju ke Solo antara lain, karena kecintaan terhadap gamelan jawa.

“Pada musik klasik (barat) saya menemukan kesatuan. Pada jazz ada kebebasan. Sementara pada gamelan, di satu pihak saya melihat ada suatu kesatuan, tetapi di lain pihak ada ruang kebebasan, setiap pemain bisa mengekspresikan dirinya sendiri,” tutur Jacobs, ahli bidang komposisi musik.

Rencana 1 Dekade Jazz Gunung Bromo di tahun 2018

Sigit Pramono selaku Founder Jazz Gunung Bromo mengungkapkan, pada pagelaran Jazz Gunung Bromo di tahun 2018 mendatang dirinya berniat untuk menambah hari pertunjukan menjadi 3 hari berturut-turut. Hal itu bertujuan guna memanjakan penikmat musik jazz ke depan.

Seperti diketahui, sejak pertama kali di gelar pada tahun 2009, tepat pada tahun 2018 Jazz Gunung Bromo genap terselenggara satu dekade berturut-turut.

Sigit menambahkan, penambahan hari pertunjukan tersebut juga guna menyambut antusias penonton yang semakin tahun semakin bertambah namun kapasitas tempat pertunjukan (venue) yang tak lagi bisa diperluas karena faktor lembah dan jurang.

Pada pagelaran tahun depan akan tetap dimeriahkan oleh artis jazz kenamaan. Sigit pun membocorkan pada tahun mendatang Jazz Gunung Bromo akan di selenggarakan pada akhir bulan Juli 2018.

Sampai Bertemu kembali di Jazz Gunung Bromo 2018!

Info lengkap mengenai Jazz Gunung bisa mengunjungi situs : jazzgunung.com

Gambar :

Jazz Gunung Official Fanpages Facebook

M Fachrezy Zulfikar 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu