Pemanfaatan Teknologi Batan Di Indonesia Bakal Diperluas Jangkaunannya, Untuk Apa Saja Ya?

Pemanfaatan Teknologi Batan Di Indonesia Bakal Diperluas Jangkaunannya, Untuk Apa Saja Ya?
info gambar utama
Teknologi nuklir pada umumnya dianggap sebagai teknologi yang berbahaya. Hal ini terjadi karena serangkaian peristiwa terkait nuklir yang membuat masyarakat antipati terhadap teknologi berbasis fusi dan fisi atom ini. Padahal, pemanfaatan teknologi nuklir akan bisa memberikan banyak keuntungan pada masyarakat. Seperti untuk mendukung ketahanan pangan.

Sebagaimana diberitakan ANTARA, Kepala Badan tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto (28/8) mengungkapkan bahwa pihaknya ingin memperluas jangkauan pemanfaatan teknologi nuklir. Sebab rekayara tenaga nuklir yang telah dikembangkan oleh Batan saat ini diketahui telah dapat memaksimalkan hasil pertanian.

"Di pertanian, ada 22 varietas padi yang kami produksi. Kami juga produk untuk pengawetan makanan. Di negara tropis hasil pertanian itu kan cepat rusak, tapi dengan teknologi bisa lebih awet. Dari sisi ketahanan pangan jadi penting," jelasnya.

Djarot mengungkapkan bahwa meskipun Batan memiliki teknologi dan produk yang mampu untuk mengurangi masalah pangan nasional, namun pemanfaatan teknologi tersebut masih sedikit. Pemanfaatannya saat ini hanya terjadi di Badnung, Serpong, Yogyakarta dan Jakarta. Itu sebabnya dirinya ingin memperluas penggunaan teknologi dan produk Batan di berbagai daerah di Indonesia.

"Kalau kita bisa viralkan di 34 provinsi melalui kementerian-kementerian terkait, itu lebih bagus dan bakal lebih efektif," gagas Djarot.

Namun sebelum itu, Batan perlu lebih dahulu mengubah cara pandang masyarakat terkait nuklir. "Nuklir selama ini dinilai menakutkan oleh masyarakat, padahal jika dimanfaatkan bisa menyejahterakan. Ini makanya perlu sosialisasi dulu," ujar dia.

Akankah Indonesia mampu untuk memanfaatkan nuklir secara luas di tahun-tahun mendatang? Bagaimana menurutmu?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini