Pesona Sambal Tempoyak

Pesona Sambal Tempoyak
info gambar utama

Siang itu, aku berlari pulang ke rumah.

Matahari tidak segarang di Surabaya, namun di kampung halamanku, panasnya masih terhalau oleh rindangnya pepohonan. Rumahku tepat menghadap sungai. Dan setelah selesai mengikuti 3 lomba di sekolahan, perut ini sudah tidak mau bersabar.

tik tak tik tak,

Suara anak tangga yang pasti bunyi setiap kali kakiku naik diatasnya, dan pada kayu yang ke-11, sepatu kulepas. Syukurlah ada satu kursi di teras rumah panggung ini, karena perjalanan pulang dari sekolah selama 15 menit selalu menguras tenagaku. Terlebih untuk hari ini, semangatku terlalu berlebihan ketika mengikuti lomba sepakbola putri tadi.

Setiap pulang ke rumah, pertanyaanku ke mama selalu sama.

"Mama masak apa hari ini ?", dan hari itu, tema makan siang kami berwarna serba kuning. Sambal tempoyak, ikan patin dimasak tempoyak, dan satu piring nasi sudah tersedia di meja. Ternyata mamaku baru saja akan mulai makan, dan aku pulang di waktu yang tepat. Setelah beberapa kewajiban pulang sekolah kulakukan, ternyata adikku juga baru saja sampai di rumah. Dengan wajah sumringah, dia langsung ambil piring dan makan.

Sambal tempoyak adalah favorit orang rumah. Selalu. Dan mamaku satu-satunya 'chef' yang tahu meracik rasa tempoyak menjadi masakan yang ajaib enaknya. Dan pelanggan setianya sudah pasti adikku, yang selalu menambah porsi nasi jika pasangannya sambal tempoyak.

Sudah sejak kecil kami makan sambal ini, tapi baru kali ini aku penasaran cara membuatnya.

Ternyata mudah. Daging durian dipisahkan dari bijinya, garami, lalu masukkan ke dalam toples. Tutup rapat toplesnya, diamkan 3-5 hari. Voila, tempoyak sudah jadi. Mamaku tidak sulit menyulapnya menjadi sambal, karena mama memang ahli membuat sambal.

Tapi cerita kali ini tidak akan menyinggung soal resep keluarga sama sekali. Meskipun gambar di bawah ini sangat menggoda ...

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Dari kampung halaman dan beralih ke kota, kupikir awalnya tempoyak hanyalah masakan yang akan kujumpai di rumah sendiri, atau di kampung dimana orang-orang makan dan masak lauk pauk yang sederhana.

Pernah dilain kesempatan, saat membuat tugas kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik, kami meliput restoran yang menyajikan masakan khas daerah. Dan kutemui lagi si kuning menggoda, sambal tempoyak. Fakta unik yang baru saya tahu, yang harusnya sudah sejak dulu tahu, adalah tempoyak yang merupakan makanan khas bangsa Melayu.

Nah, di Indonesia sendiri, bangsa Melayu itu tersebar hampir di seluruh nusantara. Dengan kata lain, tempoyak, yang tadinya di gudang memoriku hanya sebatas di kampung, tersebar dan dimasak oleh ibu-ibu di seluruh nusantara. Hmm, membayangkannya saja saat itu membuatku senang. Karena aku tahu satu hal, kemanapun aku akan pergi mengelilingi pulau ini nanti, aku tidak akan kesulitan menemukanmu, wahai tempoyak.

Dan setelah menulis tentang tempoyak, memori lain juga bermunculan. Tawa dan guyonan saat makan bersama, telah kulewatkan selama lebih dari 4 tahun. Chef mungkin merindukan dapurnya dan pelanggan setianya menanti masa untuk kembali pulang.

Mungkin di hari yang cerah, dimana matahari tidak segarang di Surabaya...

Kesempatan untuk makan bersama dengan lauk sambal tempoyak akan terulang.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini