Indonesia (Masih) Ramah

Indonesia (Masih) Ramah
info gambar utama

Indonesia, sebuah negera maritim yang dikenal dunia karena keelokan alamnya, akhir-akhir ini tak lagi ‘terdengar ramah’ di telinga dunia. Bukan hanya bagi warga negara asing saja, namun juga bagi warga negaranya sendiri. Berbagai peristiwa mulai level tinggi seperti terorisme hinga level kejahatan kelas receh menjadikan masyarakat sedikit ‘enggan’ untuk keluar dari zona nyaman, apalagi untuk mendatangi kota-kota metropolitan atau kota ‘bekas’ kejadian mengerikan. Ke daerah pelosok? Konon ancaman perang antar suku masih sering bergentayangan di beberapa daerah. Indonesia, beberapa tahun terakhir, memang tak terdengar ramah. Tapi, mari sekali lagi kita bertanya kepada hati kecil masing-masing. Apakah Indonesia memang se-‘tak ramah’ itu?

Bagi saya sendiri, tentang ramah dan tidak ramah adalah hanya sebuah ‘stereotip’. Seringkali fakta dalam jumlah besar tertutupi oleh satu fakta kecil yang kemudian digeneralisir dengan atau tanpa sengaja, yang kemudian fakta kecil itu justru menjadi ‘cap’ atas pemilik keseluruhan fakta pada suatu golongan (dan atau sebaliknya). Menjadi sesuatu yang pada akhirnya kita kenal sebagai stereotype atau dalam bahasa serapan menjadi ‘stereotip’. Padahal jelas, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi stereotip adalah sebuah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Maka dapat dimengerti bahwa fakta yang dibawanya menjadi tidak tepat, karena ia bersifat subjektif. Sebuah fakta negatif menjadi bagian dari stereotip positif dan sebaliknya, sebuah fakta positif menjadi bagian dari stereotip negatif.

Selentingan tentang ketidak ramahan Indonesia sendiri, bagi saya pribadi adalah hanya seperti ungkapan peribahasa “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Berbagai tindak kejahatan yang terjadi di sana-sini telah bekerja seperti ‘nila’ yang merusak ‘susu’, dan menggeser stereotip positif tentang keramahan Indonesia menjadi stereotip negatif. Dampaknya, akan terjadilah keprihatinan yang luar biasa karena menimbulkan rasa tidak aman saat bepergian dalam diri masyarakat. Apalagi informasi di media lebih banyak menampilkan sesuatu yang berbau kriminal dan bukan kebaikan orang. Baikkah yang demikian? Pada satu sisi, tentu baik, agar menimbulkan kewaspadaan pada masyarakat yang menonton. Namun sesungguhnya sisi kriminal ini tidak perlu digeneralisir. Mereka hanya dilakukan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, bukannya dilakukan oleh seluruh masyarakat yang tersebar dari Sabang dari Merauke hingga menjadikan Indonesia ‘tidak lagi ramah’.

Bagi saya sendiri, berteman dengan teman-teman yang berasal dari berbagai suku membuat saya percaya, bahwa tidak selamanya apa yang saya dengar dari luar harus sepenuhnya ditelan bulat-bulat, lantas menjadi takut untuk berkenalan dengan saudara beda suku dan pergi hingga pelosok-pelosok negeri. Saya memilih untuk membuktikan kebenaran dari ‘yang saya dengar’ tentang mereka dengan melakukan perjalanan menuju ke tempat-tempat baru. Saya memilih untuk tidak takut keluar dari ‘zona nyaman’, dan saya pun telah beberapa kali melakukan solotrip, sesuatu yang dulu saya anggap berisiko tapi ternyata menyenangkan dan kini justru membuat kecanduan.

Berawal dari beragam informasi yang saya dapat dari berbagai media, rasa kecintaan kepada Nusantara tumbuh dalam diri saya. Rasa cinta itu membuat saya memiliki keinginan untuk suatu saat nanti bisa melihat Indonesia ‘rasa bukan Jawa’. Bertahun-tahun lamanya, keinginan itu tersimpan sebagai sebuah mimpi yang timbul tenggelam, karena sejak lahir hingga berada di bangku Sekolah Menengah Atas, saya hanyalah anak rumahan yang enggan keluar dari zona nyaman: rumah. Hingga akhirnya memasuki kuliah, saya bertemu dengan teman-teman yang hobi berpergian ke tempat baru. Jadilah, semasa kuliah saya diajak dan kamipun sering pergi ke suatu tempat wisata di area Jawa Timur dengan mengendarai sepeda motor. Touring, bagi kami adalah metode yang paling pas di kantong dan fleksibel untuk mengunjungi tempat-tempat itu.

Barulah, setelah lulus kuliah di akhir tahun 2014, saya yang tak lagi menjadi anak rumahan semakin mencintai travelling, dan kesempatan itu pun datang: kesempatan untuk melihat Indonesia ‘rasa bukan Jawa’. Awal tahun 2015, saya bergabung dengan para peneliti ethnografi dan dikirim ke Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Mimpi yang bersambut sebuah kesempatan itu, bahkan berani saya beli dengan meninggalkan pekerjaan yang baru saya dapat di sebuah rumah sakit.

Lulus kuliah memaksa saya untuk tidak ketergantungan lagi dengan teman-teman travelling saya. Kini, kami memiliki jalan kami masing-masing meski sering mencuri-curi waktu untuk liburan bersama. Saya sendiri memilih untuk menggeluti pekerjaan yang dengannya memungkinkan saya untuk melakukan hobi travelling. Bagi saya, pekerjaan ini yang saya lakukan saat ini menjawabnya. Saya bekerja, tapi pekerjaan itu terasa seperti liburan. It’s a ‘holi-work-day’!

Sejak dahulu, selain travelling, saya memiliki ketertarikan dengan sejarah, sastra dan budaya. Bagi saya Nusantara itu unik. Keunikannya terletak pada perbedaan-perbedaan yang menjadi unsur terbentuknya Nusantara. Sejak para pahlawan me-merdeka-kan Indonesia dan membangunnya menjadi sebuah negara, Indonesia bukanlah milik sebuah suku, sebuah kaum, atau sebuah agama saja. Indonesia adalah memang negeri yang beragam; bahasanya, sukunya, adat budayanya, agamanya, dan banyak hal lainnya. Bangsa Indonesia, bahasa Indonesia, dan negara Indonesia hanyalah nama yang lahir sebagai sebuah identitas baru bagi daerah bernama Hindia Belanda yang bekas dijajah beratus abad lamanya itu.

Memiliki kesempatan untuk berkunjung ke daerah lain; yang bukan Jawa, yang berbeda bahasa, adat-budaya, dan semua-muanya membuat saya semakin bersyukur, karena akan semakin mengenal Nusantara tidak hanya dari cerita. Kabupaten Tolitoli menjadi tempat saya untuk belajar pertama kali dalam mengenal perbedaan secara langsung dan bagaimana cara beradaptasi. Lebih tepatnya, di Pulau Sambujan saya belajar mengenali budaya, selama kurang lebih 40 hari. Lebih istimewa, karena disana saya tidak hanya menemui satu suku saja, tapi beberapa suku yang budayanya telah berakulturasi.

Ketika datang ke tempat baru, saya paling suka mencari tahu cerita tentang asal mula daerah itu. Setiap daerah selalu punya sejarah bahkan legenda masing-masing. Begitu pula dengan Pulau Sambujan, yang ternyata pernah menjadi tempat persembunyian para pelawan penjajah. Pergi ke tempat baru berarti kita akan belajar tentang hal baru pula. Seperti misalnya adat budaya. Saat ini, beberapa adat budaya mungkin sudah banyak yang luntur atau berakulturasi, misalnya dengan budaya yang dibawa oleh agama mayoritas masyarakat. Begitupula dengan Pulau Sambujan, penduduk yang berasal dari suku berbeda-beda menyebabkan mereka memunculkan identitas budaya baru, yang bisa jadi membuat ‘budaya asli’ nenek moyangnya ada yang hilang atau ada yang ditambahi. Selain itu, karena penduduk mayoritas beragama Islam, maka nafas kebudayaan Islam pun membersamai keseharian penduduk.

Bahasa keseharian mereka beragam, sesuai dengan suku yang beragam pula. Namun, mayoritas menggunakan bahasa Bugis dan bahasa Bajo untuk berkomunikasi sehari-hari. Bagi saya sendiri kala itu, bahasa Indonesia mempermudah kami untuk saling berinteraksi. Saya turut mencoba belajar bahasa mereka, tapi suku kata yang begitu asing membuat saya kesulitan untuk beradaptasi. Maksimal, hanya beberapa kalimat saja yang berhasil saya kuasai. Jadilah, senjata saya untuk menunjukkan penghormatan kepada mereka agar lebih mudah diterima adalah dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang logatnya menyerupai logat yang mereka gunakan. Di tempat baru, sebisa mungkin kita harus belajar bahasa setempat meski hanya beberapa patah kata. Fungsinya ada dua, sebagai bentuk penghormatan dan agar kita ‘terlihat seperti’ masyarakat setempat. Jangan ‘sok’ berbahasa khas Jakarta, misalnya. Karena dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dengan menunjukkan usaha untuk mempelajari bahasa mereka saja, kita biasanya akan lebih mudah dihargai sehingga mudah diterima. ‘Terlihat seperti’ masyarakat setempat pun suatu saat akan bermanfaat, apalagi dikala melakukan solotravelling, karena dengan begitu akan mengurangi resiko menjadi target kejahatan.

Yang paling unik dari perjalanan itu adalah ketika saya diharuskan untuk tinggal di rumah sepasang suami istri yang dikenal sebagai Dukun atau dalam bahasa setempat disebut Sando. Sang istri adalah Dukun ibu melahirkan, sedangkan Sang Suami adalah Dukun yang ‘dapat menyembuhkan’. Untuk bisa ke rumah mereka, saya harus menyeberang pulau dengan menaiki ketinting (perahu bercadik) dan melakukan perjalanan itu seorang diri. Meski mencekam karena ‘stereotip’ terhadap Dukun agak miring, namun saya membberanikan diri untuk menyelesaikan misi itu. Untunglah, ternyata saya diterima dengan baik. Tinggal sehari di rumah sepasang suami istri ini, tentu saya berkesempatan melihat beberapa kali ritual ‘penyembuhan’ dan perawatan ibu melahirkan ala mereka. Sesuatu yang baru bagi saya, dan sesuatu yang baru seperti ini tidak boleh langsung disimpulkan baik atau buruknya sebelum dilakukan analisis mendalam. Terkadang, di daerah terpencil, untuk memperoleh ‘kesembuhan’ atau lahir ditolong dukun sudah tergolong beruntung, karena minimnya akses ke pelayanan kesehatan.

Yang lebih mencekam lagi adalah saat saya harus kembali ke Pulau Sambujan. Karena sudah tidak bisa naik perahu (hanya ada di jam tertentu), maka saya dimintakan tolong untuk diantar oleh seorang pemuda desa dengan sepeda motornya. Di setengah perjalanan yang melalui bukit cengkeh yang naik dan turun, baru ketahuan bahwa ternyata pemuda ini belum tidur sedari malam dan baru minum-minuman keras. Satu lagi pelajaran berharga bagi saya bahwa di kala terdesak, kita harus berpikiran positif dan tenang. Meski mengetahui resiko dibonceng oleh seseorang yang agak hilang kesadaran, saya pun harus percaya bahwa saya akan diantar dan sampai dengan selamat karena itu adalah satu-satunya pilihan. Untunglah, itulah akhir yang saya temui di perjalanan mencekam itu,.

Ketegangan yang terjadi di dalamnya tidak membuat saya takut untuk melakukan perjalanan-perjalanan selanjutnya, namun justru menjadi pengalaman dan pembelajaran berharga. Dalam perjalanan-perjalanan saya selanjutnya, saya masih mencoba untuk mencari kebenaran-kebenaran terhadap ‘kata orang’. Perjalanan itu pada akhirnya banyak merubah sudut pandang saya. Misalnya orang Indonesia Timur yang ‘katanya’ seram, kini tak lagi terlihat seram dimata saya. Mereka ramah, tergantung cara kita memperlakukan mereka dan memahami perbedaan yang ada. Pola hidup dan lingkungan misalnya, terkadang ‘memaksa’ orang untuk berbicara dengan nada tinggi, namun kita tidak perlu berpikiran pendek dan langsung menganggap mereka kasar. Hanya perlu merubah sedikit sudut pandang, bahwa memang itulah ‘kebiasaan’ mereka. Kita hanya perlu memunculkan ‘space’ untuk saling memahami, agar nantinya menjadi ‘saling menghargai’.

Demikianlah kisah perjalanan pertama saya yang beberapa bagian di dalamnya menuntut saya untuk melakukan perjalanan sendirian. Awalnya takut, tapi kini menjadi penyebab kecanduan melakukan perjalanan lainnya. Terkadang, saya tidak memiliki pilihan selain melakukan sebuah perjalanan seorang diri. Kesempatan untuk travelling kadang datang begitu saja saat saya menjalankan suatu tugas. Pada saat itu, saya membulatkan tekad untuk berangkat sendiri karena memang tidak ada yang bisa menemani. Seringkali orang-orang mengatakan saya nekat mengingat maraknya tindak kejahatan. Tapi saya percaya, bahwa Indonesia masih ramah dan akan ada banyak pertolongan yang datang pada saya saat di perjalanan.

Bukan pula berarti solotravelling adalah metode travelling yang aman. Kita harus memiliki perhitungan tertentu tentang banyak hal sebelum memutuskan untuk melakukannya. Terlebih, tentang bagaimana memilih ‘tempat yang aman’ untuk disinggahi dan ‘orang yang aman’ untuk dimintai pertolongan. Untungnya, kecanggihan tehnologi semakin mempermudah saya untuk melakukan perjalanan-perjalanan ini. Seperti saat berkunjung ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Cukup dengan menggunakan motor sewaan, mengandalkan google maps dan mencocokkannya dengan petunjuk jalan yang ada, saya bisa sampai ke beberapa tempat sekaligus dalam dua hari satu malam. Jaringan internet yang kuat di sepanjang jalan membuat saya bisa berkunjung ke banyak tempat dengan mudah, seperti ke Gili Trawangan, Pantai Senggigi, Desa Sade, Pantai Kuta, dan Tanjung Ann. Begitupula saat di Kota Bandung dan di Wonosobo. Saya memilih menyewa sepeda motor dan berkeliling dari Ciwidey hingga ke Lembang dalam dua hari satu malam, sedangkan untuk Wonosobo, saya berangkat dari Purworejo dan berkeliling di daerah Dataran Tinggi Dieng. Perjalanan singkat, namun sudah bisa melihat banyak tempat. Memang, sejauh ini bagi saya menyewa sepeda motor adalah alternatif transportasi yang praktis, fleksibel dan pas di kantong.

Berbeda lagi bila ingin mengelilingi Jakarta, tentu tidak bisa dengan motor. Jakarta cukup rumit untuk ditahklukkan, namun kota yang ‘kata orang’ tidak ramah ini, kini tak begitu saya takuti lagi. Asal bisa menyimpan barang dengan benar dan tak mengundang orang berbuat jahat, Jakarta cukup bersahabat. Di tempat baru, kita juga harus mau belajar pola kehidupan di tempat yang akan kita kunjungi. Jakarta misalnya, kini untuk transportasi sudah cukup dipermudah dengan adanya fasilitas TransJakarta dan KRL. Maka, meski kita tergolong ‘baru’ dengan transportasi itu karena berasal dari daerah lain, kita harus mau belajar tentang bagaimana sistemnya atau bahkan kalau perlu rutenya. Semakin hafal, akan semakin mudah untuk melakukan pergerakan.

Demikianlah sekelumit kisah tentang perjalanan saya untuk semakin mengenal Nusantara. Jangan takut berkunjung ke penjuru negeri dan menghadapi perbedaan yang ada, serta jangan pula terhasut dengan ‘stereotip’ negatif tentang suku lain, karena percayalah, bahwa di berbagai sudut negeri, akan masih ada banyak orang baik, asal kita juga berperilaku baik. Menjalani perjalanan seorang diri memang akan memunculkan banyak kekhawatiran. Namun di tempat baru, tak jarang saya yang melakukan perjalanan seorang diri mendapatkan banyak tegur sapa dan senyuman dari orang-orang yang tak dikenal. Saat seperti itulah, saya bisa berinteraksi dengan mudah. Masyarakat akan cenderung tertarik pada sesuatu ‘yang berbeda’. Bersyukurlah karena kita adalah warga Indonesia, yang memiliki beragam budaya. Saat datang ke Sulawesi dan ditanya asal saya, mereka akan cenderung tertarik saat mengetahui bahwa saya bukan berasal dari daerah yang sama. Hal ini sama saja dengan saya yang akan tertarik mengetahui lebih lanjut tentang kenalan baru, yang misalnya berasal dari suku Minang. Perbedaan yang ada, ternyata mempermudah kami untuk memilik banyak bahan perbincangan sehingga bisa menjadi saling lebih dekat. Perbedaan, tak selamanya menjadi masalah. Sebuah kabar baik untuk kita, bahwa Indonesia (masih) ramah, kok!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini