Budaya Indonesia sangat kaya jenisnya. Dari Sabang sampai Merauke, di setiap titik bangsa terdapat budaya yang beragam bentuk. Namun dunia digital dan datangnya globalisasi membuat identitas budaya di Indonesia terancam. Oleh karena itu, Telkom Indonesia sebagai perusahaan digital berusaha untuk menarik minat pemuda Indonesia untuk melestarikan budaya Indonesia lewat kompetisi Telkom Peduli Budaya Nusantara.

Telkom Peduli Budaya Nusantara telah digelar sejak Mei 2017 yang lalu dengan menarik peserta dari berbagai kota di Indonesia. Tur 4 kota di Indonesia, Jogjakarta, Balikpapan, Makassar dan Pekanbaru pun dilakukan untuk memilih 5 peserta terbaik dari setiap kota untuk memilih 1 yang terbaik sebagai wakil kota. 

Di kota Pekanbaru penampilan 5 peserta terbaik dilakukan kemarin Sabtu (21/10) berlokasi di SMA Darma Yudha. Diawali dengan seminar singkat tentang tren budaya di kalangan anak muda Indonesia, berbagai pakar tari mengungkapkan pendapatnya.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta bidang Tari, Hartanti mengungkapkan bahwa peran BUMN ataupun perusahaan seperti Telkom Indonesia dalam pelestarian budaya Indonesia sangat dibutuhkan. Dirinya mengungkapkan bahwa banyak sekali seniman yang kesulitan untuk menjaga warisan budaya karena tidak memiliki modal. Tidak hanya dalam regenerasi tetapi juga dalam promosi budaya seperti pentas ataupun mendorong seniman-seniman baru untuk tampil. 

Wah Harun Ismail, seorang penari melayu yang sudah kerap diundang ke luar negeri untuk mementaskan tarian tradisi mengungkapkan bahwa ternyata tarian Indonesia itu tidak kalah dengan tarian kontemporer luar negeri. "Kalau di hip hop ada istilahnya dance battle, tapi kalau di Riau ada zapin yang juga ada semacam battle. Tarian Riau juga ada yang memakai gerakan silat yang ada hitungannya. Sama seperti breakdance. Jadi apakah budaa kita lebih dahulu atau budaya bara?" seru Wan Harun.

Menurut Wan Harun, kondisi saat ini tarian sudah mulai banyak diminati. Bahkan fasilitas dan ruang untuk belajar sudah sangat banyak. "Dulu saya ingin belajar dengan ahli tarinya harus menunggu selama dua minggu untuk bertemu. Sekarang di Pekanbaru sudaha da 23 sanggar tari," katanya seraya memotivasi. 

Untuk menumbuhkan minat pada nilai-nilai seni tari di anak muda menurut Wan Harun caranya adalah lewat peran media. "Ketika kita melihat sesuatu itu sangat menarik, kita akan mengapresiasi. Dari sekian banyak banyak apresiasi, akan timbul rasa ketertarikan. Dari ketertarikan itulah kemudian menjadi jalan untuk belajar," jelas penari yang dahulu merupakan pemain sepak bola itu. 

Tarian Lomang dari SMA Siak Hulu (Foto: Bagus DR/GNFI)
Tarian Lomang dari SMA Siak Hulu (Foto: Bagus DR/GNFI)

Di malam harinya berbagai pertunjukan tari ditampilkan. Mulai dari tampilnya pemusik kondang Riau, yakni Riau Rhytm Chamber yang terkenal dengan alunan-alunan gaya melayunya. Kemudian penampilan Wan Harun Ismail, termasuk tampilan tarian Jaipong yang dipertontonkan oleh pemenang Indonesia Mencari Bakat 3, Sandrina Azzahra. 

(Foto: Bagus DR/GNFI)
(Foto: Bagus DR/GNFI)

Malam itu pula, 5 finalis dari Riau unjuk kebolehan. Lima finalis tersebut berasal dari SMA Dumai yang menampilkan Tarian Maling. Kemudian SMA 13 Pekanbaru dengan Tarian Layanganku. Tarian Lomang dari SMA Siak Hulu dan juga dari SMP Darma Yudha yang menampilkan Tarian Nasib Batang Puantan. Kelima finalis tersebut menampilkan tarian-tarian yang unik dengan cerita yang menggelitik dan sensitif untuk memperebutkan satu tiket ke ajang final di Jakarta yang akan diadakan pada 29 Oktober mendatang di Taman Ismail Marzuki. 

Sebuah pertunjukan mengagumkan mengingat bahwa mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kepedulian pada tarian-tarian tradisional. Inikah bentuk komitmen sumpah para pemuda untuk bangsa Indonesia?

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu