Benny Panjaitan "Panbers", Sang Perintis Pop Batak di Indonesia

Benny Panjaitan "Panbers", Sang Perintis Pop Batak di Indonesia
info gambar utama

Porbenget Mimbar Moal Hamonangan Panjaitan, nama itu mungkin terdengar asing sebab kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan nama Benny Panjaitan. Pria kelahiran Tarutung, Tapanuli, Sumatera Utara, 14 September 1948 ini adalah salah satu personel grup band Panbers (Panjaitan Bersaudara). Band yang berjaya pada tahun 1970-an. Salah satu lagunya yang terkenal dan hingga kini terdengar adalah "Gereja Tua". Lewat alunannya yang syahdu, liriknya yang romantis, menyentuh hati tua dan muda untuk menyanyikannya.

Sejak kecil, anak kedua dari Panjaitan bersaudara ini memang sangat mencintai musik. Darah itu mengalir dari sang ayah yang juga seorang pemain biola. Dalam mencipta lagu Benny sangat selektif, tidak ada kemiripan melodi sejak lagu pertamanya dengan lagu-lagu lainnya. Ia berprinsip melodinya mirip saja sedikit, tidak akan diteruskannya. Sebab itulah lagu Panbers terdengar abadi, karena satu lagu dengan lainnya tidak mempunyai kemiripan.

Perintis Rekaman Lagu Pop Batak

Berbagai panggung pertunjukan mulai Convention Hall kota-kota besar sampai lapangan bola terbuka di daerah-daerah terpencil pernah dijalani Benny Panjaitan dan kawan-kawan dalam rangka Tour-show. Panbers pun juga telah menerima banyak anugerah penghargaan dari jumlah penjualan album yang mereka raih di pasaran maupun atas prestasi mereka.

Prestasi yang gemilang di kancah nasional semakin sempurna dengan keberanian Benny dan Panbers membawa nuansa daerah dalam album rekamannya. Dalam album vol I Benny bersama Panbers mengangkat sebuah lagu Batak berjudul “Masihol Ahu”, lagu ini menjadi gebrakan baru dalam perjalanan lagu pop Batak, karena rekaman lagu pop Batak belum ada pada waktu itu.

Ternyata sambutan orang-orang Batak pada lagu itu sangat luar biasa, terbukti saat mereka bermain di Stadion Teladan Medan, dinding stadion sampai jebol oleh luapan penonton. Saat itu selebaran show mereka disebar menggunakan helikopter dan hal itu membuat mereka bangga sebagai orang Batak.

Diakui atau tidak, Panbers adalah peletak dasar berpijak bagi para penyanyi dan musisi Batak di industri musik rekaman dan show-biz berskala nasional. Panbers adalah ikon, sumber inspirasi, panutan, dan standar bagi anak-anak muda Batak pada dekade 70-an dan 80-an. Selain lagu-lagu Batak, Benny juga menciptakan lagu-lagu berbahasa Inggris, semuanya berirama Rock, misalnya “Rock And The Sea ”, “Jakarta City Sound", " Haai” dan “Let Us Dance Together”.

(Benny Panjaitan dalam sebuah penampilan/kapanlagi.com)
info gambar

Kepergian Benny Panjaitan

Panbers tercatat telah menghasilkan karya lebih dari 700 lagu dalam ratusan album, baik beraliran pop, rock, rohani, keroncong, lagu Batak, dan Melayu. Selama lebih dari empat dekade, Panbers pernah manggung di 350 kota besar dan kecil di Indonesia, konser di perbatasan negara, hingga di Jerusalem, Israel pada 2007.

Kini jagat musik Tanah Air kembali berduka. Musisi senior Benny Panjaitan meninggal dunia pada hari ini, Selasa (24/10). Vokalis band Panbers itu menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 09.50 WIB setelah berjuang melawan sakit stroke yang dideritanya sejak 2010.

Terima Kasih Benny Panjaitan, selamat jalan. Karya dan dedikasimu untuk musik Indonesia selalu terkenang dan menjadi semangat bagi pekarya dan musisi Indonesia.

Sumber: tribun, jawa pos

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini