Indonesia, Cermin Negara Damai Bagi Negara Konflik

Indonesia, Cermin Negara Damai Bagi Negara Konflik

ilustrasi gambar keberagaman Indonesia © https://www.google.com/doodles/indonesia-independence-day-2017

Dalam penggalan paragraf dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea ke empat yang berbunyi “..Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia,..” menjelaskan bagaimana posisi Indonesia sebagai pembawa perdamaian bagi dunia. Indonesia adalah negara plural yang cinta damai. Dan ternyata, banyak negara yang menyadarinya termasuk Afganistan.

Indonesia menyatakan kontribusinya dalam proses perdamaian di Afganistan yang diawali dengan kunjungan Menlu RI, Retno Marsudi yang tiba di Kabul pada Senin (6/11) pukul 07.15 pagi waktu setempat. Kunjungan Retno Marsudi ke Afghanistan dinilai bersejarah karena merupakan kunjungan kerja seorang Menlu RI setelah sekian lama. Kunjungan terakhir Menlu RI ke Afghanistan adalah pada 1961.

Menurut kabar dari antara, kunjungan tersebut membahas berbagai kerjasama bilateral bersama Presiden Afganistan, Ashraf Ghani. Dalam pertemuan itu, Retno membahas tindak lanjut kunjungan Presiden Afghanistan ke Indonesia pada awal 2017, khususnya mengenai proses perdamaian dan rekonsiliasi di negara itu. Menlu Retno menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia dapat menjadi contoh dalam membangun perdamaian Afghanistan. Salah satu wujud dari peran Indonesia dalam proses pembangunan perdamaian di Afghanistan adalah melalui kehadiran Indonesia Islamic Center, yang menyebarkan ajaran nilai-nilai Islam yang moderat.

Arsip Foto. Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menkopolhukam Wiranto (kedua kanan), Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno (kedua kiri) dan Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri Simposium Nasional Kebudayaan di Jakarta, Senin (20/11/2017).(ANTARA /Puspa Perwitasari)
Arsip Foto. Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menkopolhukam Wiranto (kedua kanan), Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno (kedua kiri) dan Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri Simposium Nasional Kebudayaan di Jakarta, Senin (20/11/2017).(ANTARA /Puspa Perwitasari)

Indonesia juga dinilai bisa bersikap netral karena Indonesia tidak memiliki kepentingan apapun di balik konflik Afganistan sehingga Indonesia dianggap bisa dipercaya. Ketua Majelis Tinggi Perdamaian Afghanistan Mohammed Karim Khalili meminta bantuan Indonesia untuk meredam konflik dan mewujudkan perdamaian di negaranya dan menyadari bahwa peran penting Indonesia sehingga tak ragu meminta bantuan untuk negaranya. Khalili bersama 35 anggota majelis pada Selasa, 21 November 2017 menghadiri jamuan makan siang khusus bersama Presiden Joko Widodo. Khalili mengapresiasi keinginan Indonesia untuk membantu Afghanistan High Peace Council menyelesaikan konflik dan berharap ke depan dapat menjalin hubungan yang lebih erat dengan Indonesia.


Sumber: antara news | tempo.co

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dia Dibalik Rancangan Garuda Pancasila Sebelummnya

Dia Dibalik Rancangan Garuda Pancasila

Dikunjungi Menteri Pariwisata, Pulau Rupat Bakal Jadi Destinasi Wisata Unggul Selanjutnya

Dikunjungi Menteri Pariwisata, Pulau Rupat Bakal Jadi Destinasi Wisata Unggul

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.