Malam hari itu sangat spesial, di ruangan yang temaram, bayangan tokoh-tokoh Jawa terasa magis menjadi pusat perhatian mata-mata yang memenuhi bangku penonton. Pertunjukkan wayang sedang ditampilkan, bayangan lakon Bima terlihat sedang beradu otot dengan tokoh antagonis dalam layar kain putih yang berada di tengah-tengah panggung. Kemudian tokoh-tokoh garang tersebut digantikan oleh lawakan dan banyolan dari keempat karakter Punakawan (Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar) yang terkenal itu. Namun ada yang aneh, mereka berbicara tidak dengan menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, mereka melawak dengan bahasa Jepang!

Itu adalah sebagian cuplikan kegiatan pertunjukkan wayang yang dibawakan oleh kelompok wayang keliling Hana Joss dalam acara Indonesia Culture Day (ICD) 2017 yang dilaksankan 5 November yang lalu di Fukuoka, Jepang. Selain menampilkan pertunjukkan wayang, acara yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia – Fukuoka (PPIF) ini juga mengadakan workshop wayang dan gamelan Jawa kepada peserta anak-anak. Dengan berbagai macam wayang yang dimiliki oleh Hana Joss, anak-anak Jepang berkesempatan untuk mencoba memainkan wayang-wayang kontemporer yang memiliki berbagai macam bentuk mulai dari monster gurita, hantu, sampai dinosaurus. Pertunjukkan wayang pun disesuaikan dengan umur peserta.

Seniman wayang Hana Joss sedang memberikan workshop gamelan Jawa kepada anak-anak Jepang.
Seniman wayang Hana Joss sedang memberikan workshop gamelan Jawa kepada anak-anak Jepang. © 2017 Wisnu Suyantara

Pada sesi pertama, sesi yang dikhususkan untuk anak-anak ini menceritakan kisah fabel yang diperankan oleh tokoh-tokoh wayang diringi dengan gamelan Jawa. Sedangkan sesi malam, sesi yang lebih serius, cerita yang diangkat juga lebih dalam dan lebih berkesan. Selain menyajikan berbagai macam pertunjukkan mengenai wayang dan gamelan Jawa, di dalam acara tersebut, ditampilkan juga pertunjukkan tari Saman dan musik tradisional angklung yang dibawakan oleh para pelajar yang tergabung dalam organisasi PPIF.

Niko Dian Pahlevi, ketua acara Indonesia Culture Day tahun ini menuturkan bahwa tujuan adanya acara ini, selain untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada khalayak Jepang, sebenarnya juga sebagai sarana bagi pelajar Indonesia untuk berkumpul dan melepas rindu terhadap kebudayaan Indonesia. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk mengumpulkan dana yang nantinya akan disumbangkan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia yang ada di daerah terpencil. Dana tersebut nantinya akan disalurkan melalui Badan Semi Otonom Beasiswa (BSOB), organisasi di luar PPIF yang bergerak dalam menggalang dana untuk kesejahteraan pendidikan anak-anak Indonesia di dalam negeri.

Pertunjukkan Saman yang ditampilkan oleh pelajar Indonesia di Fukuoka, Jepang.
Pertunjukkan Saman yang ditampilkan oleh pelajar Indonesia di Fukuoka, Jepang. © 2017 Wisnu Suyantara

Tema wayang dalam event kali ini sengaja dipilih karena keinginan para pelajar Indonesia sendiri untuk melihat wayang. “Banyak pelajar Indonesia yang sebetulnya belum pernah melihat wayang sehingga selain ingin mengenalkannya ke orang lain, pelajar Indonesia di Fukuoka pun penasaran dengan wayang itu sendiri,” ujar Niko menerangkan.

Ketika ditanya tentang respon peserta terhadap acara kali ini, Niko menuturkan bahwa acara kali ini berjalan cukup baik, ramai, dan mendapat respon yang cukup positif dari masyarakat Jepang. " Harapannya, dengan adanya ICD ini, masyarakat Jepang dapat lebih memahami dan mengerti kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Pun ke depannya, diharapkan pula hubungan masyarakat Jepang dengan warga Indonesia yang tinggal di Jepang secara individu juga makin erat,” ujarnya.

Noriko Ishii, seorang musisi solo handbell Jepang yang juga salah satu peserta yang hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa ia takjub dengan pertunjukkan yang ditampilkan. “Pertunjukkan wayangnya luar biasa, tari samannya sangat menarik, dan saya sangat suka alat musik angklung, suaranya sangat merdu. Saya sangat suka alat musik dari bambu tersebut!” ujarnya. Noriko Ishii juga mengaku bahwa ia sering melihat liputan tentang gamelan dan wayang dari televisi Jepang, namun baru pertama kali ini ia menyaksikannya secara langsung. “Pergerakkan pemainnya (dalang) dalam memainkan wayang itu sungguh luar biasa,” katanya.

Indonesia Culture Day sendiri adalah acara tahunan PPIF yang diselenggarakan setiap tahun. Setelah tahun lalu sukses dengan workshop membatik, kali ini juga tidak kalah suksesnya dengan tema wayang.



Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu