Nama Malioboro tidak asing terdengar di kalangan masyarakat Indonesia. Jalan yang menjadi pusat wisata belanja di Yogyakarta sarat akan pelaku jual beli, pengunjung, pilihan kuliner, dagangan batik yang menjadi khas kota ini, tidak tertinggal dokar dan pengendaranya yang parkir di pinggiran jalan menunggu penumpang untuk datang menghampiri menggunakan jasanya.

Penampakkan seperti tersebut di atas sudah menjadi satu kesatuan dengan jalan Malioboro. Dengan difungsikannya jalan Malioboro sebagai pusat wisata belanja saat berkunjung di Yogyakarta, Malioboro kini tampil dengan wajah baru, kian bersih, tertata, dan ramah terhadap para penyandang difabel.

Herlambang Jati Kusumo membagikan Wajah Baru Malioboro ini melalui postingannya di Indonesaga dengan judul yang sama beberapa waktu lalu.

Berikut penampilan baru Malioboro tanpa kehilangan kesan njawi nya.

Keluarga Berwefie di Kawasan Pedestrian Malioboro. Dulu jalan Malioboro yang semrawut dengan tempat parkir kini telah berubah menjadi nyaman untuk wisatwan dengan disediakan bangku yang nyaman.
Keluarga Berwefie di Kawasan Pedestrian Malioboro. Dulu jalan Malioboro yang semrawut dengan tempat parkir kini telah berubah menjadi nyaman untuk wisatwan dengan disediakan bangku yang nyaman | Foto: Herlambang / Indonesaga
Para pencari rejeki di Malioboro seperti tukang becak pun nyaman menunggu penumpang dengan bermain catur di kawasan Malioboro ini.
Para pencari rejeki di Malioboro seperti tukang becak pun nyaman menunggu penumpang dengan bermain catur di kawasan Malioboro ini | Foto: Herlambang / Indonesaga
Fasilitas jalur untuk difabel pun disediakan ditempat ini agar semua pengunjung lebih nyaman | Foto: Herlambang / Indonesaga
Fasilitas jalur untuk difabel pun disediakan ditempat ini agar semua pengunjung lebih nyaman | Foto: Herlambang / Indonesaga
Musisi jalan yang akrab dengan Malioboro melantunkan sebuah lagu untuk menghibur pengunjung. Fasilitas tempat sampah juga terlihat didekat para musisi jalanan itu | Foto: Herlambang / Indonesaga
Musisi jalan yang akrab dengan Malioboro melantunkan sebuah lagu untuk menghibur pengunjung. Fasilitas tempat sampah juga terlihat didekat para musisi jalanan itu | Foto: Herlambang / Indonesaga
Dikawasan Pedestrian Malioboro ini pun disediakan air siap minum dibeberapa titik yang dapat dinikmati ketika dahaga | Foto: Herlambang / Indonesaga
Dikawasan Pedestrian Malioboro ini pun disediakan air siap minum dibeberapa titik yang dapat dinikmati ketika dahaga | Foto: Herlambang / Indonesaga
Pedagang koran pun turut menikmati fasilitas ini untuk sekedar melepas lelah dan membaca informasi yang mereka jajakan | Foto: Herlambang / Indonesaga
Pedagang koran pun turut menikmati fasilitas ini untuk sekedar melepas lelah dan membaca informasi yang mereka jajakan | Foto: Herlambang / Indonesaga
Beberapa tulisan dengan aksara Jawa pun terpampang di jalan Malioboro ini menambah kesan budaya yang tak pernah ditinggalkan | Foto: Herlambang / Indonesaga
Beberapa tulisan dengan aksara Jawa pun terpampang di jalan Malioboro ini menambah kesan budaya yang tak pernah ditinggalkan | Foto: Herlambang / Indonesaga
Beberapa tambahan hiasan di besi yang ada dibeberapa titikpun menambah kekhasan tersendiri | Foto: Herlambang / Indonesaga
Beberapa tambahan hiasan di besi yang ada dibeberapa titikpun menambah kekhasan tersendiri | Foto: Herlambang / Indonesaga
Seseorang melintasi kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang akan selalu menjadi kenangan tersendiri bagi wisatawan yang mengunjunginya yang diiringi keramahan disekitar. Pada akhirnya hasil pedestrian itu harus menjadi tanggung jawab semua pihak agar tetap menjadi kawasan yang nyaman dan selalu memberikan kesan baik | Foto: Herlambang / Indonesaga
Seseorang melintasi kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang akan selalu menjadi kenangan tersendiri bagi wisatawan yang mengunjunginya yang diiringi keramahan disekitar. Pada akhirnya hasil pedestrian itu harus menjadi tanggung jawab semua pihak agar tetap menjadi kawasan yang nyaman dan selalu memberikan kesan baik | Foto: Herlambang / Indonesaga

Sungguh indah, bukan?

Sumber: Indonesaga

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu