Melestarikan Budaya Betawi: Jangan, Malu! Kita Tidak Ketinggalan Zaman, Kok!

Melestarikan Budaya Betawi: Jangan, Malu! Kita Tidak Ketinggalan Zaman, Kok!

Bapak Mahmud (tengah) dan para anggota sanggar Miks Mutiara Betawi © Dok. Penulis

Jakarta adalah sebuah kota metropolitan yang dihuni oleh lebih dari sepuluh juta jiwa penduduk. Di lahan seluas 661,5 km2 ini berbagai suku dari seluruh Indonesia datang dan tinggal menetap, bertahan hidup, belajar, juga berinovasi demi menuju kehidupan yang lebih baik.

Kota Jakarta semakin lama semakin berkembang sangat pesat, kota ini melahirkan banyak sekali ide-ide yang nyatanya mengembangkan bangsa Indonesia. Namun, masih ingatkah kita tentang budaya suku asli Jakarta?

Suku Betawi adalah suku asli yang mendiami wilayah Jakarta. Menurut beberapa jurnal penelitian, orang-orang suku Betawi telah ada jauh sebelum Jan Pieterzoon Coen membakar Jayakarta pada tahun 1619.

Orang Betawi hidup dan berkembang melahirkan berbagai macam kebudayaan. Dengan proses yang panjang, budaya Betawi lahir. Kebudayaan dan kesenian Betawi banyak mendapat pengaruh dari kebudayan Cina, Arab, India, Sunda, bahkan Portugis.

Tidak banyak yang tahu bahwa berdasarkan kebudayaannya, suku Betawi dibagi menjadi dua: Betawi Tengah (Betawi Kota) dan Betawi Pinggiran (Betawi Ora). Suku Betawi Kota banyak mendiami daerah pusat Kota Jakarta, dan banyak mendapatkan pengaruh kuat dari kebudayaan Melayu. Sementara suku Betawi Pinggiran banyak mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok (daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat), dan budaya Sunda (daerah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan).

Kebudayaan dan kesenian etnis Betawi tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya.

Dari sekian banyak kebudayaan yang dimiliki oleh suku Betawi, ada satu proses yang membuat saya sangat tertarik, yaitu proses perkawinan. Saya berkesempatan untuk datang langsung melihat upacara Buka Palang Pintu di salah satu perkawinan di daerah Rawa Buaya, Jatinegara, Jakarta Timur.

Tak hanya datang dan menyaksikan langsung bagaimana upacara Buka Palang Pintu ini berlangsung, namun saya juga bekerkesempatan untuk mewawancarai salah satu pelakor upacara Buka Palang Pintu, yaitu Bapak Mahmud yang berasal dari Sanggar Eks Mutiara Betawi.

Di dalam kebudayaan Betawi, ada tiga fase dalam hidup yang paling penting, yaitu: lahir, menikah, dan mati. Tentu saja fase yang paling bisa kita rencanakan adalah fase kedua, yaitu menikah.

Menurut orang Betawi, menikah adalah sebuah gerbang perubahan perilaku siklus hidup seseorang, dari yang tadinya tinggal bersama orangtuanya, sekarang sudah harus tinggal bersama pasangannya dan membangun sebuah keluarga baru.

Di fase ini, tentu saja seseorang akan banyak memiliki perubahan sikap, karena ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.

Upacara pernikahan adat Betawi memiliki beberapa tahapan yang cukup panjang, dari mulai lamaran hingga pesta penutupan. Namun yang paling menarik menurut saya adalah prosesi upacara Buka Palang Pintu.

Apa itu sebenarnya prosesi upacara Buka Palang Pintu?

Buka Palang Pintu merupakan salah satu bagian dari serangkaian acara prosesi pernikahan adat Betawi. Mengapa dinamakan Buka Palang Pintu? Bapak Mahmud menceritakan bahwa sebuah rumah pasti lah memiliki sebuah pintu, dan memiliki sebuah palang (penutup atau pengunci pintu, yang terbuat dari kayu dengan posisi dipasang horizontal).

“Nah, sebelum kita memasuki sebuah rumah, kita harus masuk lewat pintu, dan ternyata pintu itu terkunci, maka, kita harus memiliki anak kuncinya,” jelas Pak Mahmud menambahkan.

Prosesi ini dilakukan sebelum melaksanakan akad nikah, dimana rombongan dari pihak keluarga laki-laki akan datang sambil diiringi dengan permainan rebana ketimpring, serta dengan membawa berbagai macam barang seserahan. Barang-barang tersebut seperti makanan (buah-buahan dan sayuran), perabotan rumah tangga (lemari pakaian, tempat tidur, dsb), dan yang tak ketinggalan adalah roti buaya, dan sirih nanas.

Roti buaya dibawa karena ada filosofi di baliknya, buaya sendiri merupakan seekor hewan yang sangat setia dengan pasangannya. Buaya hanya kawin sekali seumur hidup, jika pasangannya mati, maka buaya tidak akan kawin lagi. Inilah yang menjadi harapan dari sebuah pernikahan budaya betawi, agar pasangan yang menikah hanya menikah sekali seumur hidupnya dan hanya maut yang memisahkan.

Barang seserahan yang tergolong banyak dibawa oleh pihak laki-laki adalah simbol bahwa dalam budaya Betawi laki-laki dipandang sebagai calon kepala keluarga, yang memiliki tanggung jawab yang besar kepada keluarga yang akan dibangunnya nanti.

Sebelum seorang lelaki akan membangun sebuah rumah tangga dengan seorang perempuan, laki-laki harus memiliki modal terlebih dahulu. Perabotan yang dibawa adalah gambaran dari modal untuk membangun rumah tangga. Karena perabotan itu nantinya akan dipakai ketika mereka sudah berumah tangga. Ketika menjalani rumah tangga nanti, laki-laki harus sudah siap menyediakan kebutuhan bagi keluarganya kelak.

Selain itu pihak laki-laki juga membawa buah nanas dan beberapa lembar daun sirih. Di dalam buah nanas biasanya diselipkan sejumlah uang, sebagai bentuk mas kawin dari pihak pria kepada pihak wanita. Buah nanas dipilih karena buah nanas adalah salah satu buah yang memiliki banyak manfaat.

Sedangkan daun sirih biasanya dipakai oleh orang tua untuk membersihkan giginya. Membawa daun sirih adalah sebagai bentuk cinta kasih dari pihak laki-laki, karena membawa sebuah barang yang bisa dipakai oleh orang tua. Hal ini merupakan salah satu bentuk penghormatan untuk orang yang lebih tua.

Selanjutnya, sebelum masuk ke kediaman perempuan, pihak laki-laki harus membawa jawara dari kampungnya untuk melawan jawara dari kampung perempuan. Jika jawara dari kampung laki-laki menang, maka pihak laki-laki diperbolehkan masuk ke kediaman perempuan.

Sosok jawara disini mewakilkan sebuah pesan bahwa seorang laki-laki harus kuat dan bisa melindungi keluarganya kelak.

“Pada zaman dulu ketika zaman kolonial belanda. Seorang kepala keluarga harus bisa melindungi keluarganya dari kejahatan para penjajah. Para penjajah zaman dulu suka merebut istri orang-orang Betawi, jadi seorang laki-laki Betawi harus bisa bermain silat, dan jago berantem, agar istrinya tidak diambil para penjajah. Kan, ciri-ciri orang Betawi ada tiga, tuh, bisa main silat, jago ngaji, dan jago main rebana,” jelas Pak Mahmud.

“Jawara dari pihak perempuan dinamakan palang pintu, dan jawara dari pihak laki-laki dinamakan anak kunci,” tambahnya.

Selain para jawara dari kedua belah pihak saling bertarung, ada juga dialog berbalasan pantun dari kedua belah pihak, jenis pantun yang dipakai adalah pantun jenaka.

Tak hanya membawa berbagai seserahan, pertarungan kedua jawara, dan berbalas pantun, ada juga seseorang dari pihak laki-laki yang harus menyanyikan sike. Sike adalah sebuah shalawat yang dinyanyikan dengan merdu.

Menurut Pak Mahmud, pernikahan Betawi sampai sekarang juga masih sering dilaksanakan, khususnya di daerah Kemayoran, Kebayoran Baru, Kemandoran, Rawa Belong, Tanah Abang, Kampung Melayu, Bekasi, Jati Negara, dan Kwitang.

Tak hanya berbincang tentang porsesi upacara Buka Palang Pintu, saya juga berbincang mengenai keadaan budaya Betawi di zaman sekarang dengan Pak Mahmud.

Ternyata penjelasan Pak Mahmud berbanding terbalik dengan ekspektasi saya. Beliau mengatakan bahwa budaya Betawi makin hari makin banyak peminatnya.

Allhamdullilah, sekarang sudah makin banyak anak-anak muda Betawi yang ikut melestarikan budaya Betawi. Makin banyak anak Betawi yang mau belajar rebana ketimpring dan palang pintu. Anak Betawi sekarang, alhamdulilah, makin hari makin memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan adatnya,” jelas beliau sambil tersenyum.

Pak Mahmud dan beberapa angota sanggar lainnya biasanya melaksanakan latihan rebana, latihan Palang Pintu, latihan berdialog pantun, dan latihan pencak silat secara rutin pada hari Kamis.

Anggota sanggar Miks Mutiara Betawi juga berasal dari berbagai macam daerah, ada yang dari Bojong, Citayem, Bekalsi, Pancoran dan Kampung Melayu. Anggota sanggar kini berusia dari umur dua puluhan hingga empat puluhan.

Pelestari budaya Betawi ini juga memiliki rasa optimis yang besar tentang masa depan budaya Betawi.

“Saya optimis 10 atau 20 tahun kedepan, budaya Betawi akan masih lestari, kok. Jika kita sekarang masih mau melestarikannya, dan terlebih mengajarkan budaya itu kepada anak-anak kita nantinya. Saya juga berharap sanggar-sanggar Betawi masih bisa eksis, dan konsisten tetap ada, lebih banyak generasi penerus yang melestarikan, dan bahkan saya berharap sanggar saya bisa Go-International,” ungkapnya

Beliau juga berpesan kepada para penerus budaya,

“Saya berharap generasi muda Indonesia harus tetap menjaga budayanya, yaitu budaya sopan santun. Yang kedua harus makin banyak anak Indonesia yang punya pendidikan yang baik, jangan malas. Yang ketiga, harus mau bertanggung jawab melestarikan budayanya masing-masing, nggak usah malu sama budaya sendiri, jangan malu untuk ketinggalan zaman.”

Seorang pelestari budaya seperti Pak Mahmud pun memiliki harapan khusus untuk Indonesia di tahun 2045 nanti. Beliau berharap dan yakin bahwa negaranya pasti bisa maju dan berdiri sama rata dengan negara lain.

“Saya melihat nantinya Indonesia bisa lebih maju dan rakyatnya bisa hidup dengan sejahtera. Pemerintah bisa bekerja untuk rakyat, yang tujuannya untuk menyejahterakan rakyat, memperhatikan rakyat. Dari mulai pendidikan memberikan lapangan pekerjaan untuk rakyat, harga sembako di pasar bisa terjangkau, harga bensin juga terjangkau, dan fasilitas sosial seperti rumah sakit juga nyaman untuk rakyat. Saya yakin jika rakyatnya sejahtera, Insya Allah, Indonesia pasti bisa menyaingi negara-negara lain. Saya yakin, kok, Indonesia juga bisa maju.”

Pilih BanggaBangga62%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau8%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kedua MRT Akan Sampai Di Indonesia Akhir Bulan Maret Sebelummnya

Kedua MRT Akan Sampai Di Indonesia Akhir Bulan Maret

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.