Kapal KM Pangrangro membunyikan sirene kerasnya. Sudah jam 11 siang Waktu Indonesia Timur. Saya bergegas mengambil handphone saya dan buru-buru naik ke dek kapal untuk mengambil satu dua gambar.  Saya tidak mau ketinggalan momen itu.

"Banda sudah di depan" kata Iven  setengah berteriak. Dia adalah seorang kawan dari Saumlaki, Pulau Tanimbar,  yang saya temui semalam. 

 

Bandanaira. Kata sang pendiri bangsa, 'jangan mati sebelum ke Bandanaira'. . Kupenuhi janjimu, Bung Hatta . . . . . . . #bandanaira #bandaneira #maluku

A post shared by Akhyari Hananto (@akhyaree) on

Dua belas jam sudah kapal ini membelah Laut Banda, lautan terdalam di Indonesia.  Benar saja di depan saya, Gunung Api dengan gagah menyambut pertama , kemudian disusul sang Banda Besar, sebelum airnya ke Naira. Gunung Api inilah 'landmark' gugusan pulau Banda.

Saya tak bisa menahan airmata.

Beratus tahun lalu, para pedagang dari Tiongkok, dari Arab, mengarungi separuh dunia untuk pergi ke gugusan pulau-pulau kecil ini, dan Gunung Api inilah yang pertama menyapa mereka.  Pulau yang sama sekali tak nampak dalam peta dunia ini bagaikan magnet bagi para pedagang dunia, untuk membeli hasil bumi yang kala itu hanya ada di kepulauan Banda, buah Pala (Myristica fragans ) yang kemudian menjualnya ke Eropa untuk digunakan sebagai penyedap, pengawet, obat, parfum, dan kosmetik. 

Buah Pala ini berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak, kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan satu biji berwarna coklat. Buah kecil ini kelak akan menggores sejarah Nusantara, dan mengubah arah sejarah dunia.

Kebun-kebun Pala sudah mulai terlihat dari kejauhan, berpadu dengan pohon-pohon kenari tua berukuran raksasa, juga pohon kayu manis. 

Buah Pala | neatorama.com
Buah Pala | neatorama.com

"Puluhan kali saya memasuki kepulauan Banda, puluhan kali pula saya harus menahan airmata bila kapal memasuki Banda" kata Iven  dengan nada lirih di samping saya.  Saya terbangun dari lamunan sambil menyeka airmata. Kapal makin mendekat ke Banda Naira, tempat kapal akan berhenti dan berlabuh satu malam. 

Dan mulailah nampak benteng-benteng peninggalan para penjajah Eropa yang saling berperang antar mereka untuk menguasai dan memerangi rakyat Banda, dan mendapatkan keuntungan luar biasa. 

Lukisan tua Belanda yang menggambarkan Gunung Api dan Banda tahun 1754 | mapandmaps
Lukisan tua Belanda yang menggambarkan Gunung Api dan Banda tahun 1754 | mapandmaps

Di kiri kanan, saya melihat benteng angkara murka lambang kerakusan dan haus-darahnya para penjajah Belanda seraya kapal mulai melambat. Benteng Hollandia yang dibangun pada 1624 terlihat di kanan, Benteng Nassau yang lebih tua (selesai pada 1609) terlihat di depan, dan di atas bukit terlihat pongah Benteng Belgica (tahun 1611).

Benteng-benteng yang dibangun tanpa pernah mendapat ijin dari rakyat Banda tersebut menjadi saksi biksu kejahatan, kerakusan, dan tindakan tak manusiawi Belanda selama ratusan tahun kepada rakyat Banda. Inilah saksi bisu dijarahnya jutaan ton buah pala Banda yang diangkut dan dijual ke Eropa dengan keuntungan 1400x lipat. Hasil keserakahan raksasa selama ratusan tahun ini menjadikan Belanda mampu membangun kota-kota seperti Amsterdam, Rotterdam, dan kota-kota lain berikut infrastrukturnya. 

Melambat mendekati Banda | themaulana.com
Melambat mendekati Banda | themaulana.com

Bung Karno pernah berucap, bahwa kota Amsterdam memang Indah dengan gedung-gedung megahnya,  tapi "saya mencium bau buah Pala dan darah rakyat Banda" ungkapnya. 

Saya turun pelan dari kapal, dan menuju bibir laut untuk merasakan udara Banda. Saya menutup mata, mencoba memasuki lorong waktu berabad lampau, dan membiarkan imajinasi saya bermain-main dengan Banda Naira di depan saya. Getar-getar sejarah itu begitu terasa dalam percikan ombak Laut Banda yang membasahi wajah saya, bercampur dengan linangan airmata, pun dalam sapuan angin timur yang menggerakkan ribuan pohon Pala dan membuat suara gemuruh, seperti gemuruh batin saya.

Saya sudah sampai di Banda Naira. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu