Mahasiswa ITS Juara Desain Sistem Keamanan Kapal di Amerika Serikat

Mahasiswa ITS Juara Desain Sistem Keamanan Kapal di Amerika Serikat

Kapal Archimaiden karya tim Basudewa © humas ITS

Karya mahasiswa Indonesia kembali berhasil meraih prestasi internasional. Para mahasiswa yang tergabung dalam Tim Basudewa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil meraih juara dua dalam kompetisi Worldwide Ferry Safety Design Competition yang diadakan oleh Worldwide Ferry Safety Associaton asal Amerika Serikat.

Sebagaimana dilansir laman resmi ITS (23/3) penghargaan prestasi tersebut diserahkan di New York, Amerika Serikat untuk tim Basudewa yang terdiri dari Jangka Ruliyanto, Raja Andhika, Rahmat Diko Edfi, Novario Adiguna, Alvinur, Yudha, dan Riyan Bagus dari Departemen Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan ITS. Prestasi ini membuat ITS semakin memiliki resputasi dalam pengembangan keilmuwan kemaritiman di Indonesia.

Pada kompetisi yang melombakan desain keamanan kapal tersebut, desain tim Basudewa dinilai memiliki keunggulan dalam aspek stabilitas, konstruksi kapal, serta sesuai dengan karakter dermaga dan laut. Dalam kompetisi ini laut yang dimaksud adalah Selat Singapura yang dipilih sebagai objek studi kasus kompetisi.

Selain itu, keamanan kapal dari tim Basudewa dirancang sesuai regulasi Safety of LIfe at Seas (Solas) 3 dan 4 sehingga kapal memiliki pemadam api dan rute evakuasi di dalam kapal untuk protokol keselamatan penumpang. Tidak hanya dalam hal keamanan, kapal ferry hasil desain tim Basudewa dirancang menggunakan teknologi twin-screw water jet sebagai penggerak yang telah menggunakan bahan bakar hibrida sebagai sumber energi. Kapal ini diberi nama Kapal Archimaiden.

Rahmad Diko Edfi dan Jangka Ruliyanto saat menerima penghargaan di New York (Foto: humas ITS)
Rahmad Diko Edfi dan Jangka Ruliyanto saat menerima penghargaan di New York (Foto: humas ITS)

Salah satu anggota tim Basudewa, Jangka Ruliyanto, menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar hibrida akan lebih hemat dibandingkan dengan kapal ferry pada umumnya di Selat Singapura. "Penghematan biaya bisa mencapai 17,21 persen," ujar Jangka.

Kompetisi pada tahun 2018 ini tim Basudewa harus bersaing dengan wakil dari berbagai negara. Tercatat terdapat 19 negara yang terlibat termasuk Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Belanda dan negara-negara maju lainnya. Kemenangan tim dari ITS tentu saja menjadi kebanggan karena mampu unggul dari negara-negara maju yang dikenal memiliki kemajuan inovasi. "Kita bersanding dengan Singapura yang berhasil meraih juara satu dan India juara 3 serta Belanda sebagai juara 4. Alhamdulillah Asia meraih tiga besar," jelas Jangka.

Sementara itu, Pembimbing tim Basudewa, Ir Agoes Santoso MPhil dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) menjelaskan bahwa persaingan dalam kompetisi ini cukup ketat karena semua peserta siap dengan kualitas hasil dan mental, ia mengaku tidak menyangka tim Basudewa mampu juara dua. "Yang kami tanamkan adalah terus semangat menghasilkan desain kapal yang nyaman, handal, ramah lingkungan dan efisien," ujar Agoes.

Pilih BanggaBangga84%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau5%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Misi Berlanjut, Dua Mahasiswi Indonesia Menuju Puncak Dunia Sebelummnya

Misi Berlanjut, Dua Mahasiswi Indonesia Menuju Puncak Dunia

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.