Kartini, Pendidikan Perempuan Pribumi dan Gastronomi Indonesia

Kartini, Pendidikan Perempuan Pribumi dan Gastronomi Indonesia

© Mantra Media / unsplash.com

Perempuan yang lahir di kalangan bangsawan atau priyayi di era kolonial Belanda di Indonesia kerap mendapatkan perlakuan dan akses-akses khusus yang tidak banyak dimiliki oleh pribumi pada umumnya. Salah satu sosok yang mendapatkan kelebihan tersebut adalah seorang Raden Ajeng Kartini, seorang putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara di tahun 1881.

Perlakuan dan akses khusus yang didapatkan oleh Raden Ajeng Kartini membuatnya banyak berinteraksi dengan perempuan-perempuan terdidik dari kalangan Belanda baik di Hindia Belanda maupun di Eropa. Salah satunya adalah Jacques Henrij Abendanon yang kemudian hari membukukan surat-surat Kartini menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang sering diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dalam buku tersebut banyak hal yang disampaikan oleh Kartini kepada kawan korespondennya di Eropa. Perhatian-perhatian Kartini tentang kualitas hidup perempuan pribumi, pendidikan dan juga tentang keterampilan gastronomi. Pada umumnya pembahasan tentang Kartini lebih banyak mengungkap tentang bagaimana perempuan ningrat tersebut menyampaikan pendapatnya tentang pendidikan para perempuan pribumi. Namun masih jarang yang membahas bagaimana perhatian Kartini pada pendidikan bisa dikatakan bermula dari urusan domestik yang saat ini mungkin tidak lagi menjadi stereotip perempuan, yakni urusan masak-memasak.

Dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara, Fadly Rahman menjelaskan bahwa Kartini merupakan salah satu sosok yang mengagumi gastronomi Belanda. Dalam salah satu suratnya, Kartini berkata pada Abendanon,

"Nyonya tidak tahu seperti halnya semuanya yang bersifat Eropah, lebih-lebih kegiatan seperti seni memasak cara Eropah yang sangat banyak artinya bagi ibu-ibu kami, bagaimana mereka menunjukkan anak-anak perempuannya akan hal itu seperti kepada sesuatu puncak kemajuan, bagaimana hal itu akan membantu meningkatkan usaha kami dalam mata mereka."

Tersirat bahwa Kartini memang menyanjung seni memasak Eropa saat itu dan berusaha mengadopsi pengetahuan tersebut untuk para ibu pribumi. Dalam surat yang lain pada Abendanon, Kartini berujar,

"Kursus dalam ilmu kerumahtangaan dan pekerjaan tangan pasti akan merupakan kegiatan yang mengasyikkan benar bagi perempuan Jawa. Bukankah hampir semua ibu bangsa Jawa, bercita-cita agar anak-anaknya yang perempuan kelak akan dapat memasak dan membuat pekerjaan tangan dengan baik sekali?"

Surat-surat tersebut tentu saja menggambarkan bagaimana Kartini berusaha memajukan perempuan Pribumi Jawa melalui pendidikan memasak. Memasak bisa jadi merupakan pintu yang dipilih untuk memajukan perempuan Pribumi Jawa karena Kartini hidup di kalangan ningrat yang dekat dengan formalitas gastronomi meski saat itu didominasi oleh masakan Eropa.

Berkat kemampuan literasi baca dan tulis Kartini yang baik, ia pun menuliskan resep-resep masakan yang ia ketahui dalam aksara Jawa. Pemilihan aksara jawa tentu saja menarik, karena hal ini mengindikasikan keinginan Kartini untuk turut bisa menularkan kemampuan memasaknya pada perempuan Pribumi Jawa.

Namun sayangnya, impian tersebut tidak dapat terwujud di masa Kartini masih hidup. Sebab Kartini meninggal pada usia yang muda, 25 tahun saat melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat di tahun 1904.

Upaya mulia untuk memajukan perempuan Pribumi Jawa agar lebih mandiri dan memahami ilmu kehidupan termasuk ilmu memasak kemudian berhasil dilakukan ketika Abendanono menerbitkan Habis Gelap Terbitlah Terang di tahun 1911 yang kemudian diikuti berdirinya Yayasan Kartini pada 1912 oleh Van Deventer. Saat itu Yayasan Kartini membuka sekolah perempuan Pribumi Jawa pertama yang berada di Semarang dan kemudian merambah ke berbagai daerah.

Sementara beberapa tahun sebelumnya juga dijelaskan dalam buku Jejak Rasa Nusantara, beberapa sekolah perempuan telah muncul. Seperti pada tahun 1904 di Bandung ada sekolah Kaotaman Istri yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika yang pada tahun 1910 mengajarkan pendidikan memasak. Di Padang, Sitti Rohana mendirikan sekolah kerajinan di Koto Gadang yang kemudian di tahun 1911 didirikan organisasi Keradjinan Amal Setia.

Kemunculan sekolah-sekolah perempuan tersebut kemudian mendorong segelintir penerbit untuk menyiarkan pengetahuan memasak ke perempuan-perempuan yang ada di Hindia Belanda. Seperti buku karya Lie Te Long yang berjudul Boekoe Masakan Betawi: Moewat Roepa-Roepa Recept Masakan China, Ollanda, Djawa dan Melajoe.

Impian Kartini untuk "mencerdaskan" perempuan Pribumi Jawa melalui berbagai keterampilan termasuk memasak dapat dikatakan mempengaruhi sejarah perkembangan gastronomi di Hindia Belanda dan Indonesia di kemudian hari. Sebab di masa Kartini, perkembangan buku masak, tidak lain adalah ditujukan untuk para perempuan dan juru masak di masa tersebut. Tanpa bermunculan dan berkembangnya sekolah-sekolah perempuan di saat itu, mungkin saja perkembangan gastronomi masakan di Indonesia tidak seperti saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kampanye Kreatif Untuk Lingkungan Yang Lebih Baik Sebelummnya

Kampanye Kreatif Untuk Lingkungan Yang Lebih Baik

3 Kunci Menghapal Cepat, Mudah, dan Efektif Selanjutnya

3 Kunci Menghapal Cepat, Mudah, dan Efektif

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

Seorang copywriter dan penulis konten yang berusaha menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.