Pola pikir tentang Surabaya pada umumnya di Indonesia identik dengan hari pahlawan. Kejadian luar biasa yang tidak hanya menghenyak Indonesia tetapi juga dunia internasional. Perjuangan dan keberanian tercatat dalam sejarah sebagai perang paska perang dunia II terhebat dalam sejarah. Rasanya pola pikir itu pula yang mengalir di dalam diri entitas yang hidup di kota ini. Begitupula pada saya. 

Saya memang bukan dilahirkan di kota pahlawan. Tetapi hampir lebih dari 5 tahun saya melihat perkembangan dan pemandangan yang berbeda pada Surabaya dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Kota ini seperti memiliki keberanian yang berbeda. Melakukan terobosan-terobosan yang berbeda. 

Mungkin ada yang mengira bahwa itu terjadi karena kepemimpinan yang tepat. Tapi hemat saya, Surabaya bukan tentang hal itu saja. Surabaya adalah tentang kebersamaan, kekompakan para warga untuk membuat kota menjadi semakin baik untuk bersama bahkan untuk para pendatang dari kota sekitarnya sekalipun. 

Pemandangan yang sama terjadi pada tahun 1945 yang lalu. Saat resolusi jihad dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy'ari. Pejuang-pejuang di Jawa timur kala itu berbondong-bondong datang ke Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Suasana serupa rasanya juga terjadi kala krisis seperti yang terjadi hari ini. Teror terjadi di 3 Gereja besar di kota Surabaya, seakan menjadi simbol bahwa Surabaya mampu ditaklukkan oleh teror. Saya yang pagi tadi berada tidak jauh dari lokasi kejadian merasa tertegun. "Surabaya menjadi target, bagaimana mungkin." 

Seperti biasa informasi sosial media berseliweran. Menciptakan teror-teror baru yang tidak disengaja. Namun warga Surabaya bergeming, seperti sudah mengerti apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Laporan-laporan secara sukarela masuk ke pihak yang bertugas, relawan mulai bergerak. Para petugas medis, dan pihak keamanan bersiap di posnya masing-masing dan bahkan di Palang Merah Indonesia ratusan orang datang untuk mendonorkan darahnya untuk para korban. 

Memang, suasana kota malam ini masih mencekam. Isu-isu masih terus berseliweran, warga bersiaga di kampungnya masing-masing. Tapi selama kekompakan tetap terjadi, rasanya Surabaya akan mampu bertahan. 

Kata-kataWani atau berani! terus digaungkan oleh para pemuda Surabaya yang turut berjaga-jaga mengamankan situasi. Aksi solidaritas juga dilakukan untuk memperkuat ikatan sesama warga. Simbolis memang, tapi rasanya itu cukup untuk memperlihatkan bahwa Surabaya adalah kota perjuangan bersama. 

Di ulang tahunnya yang ke-725 di bulan Mei ini, Surabaya diuji dengan hal yang begitu berat. Namun ini bisa menjadi momentum bagaimana sebuah kota pahlawan pantas untuk mendapatkan gelar kepahlawanannya. Lewat keberanian dan kebersamaan, Surabaya akan mengirimkan pesan ke seluruh Indonesia bahwa bangsa Indonesia tidak akan pernah takut dengan teror.

Saya bersyukur, menjadi bagian dari kota yang menakjubkan ini. Semoga Indonesia senantiasa diberi perlindungan dan keamanan. Jangan pernah berhenti untuk optimis.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu