Tradisi "Kekal" di Bulan Ramadhan

Tradisi "Kekal" di Bulan Ramadhan
info gambar utama

Manusia memang tidak ada habis-habisnya dalam menciptakan sesuatu eksistensi di kehidupan sehari-hari, bahkan tidak jarang dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali mempunyai kesepakatan untuk membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh semua anggota masyarakatnya, dan bahkan peraturan-peraturan tersebut sudah mendarah daging di dalam jiwa para anggotanya. Sehingga pada akhirnya peraturan-peraturan yang disepakati dan ditaati bersama itu membentuk sesuatu yang dinamakan dengan tradisi. Dalam kehidupan sosial, tradisi seringkali dilakukan secara turun temurun kepada siapapun itu, dan bahkan bisa saja tradisi tersebut di modifikasi untuk menyesuaikan dengan zaman. Misalnya pada saat ini, tradisi membaca dan menulis tidak hanya dilakukan di media cetak, tetapi tradisi tersebut juga bisa di lakukan pada media baru. Oleh karenanya, tradisi tidak pernah berhenti untuk selalu melakukan enkulturasi, dan tradisi juga akan terus menerus diperbaharui dengan keadaan yang sesuai dengan zamannya.

Begitupun saat bulan ramadhan tiba, tradisi masyarakat Indonesia yang beragama islam akan seringkali terlihat. Tak pelak pada setiap tahunnya, masyarakat Indonesia selalu mematuhi tradisi tersebut, dan hal itu sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja, karena tradisi tersebut sudah mendarah daging di dalam jiwa masyarakat yang beragama islam. Ketika ramadahan tiba, masjid menjadi ramai dengan lantunan ayat-ayat suci, bahkan ketika sore tiba, masyarakat akan bersiap-siap untuk melaksanakan buka puasa. Beberapa tindakan-tindakan tersebut memang salah satu ciri khas yang dipunyai oleh umat islam, dan tidak jarang juga, tradisi demi tradisi baru pun selalu diciptakan oleh masyarakat dalam menunaikan ibadah puasa. Dalam upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT, tentunya masyarakat akan terus belomba-lomba dalam kebaikan dengan berbagai cara, sehingga dari beberapa tindakan-tindakan yang terus diberlakukan akan selalu mempunyai motif, pada umumnya motif tersebut adalah untuk memperbanyak pahala.

Bulan ramadhan memang seringkali dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang sangat agamis, karena dengan melakukan kegiatan yang sangat agamis, masyarakat akan mendapatkan pahala yang banyak. Oleh karena itu, pada umumnya masyarakat tidak hanya memanfaatkan momentum bulan ramadhan hanya untuk menahan haus dan lapar, tetapi masyarakat juga harus terus melakukan aktivitas yang sangat bermanfaat.

Tetapi ketika di satu sisi masyarakat selalu mengejar pahala dan pahala, justru ironinya sampai saat ini, masyarakat selalu berlebihan dalam kegiatan yang sangat konsumtif. Dengan datangnya bulan ramadhan, masyarakat akan lebih banyak dalam membeli makanan untuk menu berbuka puasa, dan masyarakat juga akan bersemangat jika bulan ramadhan akan berakhir. Pasalnya, ketika bulan ramadhan akan berakhir, masyarakat akan berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan untuk membeli baju dan berbagai macam hal baru yang digunakan untuk menyambut idul fitri nanti. Tradisi tersebut selalu berjalan terus menerus sampai saat ini, padahal tidak ada firman tuhan yang mewajibkan bahwa umat islam harus menggunakan baju baru ketika datangnya idul fitri, tetapi hal itu seperti suatu fenomena yang sudah diangap sebagai hal yang sangat wajar.

Menjadi masyarakat yang konsumtif juga sepertinya bisa merepresentasikan bahwa disatu sisi ternyata umat islam pada umumnya juga sangat amat boros dalam kegiatan berbelanja. Terlebih lagi terpaan iklan pada saat ini yang memenuhi media massa dan internet sangat tidak terbendung, sehingga pada akhirnya sangat sulit untuk tidak terhasut oleh terpaan iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam setiap tahunnya, ketika bulan ramadhan datang, ada dua tradisi yang sangat sulit dihilangkan. Pertama, tradisi memperbanyak pahala, dan yang kedua, tradisi boros belanja untuk membeli baju baru dalam rangka menyambut idul fitri.

Maka dari itu sudah sepatutnya jika bulan ramadhan tiba, ibadah kita sebagai umat islam harus terus meningkat, dan lebih baik daripada yang kemarin. Jika mempunyai rezeki yang lebih, maka jangan selalu terus menerus mementingkan diri sendiri, cobalah tengok saudara-saudara kita yang menjadi yatim piatu, menjadi fakir miskin, dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Sangat lebih bijaksana jika kita selalu merealisasikan makna dari bulan ramadhan tersebut, yaitu harus selalu berbagi antar sesama umat islam. Bukan melanggengkan kebudayaan hedonisme yang tidak pernah usai.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini