Matahari terik menyengat, tapi tidak menyurutkan langkah kaki para peneliti Balai Arkeologi Papua (09/05). Didampingi warga Kampung Ayapo, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura mereka mendaki bukit, melewati padang alang-alang savana. Tujuannya menuju situs gua-gua prasejarah di sekitar Danau Sentani.

Tim arkeolog akhirnya berjumpa dengan gua pertama yang kecil, disusul gua besar lainnya. Total ada empat gua yang berhasil dicapai hari itu.

Ketua tim, Hari Suroto sibuk memperhatikan permukaan dinding gua. Lalu menuju permukaan tanah, dan menggalinya. Tampak pecahan kecil gerabah muncul, juga sejumlah serpihan tulang hewan.

“Menurut cerita, di gua ini ada dua orang manusia dari kampung lain yang karena lakukan pelanggaran adat mereka berubah jadi batu.” Ungkap Anis Hikinda (35), warga kampung Ayapo yang temani perjalanan. Saat Perang Pasifik pun, gua-gua ini digunakan penduduk pribumi untuk bersembunyi, imbuh Anis.

Keesokan harinya, penelitian dilanjutkan di Kampung Asei Besar dan situs prasejarah di Yomokho. Asei nama pulau di Danau Sentani yang dihuni oleh berbagai macam suku. Wilayah ulayat mereka tersebar hingga ke daratan Danau Sentani. Mulai dari Asei Kecil, Kampung Harapan, hingga wilayah Buper Kampung Waena.

“Saat buka lahan, kami temukan tujuh kapak batu. Kalau dicari banyak juga pecahan gerabah,” ungkap Kori Ohee tokoh masyarakat Asei. Sehari-hari pekerjaannya sebagai aparatur negeri sipil Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura. Jabatannya, Kepala Seksi Pelestarian Adat Istiadat dan Seni Budaya.

“Di sini kampung tua, tempat kawin orang Sentani, lalu terjadi perang, kami suku Ohee pindah ke pulau Asei. Yang lainnya seperti suku Doce pindah ke tempat lain di Danau Sentani,” ujar Kori.

Temuan arkeologi untuk mengungkap kehidupan prasejarah banyak dijumpai di gua-gua [foto ilustrasi] | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Temuan arkeologi untuk mengungkap kehidupan prasejarah banyak dijumpai di gua-gua [foto ilustrasi] | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Di sebelah barat Danau Sentani tidak jauh dari Asei, terdapat situs Yomokho. Jaraknya sekitar 200 meter dari Dermaga Kalkhote, lokasi tahunan tempat Festival Danau Sentani.

Dari hasil penggalian di Yomokho ditemukan fragmen gerabah, moluska, arang, alat batu penokok sagu, dan fragmen tulang manusia. “Hasil analisis uji lab di Yomokho sudah ada kehidupan sejak 2.950 tahun yang lampau,” ungkap Suroto.

Meski di kawasan Danau Sentani banyak ditemukan situs prasejarah, para ahli percaya masih banyak lagi tempat yang belum terungkap. Sebelumnya, penelitian arkeologi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1979) berhasil mendata kapak lonjong dan manik-manik di Dobonsolo, serta lakukan survei di situs megalitik Tutari dan survei geologi di sepanjang jalan Genyem-Sentani-Jayapura.

Pada tahun 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melanjutkan penelitian di situs Tutari untuk mengidentifikasi pola tata ruang dan fungsi situs megalitik itu.

***

Danau Sentani terletak di Kabupaten Jayapura, luasnya 9.360 hektar. Di danau ini terdapat 21 gugusan pulau yang tersebar di tiga wilayah, Sentani Tengah, Barat dan Timur. Sejak dulu wilayah ini dipandang wilayah hidup ideal manusia, karena alam mendukung kebutuhan kehidupan.

Dalam buku Ekologi Papua (2012) disebut, jika Danau Sentani merupakan bekas teluk yang terputus oleh pengungkitan tektonik. Di pesisir lain garis pantai awal yang terbuka, secara berangsur terputus dengan pertumbuhan karang yang membentuk terumbu karang dan memperlambat energi gelombang, sehingga menciptakan banyak laguna. Dari sebuah sampel inti 10 meter lumpur menunjukkan umur danau ini sekitar 70.000 tahun.

Temuan ekskavasi menjelaskan bahwa manusia prasejarah sangat bergantung pada Danau Sentani sebagai sumber fauna dan sumber air. Temuan alat batu penokok sagu menjelaskan hutan sagu di pinggir Danau Sentani dimanfaatkan sebagai sumber makanan.

Gerabah jenis periuk dan tempayan yang ditemukan diyakini berfungsi sebagai tempat merebus air dan pembuatan papeda. Cangkang moluska menjelaskan bahwa masyarakat ketika itu mengkonsumsi siput danau.

Penelitian Hari Suroto dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat (2013) di situs Yomokho menemukan batu-batu sungai di bagian bukit. Dia memperkirakan, batu ini berfungsi sebagai peluru dalam berburu. Batu-batu sungai itu juga bukti jelajah manusia di situs Yomokho telah menjangkau sungai-sungai hingga sampai ke pegunungan Cycloop.

Pulau Asei di Danau Sentani, salah satu lokasi situs prasejarah ditemukan | Foto: Chris Paino/Mongabay Indonesia
Pulau Asei di Danau Sentani, salah satu lokasi situs prasejarah ditemukan | Foto: Chris Paino/Mongabay Indonesia

Cerita rakyat menjadi salah satu panduan para arkeolog untuk menelusuri jejak hunian awal prasejarah. Dalam cerita rakyat Sentani, mereka percaya jika asal usul nenek moyang mereka berasal dari Papua New Guinea.

Hal itu tampak dari beragam temuan artefak gerabah di situs Marweri Urang, di Pulau Kwadeware (2010). Gerabah ini memiliki kesamaan dengan temuan di Gua Lachitu dan Gua Taora di Vanimo, Papua New Guinea.

“Secara geografis keberadaan laut yang dekat dengan Danau Sentani terletak di timur. Mungkin saja cangkang moluska laut adalah bagian dari bukti migrasi nenek moyang orang Sentani berasal dari timur. Namun penelitian perlu dilakukan lebih lanjut,” ungkap Hari Suroto.

Dalam buku Perserikatan Masyarakat dalam Otoritas Adat Kabupaten Jayapura (2011), terdapat cerita rakyat yang menjelaskan orang-orang Asei masuk dalam Konfederasi Heram, dan bermukim disuatu tempat yang disebut Honong

Selama bertahun-tahun, mereka lakukan perjalanan migrasi sambil berburu dan meramu hingga akhirnya tiba di pinggir Danau Sentani. Kelompok ini membangun permukiman di bukit bagian atas Hebeaibhulu, sebelum berpindah dan bermukim ke sebuah bukit yang disebut Yomokho.

***

Seperti halnya masyarakat asli Papua lainnya, masyarakat Sentani terdiri dari berbagai macam suku. Masing-masing memiliki totem sebagai pelambang identitas, nilai budaya, sosial, dan ekologis untuk menjaga wilayah dan sumberdaya alam mereka.

Dalam Jurnal Antropologi Papua (2003), Joshz R. Mansoben, Dosen Antropologi Universitas Cendrawasih menjelaskan di kelompok etnik Sentani yang bermukim di sekitar Danau Sentani terdapat bagian-bagian yang berfungsi dalam pengawasan dan pemanfaatan sumberdaya alam.

Bagian dalam struktur organisasi pemerintahan adat di wilayah kekuasaan kampung disebut dengan phume-ameyo. Suatu organisasi sosial yang bertanggungjawab mengawasi dan mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada

Misalnya untuk mengatur pengambilan sagu, ada pejabat yang berwewenang mengatur pemanfaatannya yang disebut fi-yo; untuk menangkap ikan di perairan ada pejabat yang disebut buyo-kayo. Untuk mengatur dan mengawasi pemanfaatan hasil hutan ada aniyo-erayo; sedangkan petugas yang khusus mengawasi dan mengatur pemanfaatan binatang buruan disebut yayo.

Tujuan menempatkan berbagai pejabat dalam struktur pemerintahan adat seperti itu adalah untuk menjaga dan mengatur pemanfaatan sumberdaya alam di tiap wilayah kekuasaan kampung pada kelompok-kelompok etnik Sentani.

Dengan demikian hubungan antara manusia dengan lingkungan tetap terjaga. Sehingga sumberdaya alam yang terdapat di dalam lingkungan pun selalu terpelihara dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi.

“Tapi hal itu mulai terganggu sejak sistem pemerintahan modern berlaku di daerah ini pada awal abad ke-20,” tulis Mansoben dalam jurnal tersebut.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu