Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Dalam Ilmu Ekonomi Perencanaan Spasial atau Tata Ruang dikenal teori Kutub Pertumbuhan atau Growth Pole.Teori ini dikembangkan ekonom Perancis bernama Francois Perroux tahun 1955 yang menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonom ditiap daerah tidak terjadi di sembarang tempat melainkan di lokasi tertentu yang disebut Kutub Pertumbuhan atau Growth Pole, dan agar di capai pendapatan tinggi diperlukan pembangunan beberapa Kutub Pertumbuhan . Konsep Kutub Pertumbuhan ini dapat di difinisikan secara geografis yaitu suatu lokasi yang memiliki fasilitas dan kemudahan usaha didaerah tersebut dan masyarakat senang memanfaatkannya.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, agar diapai tingkat keseimbangan ekonomi dan wiliayah, maka pemerintah pusat atau Federal membangun berbagai infrastruktur di negara-negara bagian yang minus, misalkan gedung-gedung perkantoran, pendidikan dsb. Ini merupakan Pusat Pertumbuhan dari negara bagian tersebut yang akan berpengaruh terhadap aktifitas daerah sekitarnya.

Lalu apa hubungannya dengan mudik?.

Tradisi mudik yang turun temurun di negeri kita ini memiliki berbagai makna nilai positif antara lain nilai agama, moral, sosial dan budaya. Namun mudik juga sebenarnya memiliki makna pemberdayaan ekonomi yang tinggi. Puluhan juta orang mudik setiap tahunnya; dan uang yang beredar juga sangatlah banyak. Hal ini merupakan potensi ekonomi yang besar yang kalau dimasa lalu dimana pembangunan belum seperti sekarang ini, potensi ekonomi tersebut hilang begitu saja.

Tahun 2018 ini tercatat sedikitnya perputaran selama musim mudik diprediksi mencapai hampir Rp 200 trilliun. Bank Indonesia (BI) memprediksi uang yang beredar di musim mudik tersebut hampir 38,4 persen transaksi yang bakal terjadi di Pulau Jawa Non-wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dimana wilayah-wilayah ini sendiri bakal menyerap 22,8 persen dari total Rp 188,2 trilliun. Artinya total peputaran uang tunai di Pulau Jawa selama Ramadan dan Idul Fitri mencapai 61,2 persen, atau Rp115,5 triliun. Untuk sisa uang tunai Rp32,7 triliun akan terdistribusi di luar Pulau Jawa, meliputi wilayah Sumatera 19,9 persen dan kawasan lainnya 18,9 persen.

Perkembangan ekonomi di negeri kita yang lumayan bagus ini ditandai dengan dibangunnya jalan-jalan toll dan jalan-jalan lainnya baik ditingkat propinsi, kota kabupaten dan desa. Jalan-jalan itu sambung menyambung (meskipun belum semuanya) satu sama lain dan di gunakan/dilewati para pemudik yang jumlahnya puluhan juta itu. Pembangunan jalan-jalan toll yang saya katakan lumayan itu karena kalau dibandingkan dengan negara-negara lain masih jauh ketinggalan. Sebagai contoh saja negera Cina itu rata membangun jalan toll nya sekitar 2.000 km per tahunnya.

Jalan tol baru | Alvia Andika
Jalan tol baru | Alvia Andika

 

Namun tidak dapat disangkal, pembangunan jalan-jalan besar dan kecil itu menciptakan Pusat-Pusat Pertumbuhan atau Growth Pole dimana-mana. Di sekitar atau di dekat jalan-jalan baru itu bermunculan kota-kota baru, pusat-pusat industri kecil menengah yang sangat ramai, dari industri sandang, perumahan, tempat-tempat hiburan anak-anak dan industri kuliner serta bengkel-bengkel mobil  dan motor termasuk jasa layanan cuci mobil dan motor. Terjadi aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi di daerah-daerah dimana infrastruktur itu dibangun. Hal ini mengakibatkan perekonomian daerah menggeliat dan meningkatkan pendapatan masyarakatnya.

Maka dapat dikatakan bahwa tradisi mudik kali ini – dengan pembangunan infrastruktur berhasil menciptakan pusat-pusat pertumbuhan dan mampu menggerakkan ekonomi lokal atau daerah.

Hanya saja perlu di iingat bahwa pembangunan infrastruktur itu tidak boleh dibangun asal-asalan saja, haruslah tetap memperhatikan kawasan atau lahan-lahan pertanian yang produktif, selain itu pembangunan infrastruktur itu tidak boleh hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa saja, namun harus merata di semua wilayah di Indonesia ini. Perlu diingat juga infrastruktur itu tidak hanya pembangunan jalan. Apabila pembangunan infrastruktur tidak merata maka berakibat kontra produktif terhadap makna Pusat Pertumbuhan sebuah wilayah.

 

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah, Alumni Unair dan

Univerity of London

Staff Khusus Rektor Unair

Bidang Internasional

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu