5 Hal Menarik Gunung Timau, Lokasi Observatorium Antariksa Terbesar di Asia Tenggara

5 Hal Menarik Gunung Timau, Lokasi Observatorium Antariksa Terbesar di Asia Tenggara
info gambar utama
Indonesia telah menetapkan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur sebagai lokasi ideal untuk pembangunan observatorium antariksa terbesar di Asia Tenggara. Lokasi tepatnya berada di kawasan hutan lindung Gunung Timau, kecamatan Amfoang Tengah. Observatorium ini dinilai memiliki lokasi unggul yang tidak dimiliki oleh observatorium tingkat dunia lainnya. Itu sebabnya Observatorium yang akan dikelola oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini akan menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia pada tahun 2020 mendatang saat pembangunannya selesai.

Lalu apa saja keunggulan yang menarik dari Observatorium Timau dan Gunung Timau? Berikut tujuh hal menarik dari Gunung Timau.

1. Berada di dekat khatulistiwa

Nusa Tenggara Timur (NTT) meski tidak berada tepat di garis lintang khatulistiwa, NTT tetap relatif dekat dengan garis edar matahari tersebut. Hal ini membuat Observatorium yang dibangun di Gunung Timau dengan kordinat 09°34′47.5″S (LS) – 123°56′20.1″E (BT) itu berjarak "lebih dekat" dengan langit karena bentuk bumi membesar di bagian khatulistiwa.

2. Iklim yang mendukung

Gunung Timau memiliki ketinggian 1.300 mdpl sehingga lokasi ini berada di dataran menengah. Sehingga iklim maupun cuacanya cocok untuk pengamatan astronomi. Terlebih wilayah Kupang juga dinilai sebagai wilayah yang memiliki kemarau panjang di Indonesia sehingga langit pengamatan akan sering bebas dari awan.

(Foto: Farah Mumtahana / nebulamum.wordpress.com)
info gambar

3. Kawasan merupakan Cagar Alam dan Hutan Lindung

Berbeda dengan observatorium sebelumnya yang dimiliki Indonesia peninggalan Belanda, Observatorium Boscha di Bandung, Gunung Timau merupakan wilayah cagar alam yang kelestarian lingkungannya amat dijaga. Tidak sembarang bangunan boleh didirikan di wilayah ini sehingga potensi untuk mengalami polusi cahaya seperti yang terjadi di Lembang, Bandung bisa diminimalisir. Karena merupakan cagar alam dan hutan lindung, Gunung Timau menjadi wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Berbagai tumbuhan endemik seperti Eucalyptus erophylla dan Eucalyptus alba tumbuh di hutan Gunung Timau.

4. Berada di Pertengahan Belahan Langit

Gunung Timau berada di pertengahan belahan langit bumi karena dekat dengan khatulistiwa. Hal ini membuat Observatorium Timau nantinya akan mampu unutk mengamati Tata Surya di belahan langit utara (northern hemisphere) maupun belahan langit selatan (southern hemisphere). Keistimewaan ini bahkan tidak dimiliki oleh observatorium dunia lainnya sebab kebanyakan observatorium berada di salah satu belahan saja. Seperti observatorium yang dimiliki Australia, hanya dapat melihat Tata Surya dari bagian langit selatan, sedang Observatorium Jepang dan Amerika hanya dapat melihat Tata Surya dari bagian langit utara saja.

5. Keindahan Alam

Selain karena memang berada di wilayah Cagar Alam Gunung Timau letaknya cukup terpencil, bahkan belum terdapat akses jalan yang memadai untuk mencapai lokasi rencana pembangunan Observatorium Nasional Timau. Sehingga wilayah ini memiliki keindahan yang menakjubkan. Berbagai macam hewan dan tumbuhan liar hidup secara alam di lokasi ini. Itu sebabnya tidak heran jika kemudian Observatorium Timau diharapkan juga turut mampu menarik pariwisata di wilayah Kupang.

(Foto: Farah Mumtahana / nebulamum.wordpress.com)
info gambar

Berkat keunggulan-keunggulan tersebut, maka wajar bukan jika kawan akan berbangga dengan terwujudnya Observatorium Nasional baru tersebut. Tertarik untuk berkunjung ke sana suatu hari?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini