Teknologi Produksi Tepung Spirinula Inovasi KKP Mandirikan Pembudidaya Ikan dan Udang

Teknologi Produksi Tepung Spirinula Inovasi KKP Mandirikan Pembudidaya Ikan dan Udang
info gambar utama

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembangkan pakan benih ikan atau udang. Selama ini mikroalga yang menjadi kebutuhan budidaya masih mengimpor dari India dan China.

Menyiasati hal ini, KKP mengembangkan tepung ikan berbahan bakan baku spirinula. Agar tepung dapat diproduksi secara masal, KKP mengembangkan teknologi pembuatan tepung spirinula berskala rumah tangga.

Teknologi yang dikembangkan untuk mempermudah pembudidaya ikan memproduksi secara mandiri. Melalui inovasi yang dilakukan, agar Indonesia tidak tergantung pada impor tepung spirinula.

Temuan teknologi sederhana ini atas rekayasa Lisa Ruliaty, Perekayasa Madya Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Lisa mendapat penghargaan Satyalancana Wira Karya atas temuannya.

Spirinula sendiri merupakan jenis mikroalga yang menjadi sumber makanan baik untuk hewan maupun manusia. Spirinula terdiri dari berbagai nutrisi. Kandungan di dalamnya antara lain protein 55 – 70 %, Karbohidrat, 17 – 25 %, asam linoleat dan linolelat, asam nikotinat, vitamin (B2, B1, B12), mineral, asam amino dan bahan aktif lainnya seperti karotenoid, pigmen klorofil, dan fikosianin.

Spirinula memiliki kandungan yang lebih baik dari tumbuhan lain. Seperti kandungan protein yang dihasilkan 20 kali lebih baik dari kedelai atau jagung dengan jumlah yang sama, dan lebih baik 200 kali dari pada kandungan protein daging sapi.

“Pembudidaya ikan dapat membuat pasta dan tepung Spirulina sebagai feed aditif bagi ikan, karena tidak membutuhkan modal yang besar dan dapat dilakukan skala rumah tangga serta sebagai usaha alternatif bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan”, terang Lisa dalam rilis resmi KKP.

Selain untuk memenuhi kebutuhan tepung spirinula sebagai pakan ternak, inovasi yang dilakukan juga membuka lapangan pekerjaan baru sebagai produsen tepung spirinula.

“Usaha produksi tepung Spirulina memberikan Benefit of Cost Ratio sebesar 1,9 dengan waktu pengemballian modal investasi 6,4 bulan, sehingga dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif usaha bagi masyarakat”, tegasnya.

Menurut Slamet Soebjakto Dirjen Perikanan Budidaya mengatakan bahwa inovasi ini bagian dari gerakan pakan mandiri (GERPARI). Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi.

“KKP terus mendorong pengembangan inovasi ini karena usaha ini dapat dilakukan skala rumah tangga dengan modal yang kecil, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan”, tambah Slamet.

Sumber : kkp.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini