Tertibnya Pawai Tahun Baru Islam di Kota Paling Toleran Salatiga

Tertibnya Pawai Tahun Baru Islam di Kota Paling Toleran Salatiga

Peserta Pawai Taaruf 1 Muharram 1440 H © Rahmat Budi

Ragam demokrasi yang ada di Indonesia membawa dampak bagi semaraknya kebhinnekaan. Keberbedaan itu lantas tak menjadi halangan bagi terwujudnya perdamaian dan persatuan karena prinsip toleransi sudah mengakar kuat menjadi darah daging bagi setiap masyarakat. Hal itulah yang menjadi latar belakang adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua sehingga setiap masyarakat di berbagai kota dapat menerima keberbedaan itu. Seperti di Kota Salatiga, salah satu dari lima kota bersama dengan Manado, Pematangsiantar, Tual dan Singkawang yang mendapat predikat tertinggi sebagai kota paling toleran di Indonesia, keberbedaannya menjadi ragam penyemangat kehidupan kota.

Adanya perbedaan agama, suku bangsa dan budaya di Kota Salatiga menjadikan masyarakatnya silih berganti menyaksikan berbagai atraksi pertunjukan yang mencerminkan toleransi. Seperti perayaan tahun baru islam 1 muharram 1440 H yang diperingati seluruh masyarakat muslim di Kota Salatiga pada 11 September 2018 kemarin, parade berkonsep pawai ta’aruf tertib terselenggara menjadi bukti adanya sikap penerimaan antara pemeluk agama.

[fb] Lihat Profil Penulis

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pawai yang diikuti ribuan peserta dari berbagai lapisan masyarakat seperti santri, siswa sekolah, wali siswa, guru dan komunitas kesenian menjadikan perayaan tahun baru islam berjalan meriah. Para santri dan siswa berparade dengan menunjukkan identitas sekolahnya masing-masing diikuti wali siswa dan guru yang tidak kalah antusias ikut mengular dalam rombongan. Tidak tertinggal kelompok seni di Kota Salatiga menunjukkan kreatifitasnya dengan menampilkan seni musik drum-blek dan kostum-kostum bertema karnaval yang epik.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

[IG] Ikuti Profil Penulis

Para peserta pawai taaruf berjalan beriringan dengan teratur dimulai dari alun-alun Lapangan Pancasila, Jl Adisucipto, Jl Moh Yamin, Jl Diponegoro, Jl Jenderal Sudirman dan Jl Letjen Sukowati serta menampilkan pertunjukan terbaik mereka di panggung kehormatan di halaman rumah dinas walikota. Menjadi budaya, perayaan keagamaan di sela perbedaan yang ada menjadikan budaya toleransi semakin terpelihara.

Jika Anda Memiliki Ide Berita Positif Mengenai Kota Salatiga, Sampaikan Ide Anda Kepada Penulis di Sini
Sumber: Info Foto1 Foto2 Foto3

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Seribu Bubur Untuk Satu Suro di Kotagede Sebelummnya

Seribu Bubur Untuk Satu Suro di Kotagede

Satu-Satunya dari ASEAN, Grab Masuk Top 10 Startup Dunia Selanjutnya

Satu-Satunya dari ASEAN, Grab Masuk Top 10 Startup Dunia

0 Komentar

Beri Komentar