Mulianya Penambang Belerang di Kawah Ijen

Mulianya Penambang Belerang di Kawah Ijen
info gambar utama
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Fenomena Blue Fire atau api biru yang ada di Kawah Ijen ternyata merupakan salah satu dari dua fenomena api biru yang ada di dunia. Selain api biru di Kawah Ijen, fenomena api biru lainnya berada di negara Islandia, Benua Eropa. Karena kelangkaannya tersebut banyak wisatawan yang mendaki gunung Ijen untuk menyaksikan langsung fenomena alam tersebut. Tidak terkecuali saya.

Kawah Ijen | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan dengan kedalaman danau 200 meter. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Saya akhirnya berkesempatan untuk bisa mendaki gunung Ijen bersama dua teman lainnya ditemani oleh seorang pemandu yang sudah sering sekali dan bisa dibilang khatam mengenai gunung dengan kawah tersebut.

Kami memulai pendakian sekitar pukul 01.00 dini hari tepat saat gerbang utama memasuki kawasan gunung Ijen dari paltuding terakhir kendaraan diperbolehkan melintas dibuka. Perlu diketahui medan pendakian gunung Ijen memang tidak sesusah pendakian gunung lainnya, misal gunung Agung, Bali yang harus mencari jalan untuk dapat sampai puncak. Karena memang difungsikan sebagai gunung wisata, maka treknya cukup luas dan tidak membingungkan.

Terdapat 5 pos pemberhentian untuk beristirahat dari lelahnya mendaki gunung. Jalurnya setelah 700 meter pertama cukup menanjak yang membutuhkan lebih banyak tenaga.

Di awal gerbang utama saya melihat banyak bapak-bapak yang berdiri di samping benda berbentuk trolley. Penasaran, akhirnya saya menanyakan pada mas Alvin, sang pemandu yang menemani perjalanan pendakian gunung pada malam itu.

"Mas, trolley itu untuk apa?" tanya saya.

Seorang pengguna jasa angkut trolley menuju puncak gunung Ijen | Sumber: Merdeka.com
info gambar

Diketahui dari Mas Alvin, trolley tersebut fungsi normalnya adalah untuk mengangkut hasil tambang belerang, yang menjelaskan bahwa para bapak-bapak tersebut adalah para penambang belerang. Namun, selain difungsikan untuk mengangkut hasil tambang belerang, mereka juga memfungsikan trolley tersebut sebagai alat transportasi bagi para pendaki yang juga menginginkan menyaksikan fenomena alam api biru tersebut namun mungkin memiliki keterbatasan yang menghambat para pendaki tersebut untuk bisa sampai puncak.

Setelah mengetahui fakta tersebut, saya merasa sangat kagum pada para penambang tersebut. Dengan adanya jasa dari para penambang tersebut, maka lebih banyak orang lagi yang dapat menyaksikan fenomena langka tersebut secara langsung.

Memang terlihat sangat susah bagi para bapak penambang tersebut untuk mengangkut penumpang secara manual tanpa mesin hingga ke puncak gunung Ijen, bagi saya mengangkut beban badan saya sendiri saja saya ngos-ngosan apalagi harus menarik orang lain.

Perjuangan para penambang belerang mengangkut belerang naik turun kawah Ijen dengan tenaga manusia | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Di satu sisi saya menemukan alasan mulia tersebut juga didasari atas himpitan ekonomi, menambang belerang hanya dihargai dengan upah kecil. 1.500 rupiah per kilogram belerangnya. Oleh karena itu sebagian penambang memutuskan untuk menawarkan jasa tersebut.

Simbiosis mutualisme berlaku disini. Bagi wisatawan yang ingin sampai puncak namun terlalu kelelahan, ada para bapak-bapak penambang dengan trolley nya siap mengantarkan anda. Dengan melayani anda, meskipun lelah bapak-bapak penambang juga mendapatkan uang tambahan untuk kehidupan sehari-hari.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini