Selamatan Laut, antara Merawat Tradisi dan Rayuan Pariwisata

Selamatan Laut, antara Merawat Tradisi dan Rayuan Pariwisata
info gambar utama
Keterangan foto utama: Kepala kambing siap dilarungkan di laut Pringgabaya. Ia digelar setiap Rabu minggu terakhir Safar kalender Hijriah. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Tradisi selamatan laut di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih bertahan hingga kini. Ritual ungkap syukur atas berkah laut itu juga memiliki makna konservasi. Di tengah sektor pariwisata yang menggeliat, perayaan tradisi itu jadi medan pertarungan antara kepentingan tradisi dan kepentingan pariwisata.

Perempuan itu menangis tanpa sebab. Mondar-mandir di atas rumah panggung, ibu jari kanannya menunjuk ke arah laut. Sesekali dia menari, jalan ke sudut rumah. Menangis lagi. Menari. Itu dilakukan berulang-ulang. Dia turun dari rumah panggung, jalan ke pinggir laut. Menangis sambil menunjuk ke laut.

Seorang perempuan paruh baya, mengenakan pakaian serba hitam mengawasi dari dekat. Sorot mata tajam, mengawasi arah yang ditunjuk perempuan lebih muda itu.

Seorang pria dewasa tiba-tiba mengerang seperti kesakitan. Mata nanar. Beradu mata dengan warga lain, tetapi seolah dia menatap tempat yang jauh. Dia terus mengerang sampai mengeluarkan air liur. Tak jauh dari tempat itu, pria lain dengan rambut sudah memutih memainkan gerak silat tangan kosong.

Anak-anak berlari, melihat dari jarak dekat. Sebagian lain masih menyaksikan perempuan yang menangis sambil menari di tengah halaman.

Perempuan menari dan menangis, pria mengerang seperti orang kesakitan, atau pak tua bermain silat itu jadi tontontan pada ritual selamatan laut di Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur.

Selamatan laut, bagi masyarakat pesisir itu dikenal dengan nyalamaq dilauq. Atraksi pak tua, perempuan dan lelaki yang dalam kondisi setengah sadar itu mengikuti irama tetabuhan musik di atas rumah panggung. Bunyi serune(suling), gong, gendang, tanpa pengeras suara terdengar nyaring. Makin kencang bunyi tetabuhan, pria tua yang bermain silat makin mempercepat gerakan. Di atas rumah panggung, makin banyak perempuan menangis.

Pagi itu, 4 Juli 2018, adalah puncak ritual yang digelar secara turun temurun oleh masyarakat pesisir Tanjung Luar itu. Ritual ini dari Suku Bajo.

Para tetua adat Suku Sasak menggelar ritual sebelum pelarungan kepala kambing dalam ritual selamatan laut “tetulak tamperan” di Pringgabaya. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Dalam buku berjudul Kepulauan Kangean: Penelitian Terapan untuk Pembangunan yang disusun oleh Charles Illouz dan Philippe Grange, kedatangan orang Bajo di Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan tahun 1666. Pada salah satu cerita lontarak assalena Bajo (naskah asal muasal Bajo), disebutkan jika saat itu Belanda (VOC) menyerang Gowa yang ibukota di Makassar dan sekutunya Bugis ditaklukkan 1666-1667.

Saat itulah, utusan kerajaan meminta masyarakat Bajo di bawah kekuasaan Gowa mencari perlindungan. Salah satu pulau tujuan adalah Kepulauan Kangean di Jawa Timur.

Dalam riset yang ditulis Philippe Grange tentang Catatan Sejarah Kepulauan Kangean, dia menemukan juga relasi antara etnik Bajo di Kangean dengan Pulau Bungin (Kecamatan Alas, Sumbawa, NTB).

Dia berkesimpulan, jika Sumbawa salah satu pulau tempat migrasi orang Bajo saat penaklukan itu. Kedatangan orang Bajo di Tanjung Luar, masih belum ada penelitian spesifik. Apakah bersamaan dengan orang Bajo di Pulau Bungin Sumbawa, atau migrasi dalam waktu berbeda.

Nenek moyang orang Bajo ke Lombok, membawa tradisi mereka. Tradisi ini juga jadi bagian kehidupan nelayan Suku Mandar (Sulawesi Barat), Bugis dan Makassar (Sulawesi Selatan). Empat suku yang identik dengan laut ini menempati daerah-daerah pesisir Lombok Timur.

Para tetua yang Mongabay tanyakan tentang kapan ritual ini mulai, semua menjawab ketika mereka masih kecil ritual sudah ada.

Sebelum puncak ritual, terlebih dahulu para tetua adat dipimpin seorang sanro(dukun) memimpin rapat penentuan tanggal pelaksanaan acara. Walaupun kegiatan ini tahunan, bukan berarti tanggal dan bulan sama setiap tahun. Ilmu leluhur para masyarat pesisir ini dikeluarkan: ilmu membaca langit.

Beberapa malam sebelum tanggal ritual dimulai, para sanro yang tahun ini dipimpin sanro Abdul Hamid mengamati langit. Tanda akan mulai ritual harus bersamaan dengan kemunculan pupuru atau bintang sembilan. Setelah pupuruterlihat, barulah rangkaian ritual mulai. Masyarakat dikabari, kepanitiaan dibentuk, dan seluruh perlengkapan harus disiapkan.

“Kami hanya menyiapkan kebutuhan, kalau ritual sendiri tak sembarangan. Itu tanggung jawab sanro,’’ kata Sahadan, tokoh pemuda yang dipercaya jadi ketua panitia selamatan laut.

Para tetua adat yang memimpin ritual selamatan laut “nyalamaq dilauq” di Tanjung Luar, bersiap naik perahu yang membawa mereka ke titik pelarungan. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Panitia juga bertugas mencari semua perlengkapan ritual atas permintaan sanro. Perlengkapan yang dikumpulkan harus dipastikan tak boleh ada yang kurang, atau salah cara memasang, maupun keliru menempatkan.

Keyakinan yang diteruskan turun temurun, jika ada kesalahan, ritual tak akan berjalan mulus, atau bisa kena bencana. Bendera yang disebut ula-ula kuning memanjang dipasang di atas panggung. Menjulang tinggi. Tidak boleh sedikit pun terlipat. Jika terlipat, konon bisa mendatangkan sesuatu yang tak baik.

Saya mendengar dari beberapa warga Tanjung Luar, konon ada yang kurang hingga, “roh” yang memasuki warga yang kesurupan meminta ulang ritual itu.

Seluruh perlengkapan rangkaian ritual dalam selamatan laut itu sebenarnya simbol keseharian warga pesisir selatan Lombok Timur. Di bagian depan, ketika ritual mengarak kerbau pada hari pertama, keliling kampung dan pesisir, seorang sanro perempuan membawa lampu dari olahan nyamplung, kapas, dan minyak tanah– bagi masyarakat Tanjung Luar disebut jajakah.

Lampu itu adalah simbol pelita bagi nelayan. Itu melambangkan kehidupan dan kearifan nenek moyang para pelaut ini. Jajakah inilah yang di masyarakat Sasak disebut mal-mal, dinyalakan pada malam ganjil Ramadan, di 10 hari terakhir.

Ada juga bendera (ula-ula), dengan lima warna. Warna putih melambangkan Suku Bajo, warna kuning suku Mandar, merah Makassar, warna hitam melambangkan Bugis. Para gadis remaja membawa alat-alat tenun di atas kepala mereka. Dengan pakaian adat khas Mandar, Bugis, Bajo, dan Makassar, mereka mengikuti iringan sanro yang mengitari pesisir sehari sebelum puncak ritual.

Pada puncak ritual, seluruh nelayan yang memiliki perahu mengawal pelarungan (menghanyutkan) kepala kerbau di tengah laut. Kepala kerbau itu tak sembarangan dilepas. Sanro merapal mantra, meminta petunjuk di mana titik melepas kepala kerbau. Perahu-perahu nelayan lain mengawal dari depan, samping, dan belakang.

Setiap perahu diisi keluarga, dan warga lain. Mereka ramai-ramai mengawal hingga proses pelarungan selesai.

Makna ekologis

Selain nyalamaq dilauq, di Pesisir Desa Pringgabaya, Lombok Timur, masyarakat juga menggelar ritual serupa, tetapi beda nama. Ritual itu dikenal dengan nama Tetulak Tamperan. Biasa pada Rabu terakhir Safar pada kalender Hijriyah.

Ritual itu juga dikenal dengan sebutan rebo bontong (Rabu terakhir). Ritual serupa juga digelar di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno dengan sebutan mandi Safar. Warga asli tiga gili ini memang keturunan Bugis dan Mandar.

Nyalamaq dilauq di Tanjung Luar maupun tetulak tamperan di Pringgabaya, memiliki makna ekologis bagi masyarakat pesisir. Setelah perayaan selamatan laut, para nelayan dilarang melaut selama tiga hari, kecuali nelayan yang sebelumnya sudah berada di tengah laut dan kembali ke daratan.

Tempat pelelangan ikan (TPI) Tanjung Luar, terlihat sepi. Salah satu TPI terbesar di Pulau Lombok itu berubah jadi pasar mati. Hanya perahu-perahu yang membawa para wisatawan ke Pantai Pink yang masih beroperasi.

Larangan ini cukup efektif, walaupun masih ada satu dua yang melanggar. Sahadan menuturkan, kala masih kecil, setelah puncak perayaan selamatan laut, seluruh nelayan benar-benar tak melaut. Janganlah berlayar jauh, beraktivitas di pesisir pun jarang. Pasar tutup. Perahu-perahu tambat. Suasana tempat pelelangan ikan sekaligus pasar ikan terbesar itu tanpa aktivitas.

Walaupun tak ada petugas keamanan mengawasi, para nelayan, termasuk pedagang ikan mematuhi aturan itu.

Ritual selamatan laut ini juga bermakna sebagai upaya pelestarian ekologi pesisir. Para nelayan Tanjung Luar dilarang melaut selama tiga hari setelah puncak ritual, melarungkan (menghanyutkan) kepala kerbau. Larangan itu sebagai simbol agar nelayan memberikan kesempatan ikan-ikan bertelur dan tumbuh besar.

Rumah panggung tempat para tetua adat dan sanro memulai ritual selamatan laut “nyalamaq dilauq” Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Para nelayan diingatkan agar tak serakah mengeksploitasi hasil laut. Larangan melaut tiga hari mungkin terasa sangat pendek. Jika dikaitkan dengan waktu bagi ikan bereproduksi, tentu tak akan cukup. Namun, katanya, makna utamanya agar nelayan tak serakah. Selama tiga hari libur melaut, ribuan ton ikan yang seharusnya ditangkap masih bisa menikmati lautan, sebelum akhirnya kembali ditangkap.

Tempat pelarungan kepala kerbau itu juga terlarang untuk didekati nelayan lain. Saat ritual berlangsun, para tetua yang naik perahu pembawa kepala kerbau memarahi nelayan yang mendekat. Mereka juga mengingatkan, agar nelayan jangan coba-coba ke tempat itu. Larangan itu berlaku bagi semua nelayan, termasuk para tetua adat sendiri yang sehari-hari menjadi nelayan.

“Tutup semua,’’ kata Sahadan.

Bagi masyarakat Pringgabaya, ritual tetulak tamperan itu juga bermakna ungkapan rasa syukur atas berkah dari laut yang berlimpah. Para nelayan bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan putra putri mereka berkat laut.

Untuk itulah, sebagai rasa syukur atas karunia itu mereka menggelar selamatan laut itu. Selamatan laut itu juga bermakna tolak bala, menolak bencana. Baik bencana di darat maupun bencana laut.

Ada satu kasus menarik di Tanjung Luar. Walaupun dalam tradisi mereka meyakini harus memberikan kesempatan pada ikan berproduksi dan tak serakah menangkap hasil laut, tetapi tak ada disebutkan tak boleh menangkap jenis ikan tertentu. Bahkan menangkap jenis ikan seperti hiu justru sebuah kebanggaan.

Di kalangan peneliti perikanan, Tanjung Luar adalah salah satu pendaratan hiu.“Salah satu yang terbesar di Indonesia, bahkan sampai terkenal hingga dunia,’’ kata Nurliah, dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram yang pernah riset hiu di Tanjung Luar.

Saat puncak penangkapan hiu, Nurliah mencatat ada 43 spesies hiu ditangkap para nelayan. Hiu tangkapan masuk Apendix II Convention on International Trade of Endangered species (CITES). Kelompok ini jika dieksploitasi berlebihan bisa terancam punah.

Masalahnya, dalam aturan hiu dilarang diekspor, bukan dilarang penangkapan atau penjualan di dalam negeri.

Penangkapan hiu ini juga jadi “tradisi” bagi beberapa nelayan Tanjung Luar. Nelayan Tanjung Luar yang menangkap hiu memiliki “kasta” tinggi di dalam struktur nelayan. Mereka dianggap nelayan berani. Hanya nelayan pilihan yang bisa melakoni sebagai penangkap hiu.

Hiu sebagai predator paling tinggi di lautan jadi prestise bagi nelayan yang menangkapnya. Nelayan-nelayan daerah lain, menangkap hiu itu sebagai kebetulan. Mereka menangkap ikan, jika ada hiu terjaring mereka membawa pulang. Berbeda dengan sebagian nelayan Tanjung Luar, mereka melaut hanya untuk menangkap hiu.

“Ini persoalan keyakinan juga di para nelayan,’’ katanya.

Wisatawan menyelam menyaksikan keindahan terumbu karang di Tanjung Luar-Pantai Pink. Karena begitu banyak wisatawan, banyak terumbu karang rusak. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Pariwisata, menjaga atau merusak?

Kala kepala kerbau larung, beberapa orang dari atas perahu besar berteriak sambil mengangkat baju dan memutar-mutar di udara. Itu sebagai tanda kepala kerbau sudah larung.

Selang beberapa detik, semua warga di perahu saling lempar bom air. Air laut dimasukkan dalam kantong plastik es. Di perahu lebih besar, mereka membawa mesin penyedot air dan menyemprotkan layaknya pemadam kebakaran.

Perahu-perahu ketinting, saling mendekat, dan para penumpang saling siram dengan ember kecil. Teriakan kebahagiaan menyertai perang air yang menjadi bagian dari ritual selamatan laut di Tanjung Luar.

Di bagian timur pasar Tanjung Luar, di sebuah dermaga apung, belasan wisatawan antri naik ke perahu. Mereka penasaran dengan perang air di tengah laut. Sebagian pemandu wisata sudah mengabarkan turis mereka bahwa hari itu ada bonus paket wisata, menyaksikan puncak ritual selamatan laut.

Booming pariwisata di Lombok pada 2012, berimbas pada daerah-daerah yang sebelumnya tak terjamah. Pada 2012, pemerintah menargetkan angka kunjungan wisatawan 1 juta orang. Target itu tercapai. Daerah-daerah yang sebelumnya hanya dikenal para kelompok backpacker yang menjelajah tempat-tempat baru, kini jadi tempat wisata umum.

Tanjung Luar, mendapat berkah itu. Tahun 2014, ketika Pantai Pink di Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, naik daun, beberapa backpacker mencoba menjelajah lewat laut. Akses jalan menuju Pantai Pink, rusak parah membuat pelancong mencoba alternatif laut. Tertanya lebih dekat, dan banyak bonus lainn: gili dan keindahan bawah laut yang memesona.

Gugusan terumbu karang masih terjaga jadi paket lain yang ditawarkan para pemilik perahu. Kalau awalnya mereka hanya mengantar tamu ke Pantai Pink, lalu kembali setelah puas, mereka belajar bahwa membuat tamu makin lama berarti makin banyak uang.

Para nelayan itu membawa para tamu mereka ke Gili Pasir, Gili Bembeq, Gili Petelu. Jika beruntung di perairan Gili Petelu ini bisa bertemu dengan anakan hiu atau baby shark. Para nelayan juga membawa tamu mereka di titik-titik yang bagus terumbu karangnya. Di spot lain, karang meja masih utuh. Terumbu karang warna warni membuat takjub para pelancong. Daerah itu kemudian jadi viral. Mendatangkan lebih banyak wisatawan. Para nelayan berubah profesi, sebelumnya menangkap ikan, kini membawa wisatawan.

Mereka memesan perahu khusus untuk membawa wisatawan. Setiap tahun, makin banyak wisatawan.

Kehadiran wisatawan membawa manfaat ekonomi. Penghasilan nelayan bertambah, muncul usaha baru. Kehadiran wisatawan ini juga membawa masalah baru seperti sampah dan kelestarian terumbu karang.

Awal 2015, saya menelusuri titik-titik snorkeling mulai Tanjung Luar hingga Pantai Pink. Awal tahun itu, snorkeling belum masif. Selang setahun, nyaris semua tempat yang dulu terumbu karang masih terjaga sudah rusak. Terumbu karang patah karena terinjak wisatawan. Terumbu karang meja dianggap cantik jika diduduki dan berpose di atasnya.

Di beberapa titik yang dulu bisa menjumpai ribuan ikan di antara terumbu karang, kini hanya menemukan ikan-ikan yang “manja”, terbiasa mencari makan karena pemberian roti oleh wisatawan yang snorkeling.

Kehadiran wisatawan ini juga mengubah cara pandang terhadap ritus selamatan laut. Jika dulu selamatan laut adalah tradisi leluhur sebagai bentuk penghormatan terhadap laut, kini jadi tontontan yang laku dijual.

Pada 2016, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB, khusus menyediakan dana untuk kegiatan selamatan laut ini, dibungkus bahasa Festival Laut.

“Seharusnya ada garis jelas, mana tradisi sakral dan mana pariwisata,’’ kata Daeng Acok, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjoh.

Daeng Acok, beberapa kali didaulat jadi ketua panitia selamatan laut. Dia termasuk orang yang setuju jika selamatan laut itu harus menjadi tontonan wisatawan, tetapi banyak pembenahan di dalamnya. Mana wilayah yang bagus menjadi tontontan, mana wilayah sakral para sanro.

Termasuk masyarakat belajar melayani tamu dengan baik. Memberikan penjelasan yang benar tentang aspek budaya selamatan laut.

“Sekarang kan kacau, terutama ketika perang air. Semua disiram, sampi orang masuk dalam mobil,’’ katanya.

Daeng Acok, yang mendapat limpahan wisatawan, kini membuka usaha rumah makan tak jauh dari pesisir pantai. Warung kaki lima yang dulu hanya bisa dijumpai di pasar ikan Tanjung Luar, kini di beberapa sudut jalan mulai menggeliat.

Dia sadar, kehadiran banyak orang, akan mendatangkan uang. Dia juga sadar kedatangan mereka akan membawa masalah sampah dan tantangan kelestarian laut.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini