MENELUSURI RUMAH “GURU BANGSA”

MENELUSURI RUMAH “GURU BANGSA”
info gambar utama

SURABAYA – Kota yang terkenal dengan sejarahnya. Banyak sekali peninggalan sejarahnya salah satunya adalah rumah dari HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh perjuangan indonesia pada masa kolonialisme Belanda.Rumah HOS Tjokroaminoto ini terletak tepatnya di Jalan Peneleh Gg VII no. 29-30, Genteng, Surabaya.

Menurut Achmad Yanuar penjaga rumah ini, awalnya rumah ini adalah rumah dari seorang pedagang keturunan Tionghoa. Pada tahun 1907 mulailah ditinggali oleh HOS Tjokroaminoto beserta istri dan 5 orang anaknya.

Selain itu rumah tersebut menjadi tempat lahirnya para tokoh besar pada masa perjuangan. Diantaranya yaitu Musso, Kartosuwirjo, Alimin, Soemaun dan Soekarno yang pernah tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Bukan hanya tinggal mereka juga belajar politik,agama dan ideologi-ideologi bangsa luar dari seorang HOS Tjokroaminoto, maka dari itu HOS Tjokroaminoto digelari dengan sebutan ”GURU BANGSA”.

Rumah tersebut mulai dilakukan pemugaran pada awal tahun 2000 dan mulai dikunjungi oleh umum pada tahun 2004. Pemugaran dilakuakan yaitu dengan menghilangkan sekat buatan yang ada di ruang tengah dan memperbaiki pagar kayu di depan rumah.Rumah tersebut adalah rumah sederhana dan awal masuk kerumah tersebut kalian akan disambut dengan foto-foto bersejarah juga suasana ruang tamu dengan arsitektur antik.

Masuk lebih kedalam kalian dapat melihat sendiri beberapa peninggalan HOS Tjokroaminoto seperti buku-buku dan pakaian beliau. Sedangkan di kamar beliau masih ada ranjang yang biasa digunakan oleh beliau beserta perabotan yang lain. Ada lagi satu ruangan di loteng yang menjadi kamar tempat tinggal Soekarno muda. Ada tikar dan meja bejar juga lampu minyak yang terletak pada ruangan yang tidak seberapa besar dan cukup pengap dan tertutup.

Achmad Yanuar selaku penjaga rumah tersebut menjelaskan, keadaan rumah menurut autobiografi Soekarno. Rumah tersebut disekat menjadi 10 kamar kecil-kecil termasuk di loteng dan menurut autobigrafi Soekarno kamarnya itu tidak ada jendela dan pencahayaan yang cukup, siang hari pun harus menghidupkan lampu minyak. Melihat dari kondisi dan keadaan rumah juga dari autobiografi Soekarno jadi diperkirakan kamar Soekarno berada di kamar loteng.

Pada saat sebelum dipugar lantai rumah hanya terbuat dari plesteran semen,setelah adanya pemugaran dari pihak pemerintah Kota Surabaya lantai yang ada di rumah tersebut sudah dipasang ubin.

”Dulu saat masih ditinggali oleh HOS Tjokroaminoto ada halaman di belakang rumah, tapi sekarang sudah ada bangunan lain di belakang rumah,” kata Achmad Yanuar, Kamis (8/2/2018).

Rumah Museum HOS Tjokroaminoto ini telah di resmikan baru-baru saja pada tanggal 27 November 2017 oleh Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini. Rumah HOS Tjokroaminoto ini buka setiap hari Selasa-Minggu, jam 09.00-16.00.

Jika ingin melihat peninggalan bersejarah di Kota Surabaya yang lekat dengan masa kelam Bangsa Indonesia pada zaman dahulu dan juga lekat akan semangat perjuangan para tokoh besar Indonesia pada zaman dahulu, mari datang ke Museum Rumah HOS Tjokroaminoto.[ARB]


Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini