Apa yang terpikir pertama kali ketika Anda mendengar kalimat 1000 hari ?  Atau 1000 hari terbaik ? Kalau dalam keseharian, 1000 hari di daerah saya biasanya adalah acara rangkaian terakhir (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1,000 hari) doa bersama untuk mengenang berpulangnya seseorang.

Pertama kali saya membaca kalimat ini di Orilla Cafe Dan Resto, di acara #Kopdar 1000 hari terbaik. Saat pertama kali membacanya, saya berpikir akan ada sebuah program atau gerakan untuk 1000 hari ke depan di mulai dari tanggal 3 November 2018 dimana Kopdar 1000 hari Terbaik diadakan di kota kelahiran saya, Bondowoso.

Bondowoso menjadi kota ke 2 di Jawa Timur sebagai kota yang dipilih untuk Kopdar ini. Sempat terbersit rasa bangga dan bahagia mengetahui info ini. Sebelum akhirnya berganti rasa miris dan prihatin. Bondowoso, bukan terpilih karena prestasinya, namun justru karena menjadi kota peringkat pertama di Jawa Timur untuk kasus stunting.  Data bulan Januari 2018 yaitu sebanyak 340 balita atau 38,20 % (Data bulan April 2018).

Stunting

Stunting adalah sebuah kosakata baru bagi saya yang selama ini berkutat "hanya" seputaran permasalahan emosi, hipnoterapi, healing, parenting dan pemberdayaandiri. Mungkin karena 3 anak kami tidak ada yang usia balita, sehingga saya baru mengetahui tentang hal stunting. Meski saya rasa, saya termasuk cukup sering googling berbagai pengetahuan bila dibanding dengan kebanyakan perempuan di kota kecil ini.

Saya juga setidaknya sebulan sekali mengunjungi toko buku di kota sebelah. Kalau seandainya perkiraan saya benar, maka betapa masih sangat banyak perempuan di kota tape ini yang juga belum pernah mendengar kata stunting, seperti saya kemarin.

Perempuan dan Pekerjaan Rumahnya

Sebagai seorang perempuan yang bertubuh pendek, pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah: Apakah saya juga termasuk stunting ? Bapak dan Ibu saya juga tidak tergolong berpostur tinggi. Bagaimana dengan anak anak yang Bapak Ibunya berbadan tinghi besr dan anaknya "kecil" ? Ternyata stunting tidak hanya sekedar berbadan pendek. Banyak ciri ciri lain yang membuat seorang anak masuk katagori stunting.

Berkesempatan untuk mengikuti rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo bekerjasama dengan GNFI (Good News From Indonesia) seperti ini bagi saya adalah sebuah keberuntungan. Saya bisa mendapatkan undangan dari seorang teman baik sekaligus Guru Blogger, Praktisi dan Penulis Buku Food Combining, Mbak Widyanti Yuliandari. Kebetulan yang kebetulan kami sudah saling kenal beberapa tahun ini, lalu ketika Beliau diminta untuk mencari blogger di Bondowoso, untuk diundang ke acara ini ternyata bukan perkara mudah. Saya berterima kasih untuk kesempatan baik ini.

Seringkali saat pemateri sharing, saya merinding. Rasa haru dan ingin menangis juga saya rasakan hampir sepanjang acara. Seperti juga seorang perempuan yang berkesempatan mengajukan pertanyaan, sambil terisak menangis. Materi yang disampaikan dengan riang, menarik dan ringan oleh Mbak Putri, @AdhityaPutri, seorang influencer dari Jakarta menyadarkan banyak hal bahwa PR kita banyak. Materi yang isinya bermanfaat terutama untuk generasi muda yang akan mencari pasangan dan atau akan mempunyai buah hati.

Mbak Putri memberikan tips untuk pertanyaan seorang remaja, yang kegiatan positifnya dirasakan tidak mendapat respon baik dari pemerintah atau orang lain. Kata Mbak Putri, kembali ke niat saat melakukannya. Jangan meniatkan untuk mendapatkan apresiasi atau dukungan, karena besar kemungkinan niat seperti ini juga akan menuai haters. Terus berbuat baik, berbagi info baik, meski hanya sedikit yang mendengarkan. Meski ada yang tidak sepaham dan menolak. Pikirkan hal terburuk apa yang akan terjadi bila kita memilih berhenti berbuat dan berbagi kebaikan hanya karena penolakan atau tidak adanya dukungan orang lain.  Sel sel tubuh saya seolah ikut mendengarkan penjelasan ini dan mereka meresponnya. Saya merinding.

Betapa pekerjaan rumah kita banyak. Untuk sharing, pada generasi yang lebih muda agar mereka benar benar mempersiapkan calon anaknya. Bahkan mempersiapkan

Bahkan mempersiapkan calon pasangannya. Di sini, saya teringat kalimat dari Pak Adi W Gunawan, Guru Hipnoterapi saya. "Salah satu kunci kesuksesan hidup adalah menemukan pasangan yang tepat" .
"Lebih baik, ketika berkenalan dengan calon pasangan untuk tidak sekedar tertawa dan memvahas hal remeh temeh, tapi membahas tentang rencana masa depan, pengasuhan anak dan sebagainya", saran Mbak Putri.

Materi yang disampaikan oleh Prof. DR. Merryana Adrian, SKM, M.KES dari FKM Unair padat dengan pengetahuan ilmiah tentang apa dan bagaimana terjadinya stunting. Yang saya catat, sebagai perempuan, sebagai seorang ibu, sudah selayaknya bila kita lebih dekat secara fisik dan emosional pada anak-anak kita dibandingkan suami. Anak anak pernah tinggal dalam rahim selama kurang lebih 9 bulan. Lalu selama kurang lebih 2 tahun menyusu pada ibunya.

Maka wajar, bila PR kita sebagai perempuan juga banyak. Untuk menyampaikan info baik ini ke lebih banyak orang, ke masyarakat luas, terutama warga Bondowoso. Untuk kemudian kita saling bergandengan tangan dengan siapapun yang bersedia dengan sukacita, membangun kesadaran yang lebih baik tentang banyak hal baik.

Materi dari pembicara pertama dari GNFI, Mas Aji, ini yang membuat saya sangat terharu dan ingin menangis. Beliau memutarkan sebuah video berdurasi pendek tentang Indonesia Digdaya.

Bahwa masa sekarang ini adalah sebuah masa dimana Indonesia bisa kembali menjadi sebuah negara digdaya. Merupakan masa pengulangan karakter pemuda seperti masa kepemimpinan di masa Presiden Soekarno. Sebuah bonus kesempatan baik untuk kondisi Baby Boomers yang sedang kita alami. Bila Presiden Soekarno berkata perlu 10 pemuda untuk mengguncang dunia, saat ini Indonesia punya 170 juta generasi usia muda.

Sebuah kondisi yang perlu disyukuri dan dikawal agar bisa mendapat keuntungan yang terbaik dan bukan justru menjadi sebuah batu sandungan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Saya bersyukur, saya berdoa, saya berharap akan ada lagi kelanjutan dari acara Kopdar 1000 hari terbaik di Bondowoso. Agar 1000 hari setelah ini dan selanjutnya Bondowoso akan semakin dikenal karena prestasi baiknya, karena generasi mudanya yang berjaya. Semoga semakin banyak perempuan yang makin berdaya mengerjakan PR - PR nya. Mungkin tidak akan ada habisnya, tapi setidaknya bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih banyak memberikan manfaat dengan terus berbagi hal baik.

Catatan :

Saya sengaja tidak mencantumkan dengan jelas tentang apa dan bagaimana stunting. Saya berharap pembaca untuk lebih berdaya dan tergerak untuk menggali informasi lebih dalam dengan memanfaatkan informasi dari internet.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu